30 Nov 2014

Pengaruh Hutang terhadap Kinerja Perusahaan

,
Di saat sekarang ini rasanya sulit untuk melepaskan apa yang dinamakan hutang. Bahkan cicilan KPR, motor dan lain-lain untuk kita sendiri itu juga merupakan hutang. Pembayaran dilakukan di depan oleh pihak Bank ke developer/distributor, lalu kita mencicil dengan bunga yang di tetapkan.

So, jika untuk diri sendiri saja sulit apalagi untuk perusahaan-perusahaan besar yang terdaftar di BEI dimana kapitalisasi pasarnya lebih dari sekedar angka trilyun.

Definisi Tujuan Hutang

Hutang secara tujuan dapat di bagi menjadi 2 bagian: Hutang Produktif dan Hutang Konsumtif Hutang akan menjadi produktif apabila pertama, kita gunakan sebagai pembelian aset, contohnya rumah, tanah ataupun ruko dimana nilai asetnya terus bertambah, kedua apabila kita gunakan sebagai pembelian aset operasional, dimana aset tersebut kita gunakan untuk mendapatkan hasil atas pekerjaan, contohnya cicilan mobil, motor ataupun laptop / komputer..

Begitu pula yang di terapkan kepada perusahaan. Hutang produktif apabila penggunaan hutang digunakan perusahaan untuk berekspansi yang berhubungan dengan aset, contohnya Garuda Indonesia menggunakan pinjaman bank sebagai modal untuk pembelian 10 Airbus A350 sebagai bagian rencana penambahan penerbangan ke timur tengah dan Eropa, lalu Krakatau Steel yang menggunakan dana obligasi sebagai bagian pembuatan pabrik besi baru yang lebih besar, dan lain-lain. Sangat jarang dan kurang masuk akal jika terdapat hutang non-produktif di dalam perusahaan.

Bencana akibat Hutang

Sekilas memang tampak baik jika melihat definisinya. Masalah yang terjadi adalah ketika kinerja perusahaan tersebut tidak sesuai ekspektasi dibanding neraca hutangnya, dan menjadi bencana ketika perusahaan bukannya fokus memperbaiki kinerja dan membayar hutang namun fokus kepada mencari hutangan baru yang tidak jelas peruntukannya. 

Contoh paling nyata tentu saja adalah Bakrie Grup, salah satu perusahaan idolanya: Bumi Resources pada tahun 2009 mengalami penurunan kinerja dari laba bersih 7 trilyun di 2008 menjadi 1,9 trilyun di 2009, anehnya hutang jangka panjang (pinjaman dan obligasi) meningkat dari 14 trilyun menjadi 33 trilyun dan angka ini terus bertambah hingga saat ini sebesar 54 trilyun, Asetnya sendiri hanya di kisaran 80 trilyun, itupun bukan aset lancar melainkan berbentuk tambang. Hutang sebesar itu untuk membayangkan bayar bunganya saja sudah bikin sakit perut. 

Yang terbaru adalah kasus Trada Maritim (TRAM) dimana sahamnya di suspend di karenakan laporan gagal bayar (default)  yang di ajukan International Finance Corporation (IFC) atas hutang senilai 30.57 juta USD dan tentu plus tunggakan bunganya. 

Itulah mengapa sebelum menganalisa nilai saham, penulis selalu mengingatkan untuk melihat posisi hutangnya, dalam hal ini DER. TRAM dan BUMI adalah contoh buruk dimana rasio hutang melebihi ekuitas modalnya. 

Studi Kasus

Berikut ini rangkuman kinerja keseluruhan emiten di BEI yang memiliki DER lebih dari 1 berbanding EPS.


Bisa terlihat bahwa secara earning perusahaan per saham,  dimana perusahaan yang bisa mengurangi hutangnya cenderung memiliki laba yang meningkat. 

Ini juga tercermin di dalam % return yang dihasilkan antara perusahaan dengan hutang yang menumpuk berbanding perusahaan yang lebih efisien di dalam menggunakan hutangnya. Penulis menggunakan data emiten yang masuk LQ45 pada tahun 2008 ketika krisis terjadi dan pada tahun 2014 hari ini.

Warna merah: Contoh perusahaan dengan DER > 1 dan terus menambah hutang dengan return yang buruk

Penulis menggunakan compound debt dan compund return untuk meminimalkan volatilitas / gejolak yang terjadi selama 6 tahun dengan asumsi perusahaan berjalan dengan normal dan kontinu. Sehingga didapat hasil bahwa perusahaan yang cenderung memiliki hutang yang melebihi modal  dan terus menambah hutang (DER 2008 >1, dan Compound DER  = positif atau >10%) memiliki % return yang buruk bahkan saham di suspend = lihat BLTA, Bakrie Grup dan sejenisnya.

Bandingkan dengan kinerja UNTR ataupun UNVR ataupun PTBA. So? Terlihat jelas mana perusahaan yang sahamnya mampu bangkit sejak krisis 2008 lalu hingga saat ini. Hanya sedikit perusahaan yang bergerak dengan hutang yang bertambah. Catatan: Hutang yang bertambah terkadang tidak jelek juga, selama masih dalam kategori wajar: Contoh: BBRI, ASII

Disini bisa terlihat mana perusahaan yang fokus menggarap bisnisnya dengan hutang yang produktif dan berusaha untuk melakukan ekspansi bisnis dengan menggunakan modal sendiri dibanding mana perusahaan yang cenderung hanya berhutang di dalam bisnis tanpa pernah berusaha untuk mengurangi hutangnya  (ini kegagalan utama grup Bakrie) 

Salam Investasi


Logika DER = Bayangkan anda punya uang di bank 10 juta rupiah, untuk membeli franchise bakmi anda butuh 40 juta rupiah yang 30 juta sisanya bisa anda dapatkan dari teman anda, jatuh tempo dalam 3 bulan dengan bunga 2%, tenyata bakmi anda tidak laku namun anda tetap harus membayar hutang anda bukan? plus bunganya yang harus anda bayar adalah 30.6 juta. Sedangkan pemasukan anda hanya 1/4 nya dari total hutang. Karena teman anda terus mendesak karena dananya ingin dipakai maka terpaksa anda harus menjual aset anda (mungkin gadai rumah). 

Tercatat DER anda adalah = 30 / 10 = 3x ekuitas anda. Apa yang terjadi jika anda gagal bayar? Jual aset.

NB: Penulis tidak menganggap Restrukturisasi Hutang menjadi jawaban, karena hutang tetaplah hutang, istilah itu artinya sama dengan: Memundurkan waktu kapan bayar Hutang.
Read more →

27 Nov 2014

Peluang Saham LSIP (London Sumatera Plantation)

,
Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya: Belajar tentang CPO 

London Sumatera Plantation merupakan perusahaan pengolahan perkebunan sawit tertua di Indonesia, didirikan sejak tahun 1906 di Sumatera sebagai kepanjangan tangan dari perusahaan investasi perkebunan asal London, Inggris Harrison & Crossfield Plc. Didirikan dengan nama asli PT Perkebunan London-Sumatera Indonesia, saat ini emiten berkode LSIP ini telah memiliki 38 lahan sawit dan 14 lahan plasma dengan lebih dari 100 ribu hektar lahan sawit, karet, teh dan coklat di seluruh Indonesia. Aset LSIP hanya kalah oleh Astra Agro Lestari (AALI) di posisi nomor 1 di Indonesia.


LSIP menyita perhatian publik ketika pada tahun 2007 Salim Grup (Indofood) melalui anak usahanya, Salim Ivomas Pratama (SIMP) mengakuisisi saham LSIP sebanyak 64% yang menjadikan Salim Gup sebagai pemilik utama sekaligus pengendali. Ini menjadi keuntungan banyak bagi LSIP, karena dengan bergabungnya LSIP dengan Indofood maka LSIP sudah memiliki konsumen tetap, sebab SIMP adalah perusahaan pengolah kelapa sawit menjadi barang konsumsi langsung, antara lain: minyak goreng (anda semua pasti kenal dengan Bimoli),  margarin Simas dan juga produk olahan lainnya yang membutuhkan minyak nabati (termasuk minyak sayur unutk campuran Indomie yang anda makan sehari-hari). Dan sebagai catatan, sebagian besar proses produksi sudah berjalan semenjak era orde baru (1970an).

Bukti bahwa SIMP adalah konsumen tetap ialah hingga kini di dalam laporan keuangan, LSIP menjual hampir 90% hasil produknya ke SIMP dan sisanya ke PT Musim Mas, sehingga saat ini manajemen LSIP tinggal berpikir bagaimana meningkatkan produktifitas sawit, memperbesar lahan dan meningkatkan jumlah produksi ekspor.

Inilah salah satu mengapa kami lebih memilih menganalisa LSIP ketimbang emiten sawit lainnya. Selain terbesar nomor dua dan tertua, LSIP memiliki bisnis yang mudah dipahami.

Kinerja

Sebagai emiten satu sektor dan dengan dukungan manajemen yang sangat kuat, LSIP betul-betul fokus di dalam menggarap bisnis hulu perkebunan sawit, meskipun ada juga karet, kakao dll namun sawit adalah yang utama.
Secara kinerja, pendapatan LSIP meningkat 32.8% dari penjualan produk sawit, meskipun menurun 19.8% pada produk karet namun ini diikuti peningkatan laba bersih dari 442.1 milyar pada September 2013 menjadi 698 milyar pada September 2014 atau naik signifikan sebanyak 58.2%.

Angka ini cukup mengejutkan sebab dari sisi harga CPO dunia masih mengalami penurunan sebesar minus 11% dari Oktober 2013 dari 763 USD menjadi 673 USD per metric ton, lagipula dari sisi volume produksi sawit LSIP pun cukup stagnan, hanya di kisaran 327 ribu ton hingga kuartal 3 2014. Memang produksi sawit kernel (PK) meningkat tapi kontribusinya hanya dibawah 5%.

Sumber: Lonsum financial highlight 2014
Inilah mengapa kami mulai menganalisa kinerja LSIP secara mendalam, karena LSIP selama ini dikenal performa saham nya mengikuti naik turunnya harga saham dunia. Tetapi ternyata ini tidak lagi diikuti oleh perkembangan kinerjanya belakangan ini, alias LSIP tetap bisa meningkatkan labanya (bahkan signifikan) meskipun harga CPO dunia sedang turun.


Atas: Harga CPO dunia. Bawah: Harga saham LSIP yang ekuivalen
Perhatikan grafik yang dilingkari, bukankah harga CPO dunia ekuivalen dengan harga saham LSIP? So, di tengah harga CPO yang turun saat ini tetapi LSIP tetap menunjukkan laba yang tinggi, ini lebih disebabkan karena LSIP jelas mengurangi volume ekspor dimana supply dialihkan lebih banyak kepada konsumen utamanya, yaitu SIMP dengan harga beli yang lebih baik dari harga pasar dunia (inilah keuntungan menjadi Indofood grup).



Rata-rata ROE LSIP selama 6 tahun terakhir tercatat di angka 18.8% dengan grafik yang lumayan stabil alias tetap di atas angka 10% per tahun.


Melihat grafik di atas yang harus kita cermati adalah ROTC ekuivalen dengan ROE. Artinya LSIP berkinerja baik dan ekspansif tanpa menggunakan hutang!. Terlihat jelas dari nilai DER sebesar nol kali.

Performa LSIP tidak hanya sampai disitu, selain tanpa hutang, LSIP mencatatkan angka free cash flow yang positif, ini disebabkan karena penerimaan kas dari pelanggan yang meningkat signifikan.

Melihat volume produksi yang sebetulnya sama saja dengan tahun lalu artinya usaha LSIP untuk menggenjot pembayaran cash dari SIMP berhasil, dengan mengalokasikan volume ekspor tadi, LSIP sudah berhasil untuk mengecilkan resiko penundaan pembayaran dari importir dan yang terpenting adalah ketergantungan dari harga CPO dunia mulai bisa dikurangi. Untuk itu maka usaha LSIP ini patut di acungi jempol.

Data Statistik LSIP dengan nilai sangat baik

 

Valuasi Saham dan Langkah Turnaround

Dengan nilai PER saat ini yang sebesar 14.73x dan PBV yang sebesar 1.96x (di harga 2010 rupiah/saham) dibandingkan dengan emiten besar sejenis dan dengan kinerja yang terus mencetak laba, harga saham LSIP sudah cukup murah, walapun tidak bisa di katakan betul-betul murah karena selama ini laba LSIP mengalami naik turun (seperti biasanya emiten komoditas) mengikuti harga CPO dunia meskipun tidak sepenuhnya.

Dengan rata-rata pertumbuhan yang 'hanya' 7%, jelas LSIP berada di bawah BI rate, tapi menilai emiten komoditas tidak bisa langsung menghitungnya sesederhana itu. Seperti yang sudah ditulis di atas, LSIP tetap membukukan kenaikan laba ditengah melorotnya harga sawit dunia karena berhasil mengalihkan konsumsi ekspor menjadi konsumsi lokal dan tetap berbisnis tanpa hutang. Inilah yang bisa penulis sebut termasuk perusahaan dalam titik Turn-Around, meskipun langkah ini tak bisa dilepaskan dari kebijakan Indofood grup sebagai induk, setidaknya mampu tetap membawa LSIP dalam tracknya.

Bagi pecinta sektor komoditas, LSIP adalah salah satu saham komoditas yang tidak bisa di lewatkan apalagi harga sawit cenderung berpotensi rebound, karena jika harga sawit kembali membaik LSIP adalah salah satu emiten yang kembali di untungkan, pun jelas-jelas nama London Sumatera sudah kadung berkibar di Eropa dan India. Ditambah lagi dengan langkah pemerintah menghapus pajak bea ekspor per Oktober 2014 lalu.

Kesimpulannya, jika dikaitkan dengan harga CPO dunia LSIP memiliki pelanggan utama yang terus menjanjikan, tinggal kapan waktu yang tepat untuk kembali melakukan ekspor. Jikapun harga CPO masih belum membaik, LSIP masih punya konsumen tetap dalam negeri.

So, harga CPO dunia bagaimanapun jika langkah bisnis LSIP ini terus diterapkan maka tingkat keberhasilan sebagai perusahaan yang turnaround  akan semakin terpenuhi dan saham LSIP kembali menggeliat

Salam Investasi 
Read more →

24 Nov 2014

Belajar tentang Crude Palm Oil (CPO)

,
Crude Palm Oil (CPO) atau dalam bahasa Indonesia berarti Minyak Kelapa Sawit adalah suatu komoditas yang unik di Indonesia, unik karena kelapa sawit saat ini merupakan komoditas andalan dimana Indonesia menjadi produsen terbesar kelapa sawit. Tetapi ironisnya justru Indonesia bukan dalam posisi mengendalikan harga sawit dunia melainkan harga sawit naik turun mengikuti harga dunia yang memakai harga Ringgit Malaysia atau bahkan harga di Rotterdam, Belanda.

Saat ini Indonesia merupakan produsen terbesar kelapa sawit di dunia dengan menguasai lebih dari  50% pasar.
Sumber: Indexmundi 2014 (diolah)


Kelapa Sawit sendiri merupakan produk komoditas andalan Indonesia sepanjang 2002-2013, menyalip kelapa sebagai komoditas utama dengan pertumbuhan rata-rata 13.4% pertahun. Peningkatan terbesar adalah pada tahun 2001 dan 2002 yang disebut juga dengan palm booming karena meningkat sebesar 42%. pertahun

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Tentang Sawit

Kelapa sawit (Elaeis Guineesis Jacq) bukanlah tanaman asli Indonesia melainkan masuk ke Indonesia di bawa oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848. Pada tahun 1911 di mulailah budidaya kelapa sawit di Deli (pantai timur Sumatera) dan di Aceh oleh seorang Belgia bernama Adrien Hallet. Bertepatan terjadinya revolusi industri di Eropa, dimana banyak sekali membutuhkan asupan minyak nabati untuk menjalankan mesin-mesin dan juga keperluan memasak dengan cara menggoreng. Mungkin karena di bawa dari Belanda inilah maka Belanda berhak ikut menentukan harga sawit dunia. Entahlah penyebab pastinya.

Kelapa sawit merupakan bahan baku utama pembuat minyak goreng, margarin, sabun, kosmetik bahkan kabel hingga industri farmasi, ini di sebabkan oleh keunggulan sifatnya yang tahan terhadap oksidasi dengan tekanan tinggi dan mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya. Bukan hanya itu saja, yang paling menarik adalah tidak ada sampah di dalam proses produksi minyak sawit. Sisa produksinya di antaranya serat, cangkang, batang, tandan dan pelepah dapat diolah menjadi kompos dan yang sudah di gunakan sebagai sumber energi terbarukan, yaitu Biodiesel. 


Dari beragam keunggulan itulah mengapa sawit menjadi komoditas perkebunan yang paling menjanjikan di seluruh dunia. Terutama negara dengan konsumsi minyak nabati terbesar, yaitu Cina dan India (dua negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia).

Proses Bisnis dan Produksi Minyak Sawit

Secara sederhana, proses bisnis di bagi menjadi 2, yaitu proses hulu dimana proses bisnis meliputi penanaman bibit unggul kemudian menjadi Tandan Buah Segar (TBS). Dan proses hilir yang meliputi pengolahan TBS menjadi minyak kelapa sawit dan juga turunannya seperti minyak goreng, kosmetik dll.


Proses produksi kelapa sawit menjadi CPO dapat dilihat pada gambar diatas. Dari proses produksi, setiap 1 ton TBS rata-rata menghasilkan 140 - 220 kg CPO (sekitar 22.5% dari setiap 100% TBS) yang siap di distribusi ke pabrik pengolahan lanjutan ataupun siap ekspor. Dari total kebutuhan, hanya 10 juta ton atau sekitar 30% dari total produksi yang dimanfaatkan di dalam negeri, sedangkan sisanya di ekspor ke luar negeri, sehingga potensi Indonesia di dalam mengendalikan harga sawit dunia begitu besar.
Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)
Besaran produksi minyak dan lemak dunia yang mencapai 236 juta ton ditopang oleh produksi minyak kelapa sawit. Dalam presentasi Thomas Mielke, Analis Oilworld yang berjudul "Oil World Supply and Demand Forecast for the year 2020" memperkirakan bahwa hasil panen minyak kelapa sawit atau CPO sebesar 78 juta ton. Bayangkan jika 50% kebutuhannya di supply dari Indonesia, apakah Indonesia tidak kaya?. Lalu bagaimana kesiapan Indonesia?

Kondisi Kelapa Sawit di Indonesia

Hitung-hitungan kasar, jika di tahun 2020 kebutuhan dunia yang di topang dari Indonesia sebesar 39 juta ton CPO maka dibutuhkan sekitar 39 juta : 22.5% = 174 juta ton TBS. Jika 1 ha lahan sawit menghasilkan maksimal saat ini sebesar 6 ton/ha TBS, maka di 2020 dibutuhkan sedikitnya 29 juta hektar lahan sawit. Saat ini Indonesia baru memiliki 10,2 juta hektar lahan sawit yang tersebar di beberapa provinsi dan potensi terbesar ada pada provinsi Riau.

Sumber: Badan Pusat Statistik
Jika angka Thomas Mielke tadi benar, artinya Indonesia masih memerlukan tambahan lahan sebesar 19 juta hektar lagi yang sebagian besar masih harus dilakukan perizinan, pembebasan lahan, persiapan pembibitan hingga masuk dalam kategori Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) atau minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. 

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah)

Memang, jika melihat grafik di atas perkebunan kelapa sawit tidak hanya di kuasai oleh perusahaan raksasa saja sepeti Sinarmas Agro ataupun Salim Ivomas Grup, tapi juga di dukung sepenuhnya oleh perkebunan rakyat, karena rakyat semakin sadar akan potensi keuntungan dari tanaman sawit. 

Secara angka di atas, jika di rata-rata maka pertumbuhan lahan sawit selama 13 tahun terakhir sebesar 20.85%. Jika saat ini lahan sawit sebesar 10.2 juta ton, maka dengan asumsi pertumbuhan 20.85% maka di tahun 2020, Indonesia bisa memiliki lahan sawit sebesar 39 juta hektar (angka yang fantastis jika digarap serius).   

Dengan kenaikan grafik yang begitu besar, tentunya potensi sawit akan sangat meningkatkan Produk Domestik Bruto Indonesia itu sendiri.

Sumber: Badan Pusat Statistik (diolah) 
Terlihat bahwa tanaman perkebunan (sawit terbesar) memiliki posisi yang penting setelah perikanan dalam menentukan laju pertumbuhan PDB Indonesia, bandingkan dengan minyak dan gas bumi yang negatif.

Kondisi harga Sawit Dunia

Saat ini kondisi global sawit dunia memang sedang lesu, pokok utamanya adalah berkurangnya permintaan kelapa sawit dari dua negara utama pengimpor sawit yaitu India dan China. Jumlah ekspor ke China menurun drastis dari 189 ribu ton menjadi hanya 138 ribu ton, memang banyak yang mengatakan bahwa ini dikarenakan kondisi ekonomi China yang sedang lesu. 

Tapi tidak berhenti sampai disitu, ekspor ke China yang turun drastis sebetulnya di imbangi oleh naiknya permintaan dari Negara Afrika, Eropa dan Amerika. Dari Afrika permintaan meningkat dari 102 ribu menjadi 175 ribu ton atau meningkat 71%, diikuti dari Amerika yang naik dari 26.5 ribu ton menjadi 37.3 ribu ton. Dari Eropa juga meningkat dari 381 ribu ton menjadi 408 ribu ton, India juga sebenarnya mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan dari 397 ribu ton menjadi 408 ribu ton. 

Well, jika di akumulasi, turunnya permintaan dari China sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan jumlah ekspor sawit, hal ini menguatkan analisa beberapa pihak bahwa sebetulnya harga sawit tidaklah bermasalah, harga sawit yang jatuh adalah akumulasi dari perekonomian China yang melesat terlalu tinggi dan cepat sehingga sekarang tibalah saatnya bernafas sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan taraf hidupnya. 

Lagipula agak aneh jika disebut saat ini China memberi pengaruh besar bagi ekspor sawit Indonesia, sedangkan nilai ekspor ke  China yang senilai  189 ribu ton lebih kecil berbanding nilai ekspor ke India senilai 397 ribu ton, bahkan berbanding ekspor ke Eropa senilai 381 ribu ton. Nilai ekspor ke China hanya 1/2 nya lebih.

Proyeksi Harga Sawit

Sawit, seperti kebanyakan barang komoditas lainnya, harga nya cenderung tidak beraturan dan sangat dipengaruhi oleh berita yang terjadi. Sehingga untuk menghadapai kondisi volatilitas tinggi seperti ini analisa teknikal kita perlukan dalam menganalisa dalam jangka panjang untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat dunia dan pola jangka pendek untuk persiapan terhadap berita yang muncul.

Pola harga kelapa sawit jangka panjang
Dalam jangka panjang 10 tahun, kelapa sawit tetap mengalami pola uptrend dengan beberapa koreksi:
Tahun 2008, ketika itu terjadi krisi ekonomi global dimana perekonomian Amerika anjlok -10%, kegiatan ekspor nyaris terhenti disusul krisis pangan dan tingkat suku bunga mencapai 9.5%. Apa yang terjadi dengan ekspor sawit? Volume ekspor sawit justru meningkat secara rata-rata 22.10%


Begitupula ketika terjadi koreksi tahun 2013 yang sebagian besar di pengaruhi kondisi global namun volume ekspor sawit tetap meningkat.  Dengan kata lain, kebutuhan dunia terhadap kelapa sawit tetaplah tinggi walapun bermunculan sumber minyak nabati lain seperti bunga matahari, dll. 

Ini dikarenakan beberapa keunggulan dari Minyak Sawit itu sendiri, di antaranya:
  1. Produktifitas tinggi, yaitu 3.74 ton/ha/tahun. Bandingkan dengan pesaing utama yaitu minyak kedele yang 0.38 ton/ha/thn atau minyak bunga matahari yang 0.48 ton/ha/thn.
  2. Minyak sawit mendominasi minyak nabati dunia sebagai minyak yang teraman. CODEX Alimentarius Commission (http://www.codexalimentarius.org/ ) telah menerbitkan Standart for Named Vegetables Oil dimana minyak sawit mendominasi hampir 52%.
  3. Minyak sawit memiliki potensi  aplikasi yang sangat luas. Ada 163 produk yang dihasilkan oleh CPO dan turunannya. 82% memiliki kegunaan terhadap pangan. Ini yang tidak dimiliki oleh minyak nabati lain.
  4. Minyak sawit memiliki dua fraksi utama: fraksi cair (Olein) dan Fraksi padat (Stearin). Olein digunakan sebagai bahan dasar minyak goreng ataupun campuran minyak kacang tanah. Sedangkan Stearin digunakan sebagai bahan pembuat mentega/margarin karena sifatnya yang padat pada suhu ruang, di Eropa stearing digunakan secara umum sebagai bahan pembuat butter ataupun campuran keju.
  5. Di Eropa, dengan pengolahan lanjutan minyak sawit digunakan sebagai campuran pembuatan coklat karena mengandung lemak special. Karakteristik ini juga yang tidak dimiliki oleh minyak nabati lainnya.
  6. CPO turunannya merupakan penghasil Bio-diesel = energi terbarukan. Hal inilah yang mutlak menjadikan CPO sumber energi masa depan.
  7. Minyak sawit merupakan sumber vitamin E spesial

Kesimpulan

Secara jangka panjang, minyak sawit (CPO) merupakan komoditas yang akan selalu dibutuhkan dalam konsumsi masyarakat dunia, terutama setelah kita melihat 7 keunggulan CPO dibanding minyak nabati lain. itulah mengapa secara teknikal pola uptrend terbentuk dalam 10 tahun yang menandakan bahwa CPO merupakan komoditas yang tetap potensial, apalagi untuk Indonesia yang merupakan produsen terbesar.

Tantangan pemerintah kedepan yang pertama ialah target mengembangkan 19 juta hektar lahan sawit siap pakai untuk menuju 2020, ditambah konsumsi turunan kelapa sawit sudah diaplikasi sebagai sumber energi terbarukan (bio-diesel) yang harus menjadi sektor andalan baru Indonesia. Yang kedua target pemerintah ialah menjadikan Indonesia sebagai pusat acuan harga sawit dunia, bukannya Malaysia.

Untuk itu, melihat koreksi yang terjadi kami melihat sebagai kesempatan untuk berinvestasi kembali di perusahaan sektor sawit yang potensial. Kami sudah melihat beberapa perusahaan sehat dan mapan sebagai calon emiten, dan tinggal menentukan waktu kapan entry di sektor ini. 

Meskipun di dalam tulisan ini kami menggunakan analisa Top-Down untuk analisa sektor. Namun analisa Down-Top tetap kami lakukan untuk pemilihan saham emiten (stock picking).

Salam Investasi

Read more →

18 Nov 2014

Wika Beton (WTON) Dan Prospek Infrastruktur Indonesia

,
Wika Beton (WTON) merupakan anak perusahaan dari Wijaya Karya (WIKA) yang khusus di bentuk sebagai penyedia material pekerjaan sipil dan infrastruktur seperti spun pile (PC Pile), beton pracetak untuk jalan raya / tol, perumahan, gedung, high-class project seperti proyek energi minyak dan gas, kelautan, jembatan dan juga rel kereta api.

Prospek Infrastuktur Indonesia

Berbicara tentang WTON maka tak bisa lepas dari rencana pemerintahan baru di era kabinet kerja saat ini dimana infrastruktur menjadi bagian pokok dari sembilan visi dan misi presiden Joko Widodo - Jusuf Kalla (baca: Misi Pemerintahan: Infrasturktur). Saat ini Indonesia masih berada pada posisi ke 8 dari 10 besar negara di kawasan Asia dari sisi infrastruktur.

Hal ini menimbulkan wacana untuk membangun infrastruktur secara komprehensif dan hal ini tertera di dalam visi dan misi kabinet kerja  Jokowi-JK sejak kampanye. Dimana  infrastruktur menjadi target prioritas.


Pada target pembangunan infrastruktur tahap 2 program MP3i, target infrastruktur di Indonesia mencapai total 856.5 milyar dollar AS pada 2030, naik 1024% dalam waktu 16 tahun atau sekitar 64% per tahun dan target terbesarnya ialah pada infrasturktur kereta api dan jalan.

Key Performance Indicator target Infrastruktur. Sumber: Data BAPPENAS
Dari tabel di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa target kabinet ke depan fokus pada pembenahan infrastruktur jalan dan kereta api. Dimana target pembangunan jalan raya nasional (termasuk tol) sepanjang 5200 km dengan target waktu tempuh meningkat rata-rata menjadi 67 km/jam dari saat ini 38 km/jam. Dan pengembangan Kereta Api nasional dengan penambahan 1660 km jalur KA (sepanjang Jakarta - Surabaya bolak-balik ditambah Jakarta - Cirebon)

Dari target yang super-special ini, perusahaan-perusahaan infrastruktur khususnya BUMN akan menjadi tumpuan dari pemerintah dalam merealisasikan target kinerja nya. Sehingga perusahaan seperti BUMN dan anak usahanya di hadapkan pada prospek yang menjanjikan disamping juga persaingan yang luar biasa.

Bagaimana posisi WTON?

Pencapaian WTON hingga tahun 2013 lalu adalah yang terbaik di bidangnya dengan merebut market share produsen beton pracetak hingga 42% di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, WTON memiliki posisi di dalam persaingan usaha paling menjanjikan. Dengan kata lain: Market Leader.


Sebagai anak perusahaan dari salah satu perusahaan BUMN konstruksi terbaik, WTON memiliki jaringan yang luas dan sangat leluasa untuk melakukan berbagai ekspansi. Pada tahun 2014 ini saja, WTON sudah memiliki 7 pabrik di seluruh Indonesia dan akan terus naik (lihat tabel di bawah, masih ada status pabrik in progress di beberapa kota besar), di tambah dengan jalur distribusi di seluruh Indonesia

Kinerja

Melihat kinerjanya, harus di akui bahwa WTON adalah yang terbesar di bidangnya. Pendapatan terus meningkat selama 6 tahun terakhir (terbesar adalah konsumsi tiang pancang - spun pile) di ikuti oleh laba bersih. Kenaikan laba bersih nya sendiri sebetulnya tidak meningkat signifikan, hanya 15% dari periode yang sama tahun 2013. Namun laba WTON tercatat konsisten dengan rata-rata kenaikan laba 27% per tahun


Tiang pancang (spun pile) sebagai Kontribusi terbesar pendapatan WTON 

Yang menarik adalah konsistensi ROE di sekitar angka 28%, angka yang sangat baik. Dan hal ini di dukung oleh hutang yang cukup rendah. Tercatat DER pada saat tulisan ini dibuat berada pada angka 0.25x, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya hutang WTON adalah nol rupiah.

Grafik ROTC yang sejajar dengan ROE menandakan perusahaan ini tidak memiliki hutang

Kinerja yang cukup baik dan pertumbuhan yang konsisten sayang nya tidak di imbangi oleh perolehan arus kas operasi yang positif. Untuk periode ini, arus kas operasi WTON tercatat minus 184 milyar, di tambah lagi dengan ekspansi bisnisnya yang agresif menyebabkan free cash flow minus 484 milyar. Sekilas memang cukup mengkhawatirkan.

Namun meskipun lini bisnis WTON berbeda dengan perusahaan kontraktor semacam WIKA. WTON memiliki tipe cash flow yang kurang lebih sama dengan induknya yaitu arus kas operasi selalu positif di akhir tahun (WTON positif dalam 3 tahun terakhir).

Ini di akibatkan  time flow kontraktor, dimana hampir selalu terdapat lebih banyak pembayaran yang di terima oleh perusahaan di akhir tahun akibat milestone kontrak ataupun penundaan pembayaran dari pelanggan (biasanya perusahaan kontraktor BUMN mengejar habis-habisan pembayaran dari pelanggan di medio Oktober - Desember sebagai bahan laporan akhir tahun atau window dressing). So, kami tidak khawatir untuk laporan arus kas nya selama kinerjanya masih mencatat hasil yang bagus seperti sekarang.

Valuasi

PER WTON di harga terkahir tulisan ini dibuat berada pada angka 32.19x dan PBV di angka 4.52. Rasio ini menandakan harga saham WTON dihargai di harga premium (mahal), meskipun begitu saham WTON sudah naik luar biasa hampir 100% sejak IPOnya di awal tahun ini. Hal yang wajar karena WTON memang bukan perusahaan kelas teri, tapi market leader dalam bidangnya.

Kesimpulan

Dari sisi harga memang WTON bukanlah saham kelas bawah ataupun menengah, namun merupakan kelas atas, bahkan bisa di sejajarkan dengan induknya: WIKA. Sehingga cukup sulit untuk sekedar membayangkan saham WTON terdiskon banyak.

Bahkan di awal IPOnya, saham WTON yang saat itu di harga 590 pun sudah cukup mahal. Tapi ekspektasi pasar selalu lebih tinggi dan hari ini harga sahamnya menyentuh angka 1200.

Saham WTON yang meningkat luar biasa sejak IPO

Apakah saham WTON akan lebih tinggi lagi?

Dari prospek Infrastruktur yang telah di bahas di atas, saham WTON merupakan saham kategori growth investing dimana kita tidak melihat dari harga saat ini tapi lebih kepada prospek jauh ke depan. 

WTON merupakan produsen pendukung utama dalam sektor infrasturktur yang menjadi target utama pemerintah kedepan. Ditambah lagi dengan realisasi kenaikan harga bbm subsidi yang nantinya akan di alihkan kepada berbagai proyek infrastruktur, saham WTON adalah salah satu yang kami rekomendasi sebagai saham investasi jangka panjang.

Salam Investasi
Read more →

13 Nov 2014

ACE Hardware (ACES) - The Remarkable Retailer

,
Pada tulisan sebelumnya: Perusahaan Bernilai Lebih ACES disebut merupakan perusahaan retail yang sangat matang dengan konsep penjualan one stop shopping yang memuaskan konsumen, kelengkapan item yang di jual dan juga after-sales service yang cukup baik.

ACES yang merupakan anak perusahaan dari Kawan Lama Group saat ini memiliki 106 store di 28 kota dan 18 propinsi di Indonesia. Salah satunya yang berada di Alam Sutera merupakan gerai terbesar dunia dengan luas lebih dari 15.000 m2 dengan 75.000 sku. Dengan kapitalisasi pasar nya yang mencapai 15 trilyun, ACES menggungguli pesaingnya di sektor ritel diantaranya Hero Supermarket, Hypermart bahkan Mitra Adiperkasa sang penjual Starbucks. ACES hanya sedikit kalah dibanding Alfamart yang kapitalisasi nya mencapai 18 trilyun.


Kinerja

1. Revenue / Pendapatan, Ekuitas dan Laba Bersih
Pada laporan keuangan kuartal 3, ACES membukukan pendapatan total sebesar 3.3 trilyun, naik signifikan 20.25% dari periode yang lalu. Yang membuat ACES ini menarik dari dulu ialah gross marginnya yang mencapai 51% atau ACES bisa menjual barangnya sebesar 2x dari harga beli nya, dibandingkan dengan Hypermart atau MAPI yang hanya sebesar 15%-18% saja, dari segi laba ACES jelas jauh menggungguli. Lalu apa yang membuat laba ACES begitu besar?

Pertama adalah kekuatan merek, di tulisan sebelum nya:  Menilai MOAT penulis sudah membahas bagaimana kekuatan merek (brand awarness) bisa menjadi sangat vital. ACES memiliki merek andalan Krisbow, banyak sampai saat ini masyarakat yang menyangka bahwa Krisbow adalah merek USA, bukan..Krisbow merupakan merek hardware asli dari Kawan Lama sendiri yang mereka import dari Tiongkok. Hah? Tenang, Krisbow memang buatan asli Tiongkok namun produknya bukan merupakan produk kelas rendah malainkan produk unggulan. Krisbow sendiri singkatan dari Kristian Wibowo, founding father dari Kawan Lama. 

Selain Krisbow, ACES memiliki lini ekspansi yang sangat cepat to the point ke konsumen dimana hampir di setiap mall-mall besar Jakarta, gerai ACES selalu ada. Ini yang membuat brand image ACE Hardware di masyarakat adalah produk "berkelas". Keuntungan dari brand image ini ialah masyarakat menjadi maklum jika harga produk ACES berada di atas rata-rata pasar, walaupun memang ACES menambahkan service dan after-sales service yang professional.

Kedua adalah ACES membeli hampir 90% barang-barang nya dari Kawan Lama Grup (PT KLS, PT Krisbow dan PT KLI - "KL" merupakan singkatan dari "Kawan Lama") dengan kata lain ACES di ibaratkan seperti anak yang beli barang sama bapaknya sendiri (dan juga saudara sendiri) sehingga hampir tidak ada biaya yang "hilang keluar". Meskipun sebanyak 78% biaya pembelian adalah biaya import namun ACES tidak mengimport langsung produk-produknya malainkan melalui Kawan Lama, dimana Kawan Lama memiliki sendiri bisnis proses import nya sehingga biaya import cenderung stabil (perhatikan, bahwa Kawan Lama Grup memiliki lini bisnis hulu-hilir).

Grafik Revenue, Equity dan Net Income
2. ROE
ROE ACES rata-rata dala 6 tahun terakhir sebesar 26.41% dengan kondisi ROE cukup stabil (lihat grafik), angka ini tidak berbeda jauh dengan angka ROE kisaran rata-rata perusahaan retail.



3. Rasio Hutang (DER)
Kinerja ACES yang mumpuni ternyata tidak hanya sampai pada pertumbuhan laba saja, namun juga di dukung oleh perolehan hutang yang sangat kecil, DER tercatat hanya 0.03 dan tidak pernah lebih besar dari 0.04 sejak 2008. 2008 kebawah angka hutang malah nol. Fantastis jika kita membandingkan dengan ekspansi perusahaan. Satu-satunya hutang bank yang ada adalah fasilitas kredit lokal (rekening koran) dari BCA kepada anak perusahaan PT Toys Game Indonesia sebesar 23 milyar. Hutang ini bisa dianggap hanya sebagai pemanis hubungan dengan BCA saja.

4. Net Current Asset Value dan Free Cash Flow
Data yang di dapat dari laporan keuangan sebagai berikut:


ACES memiliki free cash flow yang positif di angka 154 milyar rupiah atau 213% dari belanja modal nya. Artinya ACES memiliki posisi keuangan yang kokoh, cukup untuk ber-ekspansi dimana dana 72 milyar bisa dimanfaatkan dengan baik untuk penambahan gerai secara agresif. 

Valuasi Saham

  1. PER saham ACES di harga Rp 820 adalah sebesar 28x. Di rasio ini ACES merupakan saham yang cukup mahal dibandingkan dengan PER IHSG yang sekitar 17x namun terendah jika kita bandingkan dengan saham retail lainnya, yang rata-rata bernilai 40x. Sehingga walaupun bagi kebanyakan orang saham ACES dinilai mahal, tapi secara kompetitif saham ACES tergolong murah.
  2. PBV saham ACES sebesar 6.44x, juga masih di bawah rata-rata PBV saham retail lainnya. Walaupun bukan bisa dibilang murah.
  3. Earning Predictability: Dari rata-rata pertumbuhan laba selama 6 tahun, ACES memiliki nilai EP sebesar 28,48%. Cukup signifikan untuk dianggap bahwa ACES merupakan perusahaan yang masih terus berkembang.
Hasil valuasi adalah berikut ini:

Klik untuk memperbesar

Harga yang mahal dan Tantangan IKEA

Harga yang cukup mahal dari ACES adalah tantangan tersendiri bagi para growth investor untuk berburu saham bertumbuh, yang harus diingat sampai saat ini ACES merupakan leader dalam bisnis retail terutama untuk hardware. 

Perlu di cermati pertumbuhan laba ACES kedepannya karena di harga saat ini 820 rupiah, laba ACES seharusnya sekurang-kurangnya sebesar 800 milyar (kuartal 3) namun saat ini labanya di kisaran 300 milyar sehingga nilai wajarnya hanya senilai 757 rupiah, ada selisih negatif 7,63% pada Margin of Safety. Tapi sekali lagi untuk sekelas ACES dengan pertubumbuhan masih sekitar 28% dan rasio masih dibawah rata-rata pasar, maka untuk pemburu growth investing, ACES sangat menarik dan menjadi target jangka panjang. Dengan catatan, laba ACES tetap bertumbuh dan tidak turun.

Tantangan ACES kedepannya tentunya dengan dibukanya gerai IKEA, IKEA adalah perusahaan retail asal Swedia yang khusus menjual furniture, perabotan dan juga perkakas yang saat ini lisensi nya dipegang oleh HERO, keunggulan yang paling mencolok dari IKEA adalah furniture yang bisa di custom, disesuaikan dengan kondisi rumah kita dan di buat asli oleh pengrajin kayu di Indonesia. 

Hal terakhir inilah yang merupakan tantangan khusus bagi ACES untuk bisa memberdayagunakan hasil karya anak negeri, di samping juga terus menancapkan brand awarness nya di Indonesia. Krisbow masih merupakan Top Brand untuk produk hardware dan ACE Hardware sendiri dalam kategori supermarket perkakas rumah dengan persentase signifikan.

Penulis masih sangat optimis dengan ACES, selain selalu puas sampai sekarang jika berbelanja di ACES (member), kondisi keuangan dan kinerja perusahaan masih sangat mumpuni, bahkan nilai Altman Z-Score adalah 4.79 dengan kata lain, ACES aman dari kebangkrutan.

Salam Investasi

Read more →

9 Nov 2014

THE INTELLIGENCE INVESTOR (ARE YOU?)

,
His thesis was the savings of only $15 per month invested in good common stocks - with dividen reinvested - would produce an estate of $80.000 in twenty years againts total contributions of only $3600.  

Satu paragraph yang tertulis pada halaman introduction di buku investasi paling berpengaruh di seluruh dunia: "The Intelligence Investor" karya maestro investasi Benjamin Graham yang telah menginspirasi ribuan, bahkan ratusan ribu orang untuk kembali mendalami strategi investasi yang memang terbukti paling ampuh selama puluhan tahun: Value Investing.

BAB PENDAHULUAN:

Pada bab pendahuluan, ada tiga hal mendasar yang menjadi tolak ukur strategi investasi Benjamin Graham yang sangat powerfull dan terbukti hampir pada seluruh dekade;
1. Bagaimana cara untuk bisa meminimalkan kemungkinan kerugian dalam jangka panjang;
2. Bagaimana cara untuk bisa memaksimalkan kemungkinan  mendapatkan keuntungan secara berkelanjutan;
3. Bagaimana cara untuk bisa mengontrol kebiasaan "menyakiti diri-sendiri" yang dapat menghambat para investor dalam mencapai potensi puncak.

Meminimalkan Kerugian

Sebagai contoh pada akhir dekade '90an dimana terjadi peningkatan dahsyat pada saham teknologi khususnya internet dot-com yang berkembang luar biasa: dua kali lipat setiap hari nya, sehingga saat itu uang nyata terlihat absurd. Tetapi pada tahun 2002 apa yang di khawatirkan para value investor menjadi nyata, terjadi overantusiasm pada dot-com dan telekomunikasi yang sudah tidak wajar sehingga pada akhirnya menjadi pemicu terjadinya gelembung dot-com yang kemudian menghasilkan jatuhnya harga saham lebih dari 95%.

Satu hal yang perlu dicatat pada komentar Jason Zweig yaitu "Sekali anda kehilangan 95% dari uang anda, anda harus menghasilkan kenaikan 1900% hanya untuk kembali ke titik awal".

Itulah mengapa Benjamin Graham sangat menekankan pada bagaimana cara meminimalkan resiko sebelum kita bisa mencapai puncak dalam berinvestasi, sebab sekali kita terperangkap dalam apa yang disebut Graham sebagai "pitfall" atau jebakan, maka sangat sulit untuk kita dapat keluar. 

Jebakan dalam hal ini adalah saham perusahaan yang terlihat bagus pada awalnya, sehingga semua orang berkata "inilah saatnya" tapi ternyata kinerja perusahaan tersebut tidak sebaik luar-nya dan apa yang para analis dengungkan yang pada kenyataannya perusahaan banyak terlibat hutang, banyak terjadi aksi korporasi yang terlalu berani sehingga nilai aksi korporasi tersebut melebihi aset dan bahkan ekuitasnya sehingga akhirnya membebani diri sendiri dan pada akhirnya nilai perusahaan tersebut hancur. Jika pada tahun 1950an Graham mengambil contoh perusahaan transportasi udara lalu Zweig pada tahun '90an dengan gelembung dot-com, maka dengan yakin penulis mengambil contoh perusahaan Bakrie.

Lalu, apakah salah untuk mengambil jenis saham yang di gandrungi? Letak kesalahan bukan pada saham yang di beli, namun pada si investor. Banyak investor yang mendulang sukses dengan membeli saham perusahaan jenis itu namun celakanya, sifat overoptimist mencelakai mereka, mereka tidak tahu kapan mereka keluar dan harus keluar hingga mereka sadar bahwa mereka sudah terkubur dan tak mungkin keluar.

Ada dua pelajaran moral yang disampaikan Graham disini:
1. Kepastian prospek pada pertumbuhan fisik dalam bisnis tidak mencerminkan kepastian profit pada investor.
2. Para ahli /analis tidak ada satupun yang memiliki jalur yang dapat dipertanggung-jawabkan untuk memilih dan berkonsentrasi pada saham perusahaan yang paling menjanjikan yang berada pada sektor yang paling menjanjikan sekalipun. 

Apakah anda seorang Intelligence Investor?

Pertanyaan yang kembali ke diri kita masing-masing. Zweig dalam komentarnya memberi contoh tentang Sir Issac Newton, ilmuwan hebat yang menemukan gaya grafitasi dan menjadi salah satu ilmuwan terbaik abad 20, berspekulasi dengan menaruh uangnya dalam jumlah besar ke salah satu saham perusahaan yang sedang meroket: South Sea Company pada tahun 1720. Pada awalnya Newton mengantongi keuntungan 100% atau sebesar 7000 poundsterling, namun overoptimist mengakibatkan kerugian fatal hingga sebesar 27,000 poundsterling di tahun berikutnya.

Satu contoh lainnya ialah tentang Long-Term Capital Management yang di gawangi oleh hedge-fund professional John W. Meriwether dan dua tokoh penerima nobel dalam bidang Economic Sciences: Myron Scholes dan Robert C. Merton. Dimana pada tahun 1998 LTCM harus di likuidasi karena intinya: Memiliki hutang yang terlalu banyak (skenario detailnya penulis tidak paham, mungkin seperti kasus bank Century di Indonesia), tapi intinya nilai DER LTCM bernilai hingga 25x dari ekuitasnya. Bandingkan dengan Bank BRI yang hanya 0.4x nya.

Dari dua contoh di atas yang ingin disampaikan Graham ialah seorang Intelligence Investor bukan terletak pada IQ dalam menganalisa dan menghitung. Namun penekanan kepada kesabaran, disiplin mengikuti pola investasi ataupun trading dan kemauan untuk belajar. "You must also be able to harness your emotion and think for yourself" ujar Benjamin Graham.

Penulis ingin menambahkan satu lagi kriteria yang penulis dapat dari seorang investor kawakan, beliau mengatakan ketika penulis ingin mem-valuasi suatu perusahaan: 

"Jadilah seorang yang tidak mengerti apapun tentang apa itu saham dan juga tentang perusahaan tersebut, ketika kita sadar bahwa kita tidak tahu apapun, mulailah membaca"

Tulisan akan berlanjut kepada THE INTELLIGENCE INVESTOR (BAB I): Investasi versus Spekulasi
(belum rilis, mohon kembali lagi membaca)

Salam Investasi!



     
Read more →

5 Nov 2014

Di Balik Peluang Saham MAIN (Malindo Feed Mill)

,
Jika kita mengamati perdagangan bursa efek dalam 5 hari terakhir ini, maka akan kita dapati ada tiga saham favorit yang jatuh cukup dalam, pertama adalah CPIN, JPFA dan MAIN. Yang disebut terakhir adalah yang paling dalam jatuhnya, dari 3245 rupiah /lembar, dalam 4 hari menjadi 2225 rupiah /lembar atau turun sebanyak 31,43%.

MAIN atau Malindo Feed Mill termasuk saham blue-chip yang cukup lama bertengger di jajaran chart LQ 45. Bukan hanya pergerakan nya yang cukup aktif dan volatile, namun juga di topang oleh kinerjanya yang tidak bisa di bilang biasa-biasa saja. Lalu mengapa terjadi penurunan sebesar itu dalam waktu singkat? Jawabannya adalah Fundamental

Saham MAIN anjlok di akibatkan penilaian pasar pada anjloknya laba MAIN pada kuartal 3 2014 ini yang hampir mencapai 90%. Kita buka laporan keuangannya dan lihat pada baris laba komprehensif periode berjalan, disitu tertera laba pada September 2013 sebesar Rp 242 milyar dan menjadi hanya Rp 18 milyar pada September 2014. EPS anjlok dari Rp 143 per lembar menjadi hanya Rp 11 per lembar saham, hampir tidak ada artinya. 

Lalu, apa artinya ini? beberapa email masuk menanyakan apakah saat ini saatnya masuk ke saham MAIN atau masih tunggu sinyal. Apapun itu, kembali penulis tekankan bahwa pembelian saham harus memiliki dasar yang jelas, contratrian strategy bukan hanya fokus pada saham yang sedang anjlok, tapi lebih dari itu yaitu fokus pada fundamental. Tidak semua saham yang anjlok layak untuk di koleksi.

MAIN merupakan salah satu emiten besar di Indonesia yang bidang usaha utamanya ialah memproduksi pakan ternak disamping juga penjualan ayam pedaging, makanan olahan dan lain-lain. ROE MAIN tercatat memiliki rata-rata dalam 6 tahun terakhir sebesar 39,24% yang sebagian besar tingginya nilai disumbang dari kinerjanya pada tahun 2009 hingga 2012, di tahun 2013 ROE MAIN menurun menjadi 28% karena disebabkan juga menurunnya laba bersih. Jika dilihat secara rata-rata maka MAIN adalah emiten yang memiliki kinerja cukup bagus. 

Masalahnya yang terjadi adalah 70% dari pembelian bahan baku pakan ternak adalah import. Tercatat MAIN memiliki kontrak jangka panjang dengan Cargill International, salah satu perusahaan pengimpor bungkil jagung dan bungkil kedelai yang digunakan sebagai bahan baku pakan ternak dan di produksi dari AS, Amerika Latin, India, China dan Thailand, dampaknya jelas yaitu beban pokok penjualan (COGS) dari MAIN menjadi sangat fluktuatif terhadap perubahan nilai tukar dollar terhadap rupiah. Sebagaimana kita tahu bahwa di 2014 ini rupiah telah melemah menyentuh titik Rp 12.205 per US dollar, walaupun sempat menguat namun fluktuatifnya sudah terlanjur berdampak signifikan. Hasilnya, beban pokok penjualan meningkat 22% dengan penyumbang terbesar ialah kenaikan biaya pembelian yang meningkat 31.20% dan biaya operasi yang meningkat drastis hampir 60%.

Dampak signifikan dari penurunan laba ini ialah nilai PER yang menjadi sangat tidak masuk akal, PER MAIN menjadi 163x per hari ini (11/5/2014) dan dengan nilai wajar sebesar Rp. 490 / lembar. Artinya Margin of Safety MAIN menjadi -78% alias jauh kemahalan. 

Sebetulnya sinyal penurunan laba MAIN ini bisa di telisik dari mulai kuartal 1, selain labanya yang tercatat turun, juga tercatat meningkatnya hutang jangka panjang hampir mencapai 2x nya dari 2013. Salah satu sinyal warning bagi investor untuk keluar dari saham ialah meningkatnya hutang (lancar maupun panjang) yang tidak di imbangi oleh kenaikan laba bersih.

Meningkatnya pinjaman jangka pendek maupun panjang MAIN ini tidak dijelaskan secara rinci penggunaanya, hanya secara umum tertulis digunakan untuk belanja modal, investasi dan pembayaran ke supplier. MAIN bukan hanya melakukan dalam bentuk rupiah, namun juga dalam bentuk dolar. Inilah mengapa net working capital  MAIN juga tidak dalam posisi yang baik alias negatif meskipun rasio lancar tetap bisa terjaga di angka 1.12 (ini di sebabkan MAIN memiliki aset lancar yang cukup besar).

Lebih jauh lagi, MAIN memiliki kas operasi yang negatif!, dan seperti dijelaskan di atas bahwa kenaikan beban terbesar adalah dari beban biaya operasi yang meningkat hampir 60%. So, jangan berharap MAIN memiliki free cash flow yang positif, kecuali pihak management MAIN berani mengalokasikan sebagian aset lancar nya untuk menutupi angka negatif ini. 

Satu-satunya yang positif ialah angka Altman Z-Score, karena dengan kondisi menurun seperti ini perlu di analisa lebih jauh apakah MAIN bisa bertahan dari kebangkrutan. Dan ternyata nilai Altman Z-Score MAIN adalah sebesar 3.33, jauh melebihi bayangan penulis sebelumnya. Hal ini dikarenakan MAIN memiliki aset lancar yang cukup besar di topang oleh persediaan yang besar dan juga nilai ekuitas yang cukup mumpuni.

Hal lainnya ialah angka persediaan yang cukup besar yaitu sebesar 695 milyar. Penulis sendiri khawatir dengan angka persediaan yang sebesar itu jangan-jangan produk MAIN tidak cukup laku, atau menurun di pasaran, karena untuk pakan ternaknya sendiri waktu yang dibutuhkan untuk penyimpanan cukup 3 minggu. Lebih dari itu dikhawatirkan akan kadaluarsa dan tidak baik bagi ternak, sumber : INFOVET      

Ya akhir kata, untuk saat ini belum alasan bagi penulis untuk mulai masuk ke MAIN, walapun MAIN perusahaan yang cukup solid, namun untuk saat ini sulit bagi MAIN bahkan untuk sekedar melunasi hutang-hutang nya yang semakin membesar.

Namun, bagi anda yang berprofesi trader turunnya saham MAIN ini boleh dianggap sebagai kesempatan, karena toh lambat laun saham yang anjlok pasti akan mengalami rebound apalagi MAIN memiliki volatilitas saham yang baik. Mudah-mudahan di kuartal berikutnya atau di akhir tahun MAIN bisa menunjukkan kinerja fundamental yang lebih baik.

Salam Investasi


Read more →

1 Nov 2014

BANK RAKYAT INDONESIA (BBRI): GROWTH AND GROWTH (2)

,

Saham BBRI termasuk saham yang paling likuid dalam daftar saham di BEI, bahkan tak jarang naik turunnya indeks IHSG dipengaruhi oleh faktor naik turunnya saham BBRI. Sisi yang positif adalah saham BBRI adalah saham yang paling memiliki katalis jangka panjang, selain likuid BBRI merupakan BUMN "Kesayangan" sejak zaman pemerintahan dahulu hingga saat ini. Sehingga aset, pendapatan dan hutang bahkan dijamin oleh pemerintah, ini berdasarkan keterangan teman penulis sendiri yang bekerja sebagai analis di BBRI.

Sisi buruknya ialah, investor yang membeli sahamnya haruslah investor yang memiliki sisi emosional terkontrol, karena melihat likuiditas saham ini terkadang investor masih saja berspekulasi. Catatan khusus penulis: Saham BBRI BUKAN merupakan saham SPEKULASI, tetapi merupakan saham INVESTASI. Sehingga naik turunnya saham ini terkenal cukup signifikan padahal sisi fundamentalnya tidak bermasalah, bahkan terus membaik. (Baca tulisan penulis sebelumnya: Klik). Mari kita lihat valuasi nya:

1. PER BBRI saat ini sebesar 10.61x di harga 10.700 atau 10.90x diharga 11.000, well angka yang masih  di bawah dua kompetitor andalan nya, yaitu BMRI dan BBCA yang masing-masing sebesar 12 dan 20x. Artinya BBRI masih memiliki rate of return (RORE) sebesar 9.43%, di atas BI rate 7.5%. Angka yang sanat menarik untuk perusahaan sebesar BBRI.

2. PBV BBRI sebesar 2.86x di harga 10.700 atau 2.94x di harga 11.000, angka yang cukup masuk akal. Bandingkan dengan BMRI dan BBCA yang masing-masing 2.30x dan 4.0x. Angka yang juga menarik.

3. Earning Predictable (berdasarkan rata-rata pertumbuhan laba) selama 6 tahun, EP BBRI sebesar 26.54%, angka yang jauh melebihi angka yang dipakai Benjamin Graham sendiri yaitu sebesar 15%. Maka kita akan pakai angka 17% sebagai faktor prediksi pertumbuhan perusahaan kedepan. 

4. Hasil valuasi seperti di bawah ini:

Klik untuk memperbesar
5. Dari hasil valuasi kita mendapatkan hasil yang cukup bagus, dimana saham BBRI saat ini memiliki harga yang relatif wajar, memiliki tingkat margin of safety sebesar 75% , Prediksi tingkat pertumbuhan laba yang sangat bagus (diatas 15%) dan juga dividen payout ratio yang cukup menarik untuk investor jangka panjang.

6. Kami tidak menghitung banckrupt probability saham perbankan dengan Altman Z-Score, karena menghasilkan angka yang rancu di sebabkan karena nilai aset yang sangat besar dibanding ekuitas, laba ditahan dan modal kerja bersih. Mengapa demikan? karena di laporan keuangan, nilai aset mengandung nilai kredit yang dikucurkan (padahal bunga dari kredit masuk ke pendapatan dan lawannya kredit yaitu simpanan nasabah masuk ke kewajiban). 

So, menilai MOAT dari perbankan kita harus melihat rasio-rasio yang sudah dijabarkan dalam postingan sebelumnya. Dan kita bisa mendapatkan hasil bahwa rasio-rasio terpenting tersebut masuk dalam kategori aman untuk BBRI bertumbuh kembang kedepannya.

7. Hasil akhir dari pemilihan saham dan valuasi sebagai berikut:
Hasil overall saham BBRI
Salam Invest!

Penulis


Read more →

BANK RAKYAT INDONESIA (BBRI): GROWTH AND GROWTH (1)

,
Berbicara tentang BRI, Bank Rakyat Indonesia memang identik dengan Bank dengan kredit usaha mikronya yang sangat kental dengan konsep 'Bank blusukan'. Walaupun saat ini BRI bukan lagi satu-satunya, tetapi berdasarkan riset kecil yang penulis lakukan di sepanjang jalur mudik (ya, penulis melakukan survey ketika mudik lebaran lalu ketika sedang istirahat) dimulai dari Cirebon, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Semarang, Ambarawa, Jogja, Solo, Salatiga dan Gemolong. Penulis bertanya kepada  3-4 orang "Pak/Bu, kalau di daerah sini bank yang paling enak untuk pinjem modal usaha apa ya?". Hasilnya 2 dari 3 menjawab "BRI lah pak". Bahkan di Gemolong, 3 dari 3 berkata hal yang sama.

Penulis tidak melanjutkan kenapa, karena cukup dengan jawaban itu kita langsung paham bahwa BRI merupakan perusahaan yang memiliki nilai lebih.

Di suatu sore, penulis bertemu dengan teman penulis yang bekerja di BRI. Sambil menyeruput secangkir Frappe capuccino (penulis sendiri penggemar berat Hot Latte) teman penulis bercerita banyak bagaimana rasanya bekerja di BUMN seperti BRI, singkat saja: makmur, 6 bulan kerja langsung beli mobil dan bonusnya lumayan membuat kita iri. Obrolan sore tersebut secara tidak langsung berpromosi bahwa BRI adalah bank yang sangat layak untuk dilirik. Oke, penulis makin mantab untuk segera invest ke BRI. Bagaimana kinerja dan valuasi nya? Let's see..

1. Revenue / Pendapatan, Ekuitas dan Laba bersih
Dari laporan keuangan kuartal 3 2014, pendapatan bunga, investasi dan syariah meningkat 29,66% dibanding periode yang sama tahun 2013, atau bertumbuh dari 41 trilyun menjadi 52 trilyun. Artinya BBRI berhasil meningkatkan pengucuran kredit di tahun ini dengan sangat signifikan,  pengucuran kreditnya sendiri naik sebesar 12.32% yoy. Jika kita bedah lagi, peningkatan kredit lebih terfokus pada kredit usaha mikro dengan menyumbang kenaikan bunga sebesar 23 trilyun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 17 trilyun atau terdapat kenaikan sebesar 35%, bandingkan dengan sektor retail yang meningkat 25% yoy (ini artinya, BRI tetap berfokus pada kredit usaha mikro, dengan hanya sedikit melakukan diversifikasi terhadap target). Secara garis besar gambaran pendapatan, Ekuitas dan laba bersih adalah:

Kondisi BRI yang semakin tumbuh berkembang dari tahun ke tahun

2. ROE. Return Of Equity
ROE BBRI sebagai rata-rata dalam 6 tahun sebesar 28.09%, dengan grafik yang cukup konsisten. Ini pertanda yang sangat bagus untuk perusahaan mapan seperti BRI.

3. Rasio Hutang / DER
Rasio hutang BBRI merupakan kategori rasio hutang sehat dengan long time liabilities sebesar 21 trilyun yang mayoritas merupakan pinjaman dari pihak ketiga ditambah surat berharga, maka nilai hutang berbanding ekuitasnya sebesar 0.22x. (kita tidak melibatkan liabilities berupa simpanan nasabah).

4. Net Current Asset Value dan Free Cash Flow
Data statistik yang diperoleh dari laporan keuangan dari berbagai sumber lainnya (diolah)


Ada perbedaan di dalam menghitung Net Working Capital disini, karena lazimnya perhitungan NNWC selalu di kurangi oleh total kewajiban (liabilities). Namun di dalam perbankan agak rancu jika kita memasukkan kewajiban yang berupa simpanan nasabah. Karena sejatinya simpanan nasabah digunakan lagi sebagai modal perusahaan dalam memberi kredit. So, kita hilangkan kewajiban lancar yang sebesar 603 trilyun, sehingga didapat Net Working Capital sebesar 62 trilyun. Angka positif yang sangat besar.
Free cash flow sendiri mencatat angka yang cukup bagus, yaitu positif 74% lebih besar dari belanja modal nya (Capex) dengan current ratio sebesar 1.16.
Well, bisa kita simpulkan tidak ada masalah sejauh ini pada BBRI untuk beroperasi, dan sekilas posisi keuangan adalah sangat sehat.

5. Seperti yang di sebutkan dalam postingan sebelumnya: Rasio Penting Dalam Saham Perbankan, dimana terdapat empat rasio tambahan yang harus kita lihat di dalam laporan keuangan, yaitu:

NIM (Net Interest Margin), BRI memiliki NIM pada kuartal 3 2014 sebesar 8,78%, meningkat dari periode yang sama tahun 2013 sebesar 8.25% Dan pada yang dilaporkan pada laporan tahunan sebesar 8.55%. Secara angka ini masih jauh melebihi NIM perbankan nasional yang senilai 4.89% pada akhir 2013, apalagi dengan perbankan ASEAN yang sekitar 1.33-1.55%.

NPL (Non-Performance Loan), atau resiko kredit macet BRI sebesar 1.89%, angka ini sedikit meningkat dibanding periode yang sama tahun 2013 sebesar 1.55%. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena angka ini masih jauh dibawah rata-rata perbankan nasional yang sebesar 2.31%.
Nilai NPL yang selalu turun, indikasi sebuah
bank yang semakin sehat
Ada yang menarik di laporan keuangan, disebutkan bahwa nilai non-performing berdasarkan peraturan Bank Indonesia adalah sebesar 8,8 trilyun dari total kredit yang di kucurkan hingga kuartal 3 2013 sebesar 468 trilyun. Dari nilai 8.8 trilyun yang macet 2.5 trilyun adalah kredit yang ditujukan pada daerah rawan bencana, sedang mengalami bencana atau pernah mengalami bencana. Sehingga nilai plus nya, BRI tetap bersinergi dengan daerah bencana / konflik dengan jaminan pemerintah. Nilai minusnya, sangat kecil kemungkinan kredit macet pada daerah-daerah yang bermasalah dapat di realisasikan. Untungnya lagi-lagi BRI cukup dijamin oleh pemerintah.

LDR (Loan to Deposit Ratio) LDR BRI di dapat dari laporan keuangan adalah sebesar 85,9%. Masih dalam kisaran aman Bank Indonesia antara 80% hingga 100%.

CAR (Current Adequate Ratio), Nilai CAR BRI adalah sebesar 18.57% hingga 18.65% untuk resiko kredit, operasional dan pasar, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan BI sebesar 9%-9.99%.

Dari segala variable atau syarat yang di tetapkan oleh Srimaya, maka BRI di kategorikan sebagai bank yang sangat sehat, memiliki aspek resiko yang baik dan rasio yang juga sangat baik.

Bagimana valuasi sahamnya? apakah layak koleksi di harga sekarang?
Lanjutkan membaca di: Bank Rakyat Indonesia (BBRI): Growth and Growth (2)

Salam investasi

Read more →