9 Jul 2015

Boom and Bust Theory Bagian 1: Mengenal skema Boom and Bust

,
Sebelumnya, tulisan ini terinspirasi dari cerita batu akik yang di alami oleh kawan saya baru-baru ini. Sekitar delapan bulan lalu fenomena batu akik yang melanda Indonesia sungguh luar biasa, dalam waktu kurang dari empat bulan, pasar batu akik yang tadinya hanya di pasar Rawa Bening, Jatinegara bisa kita temukan secara dadakan di setiap pasar tradisional, bahkan samping alfamart yang biasanya berjualan tempe mendoan sekarang disulap menjadi dagang batu akik.

Demam ini juga melanda kawan saya yang dengan alasan investasi membeli batu akik (entah jenis apa) hingga puluhan juta dalam jumlah yang cukup banyak. Satu batu kalau saya bagi yah harga belinya di sekitar dua ratus hingga tiga ratus ribuan rupiah. Rencananya batu-batu itu akan diperdagangkan kembali di Festival Batu Akik Nusantara di Gorontalo tiga bulan kemudian dengan keyakinan bahwa batu-batu ini akan berharga lima ratus ribu hingga satu juta rupiah per batu. Atau mengalami kenaikan 150% dalam tiga bulan saja.

Ternyata apa yang terjadi? Anda bisa baca artikel Antara News tentang Festival Batu Akik Nusantara di Gorontalo untuk tahu hasilnya. Batu akik tersebut ternyata malah di obral lima ribu rupiah per batu karena sepi pembeli. Alhasil investasinya rugi hampir 100%.

Dari situ saya teringat juga tentang demam tanaman gelombang cinta yang harganya mencapai jutaan rupiah, namun setahun berikutnya justru saya mendapat gratis dari tetangga.

Fenomena seperti diatas dikenal sebagai fenomena Boom and Bust yang senantiasa berulang dan seperti sengaja diulang, entah oleh siapa. Namun yang pasti penting bagi kita untuk mengenal fenomena demikian untuk selalu waspada dalam berinvestasi, karena investasi bukan hanya soal meletakkan uang, namun juga filosofi dibalik itu ialah tentang keserakahan manusia.

Boom and Bust adalah  karateristik yang selalu muncul di dalam siklus ekonomi kapitalis seperti sekarang ini, keduanya adalah hasil proses ekspansi (perkembangan) dan kontraksi (gejolak) yang datang berulang kali akibat dua hal:  Ekspektasi masyarakat dan Realita yang disadari kemudian.



Di bawah ini beberapa legenda tentang Boom and Bust yang melanda dunia.

1. Gelembung Bunga Tulip (1623 - 1637)

Bisa dikatakan, fenomena bunga tulip merupakan fenomena Boom and Bust pertama di era ekonomi modern, dipicu oleh meningkatnya perekonomian Belanda yang tumbuh pesat diikuti oleh meningkatnya jumlah kelas atas dan juga tentunya meningkatnya selera akan komoditas. Tulip yang sejatinya berasal dari Turki saat itu menjadi primadona karena keindahannya dan serta-merta menjadi rebutan para kelas elit saat itu. Bahkan beberapa dari mereka rela untuk membayar mahal bahkan seharga rumah untuk satu set (40 tangkai) bunga Tulip yang bernama Semper Augustus.


Satire on Tulip Mania. Jan Breughel the Younger, ca 1640, Frans Hals Museum, The Netherlands


Semper Augustus dijual seharga 1000 gulden pada 1623, 1200 gulden pada 1624, 1500 gulden pada 1625 dan mencapai puncaknya pada harga 6700 gulden pada 1937. Harga itu pada waktu itu setara dengan sebuah rumah di Amsterdam. Bandingkan dengan penghasilan masyarakat Belanda yang saat itu rata-rata setahun 'hanya' 150 gulden.

Kenaikan harga Tulip ini menimbulkan efek yang disebut efek megalomania yang segera menjalar dari kaum elit (kaum yang pertama memulai efek) hingga kaum pedesaan. Ada ungkapan saat itu bahwa tidaklah menjadi warga Belanda jika tidak berinvestasi pada tulip. Banyak diantara mereka yang rela menjual tanah, rumah dan warisannya demi tulip.

Charles Mckay dalam bukunya Memoirs of Extraordinary Popular Delusions 1841 mengilustrasikan kondisi saat itu melalui percakapan dua warga Belanda;

Gaergoedt: “kamu dengan susah payah mendapatkan keuntungan 10% dengan uang yang kamu investasikan pada pekerjaanmu (seorang penenun), tetapi dengan berdagang bunga tulip, kamu dapat membuat keuntungan 10%, 100%, ya, sampai 1000%”.
Waermondt: “Tetapi saya takut, jika saya memulai dari sekarang, itu terlambat, karena sekarang harga bunga tulip sangat mahal, dan saya takut bahwa saya akan sukses dengan air liur sebelum merasakan daging panggang”.
Gaergoedt: “Tidak ada kata terlambat untuk membuat keuntungan, kamu menciptakan uang sambil tidur. Saya bepergian dari rumah untuk empat atau lima hari, dan saya pulang kerumah pada malam hari, tetapi sekarang saya tahu bahwa bunga tulip yang saya miliki nilainya telah naik tiga atau empat ratus golden; dimana kamu bisa mendapatkan keuntungan seperti ini dari barang lainnya?”
Waermondt: "Saya bingung saat mendengar kamu bercerita seperti itu. Saya tidak tahu apa yang dilakukan; apakah banyak orang menjadi kaya dengan perdagangan seperti ini?”
Gaergoedt:  “Pertanyaan macam apa ini? Lihat pada semua tukang kebun yang mengenakan pakai                              kumal, dan sekarang mereka mengenakan pakaian baru. Banyak penenun memakai                                  pakaian bekas. Ya, banyak dari mereka yang berdagang bunga tulip mengendari                                        seekor kuda” 

Percakapan diatas sangat mewakili kondisi masyarakat Belanda saat itu dimana angin surga mulai ditiupkan, angin tersebut menciptakan kondisi yang disebut Boom, dan memicu terjadinya gelembung (bubble). Ditambah lagi dengan tindakan pemerintah Belanda yang menciptakan Futures Market, atau kontrak berjangka. Disini kontrak tulip diperjualbelikan layaknya komoditas yang lain.

Meskipun di dalam kontrak ini para trader tidak melalui bursa dan tidak memerlukan initial margin melainkan langsung antar individu, tetap saja tidak ada bunga tulip secara fisik yang diperjualbelikan, melainkan murni spekulasi. Perdagangan ini dikenal dengan "wind-trade" atau dagang angin. Kebijakan uang yang longgar dan suku bunga yang rendah sama-sama mendukung timbulnya peningkatan permintaan akan tulip dan membuat harganya semakin melambung.

Akibatnya terciptalah apa yang disebut over-trading. Tentu saja akan terjadi over-trading karena semua orang saat itu berjualan tulip! harga melambung sangat tinggi dan...Pada 1637, ketika para spekulan yang sudah mengira bahwa harga sudah over-priced mulai menjual kontrak-kontrak tulip di harga yang lebih tinggi untuk mendapat untung besar. Dengan segera terjadilah yang dinamakan over-supply yang memicu penurunan harga secara drastis. Dari situ masyarakat baru sadar bahwa harga tulip tidaklah semahal itu. Harga tulip segera turun dari rata-rata 200 gulden menjadi 10 gulden (harga awal). Bayangkan depresi yang menjalar Belanda pada masa itu.

2. South Sea Bubble (1719 - 1722)

Pada abad 17, Eropa memasuki masa keemasan dalam ranah Revolusi Industri. Dengan kalimat simbolisnya Gold, Gospel, Glory, Eropa khususnya Inggris dan Belanda dengan pasti mulai melakukan perluasan koloni dimana Inggris saat itu diberi kebebasan untuk melakukan monopoli perdagangan melalui hak dagang monopoli Treaty of Ultrech's kepada perusahaan dagang Inggris, South Sea Company (SSC). SSC diberi kebebasan untuk melakukan perdagangan budak di Karibia, Amerika Utara. Sedangkan East India Company atau VOC Belanda diberi hak monopoli di Hindia Belanda (Indonesia).

Dengan latar belakang sebagai penjamin emisi hutang negara Inggris Raya akibat biaya perang yang membengkak dengan Perancis, SSC butuh dana besar dengan cara menerbitkan saham untuk menarik minat Investor pada tahun 1719. Namun baru pada tahun 1720 saham SSC mulai bergerak aktif akibat pihak SSC yang selalu mengeluarkan informasi publik akan besarnya nilai kontrak di Karibia, adanya dana tambahan untuk melakukan ekspansi usaha ditambah kemenangan Inggris Raya atas Prancis. Ini memicu terjadinya spekulasi besar-besaran terhadap sahamnya.

Saham SSC naik dari £100 pada bulan Januari 1720 menjadi £550 pada Mei 1720. Saham tersebut terus naik menjadi £1000 pada Juli 1720 akibat adanya permainan para politikus yang memiliki saham SSC. Namun belakangan diketahui bahwa ternyata SSC tidak bisa menampilkan performa yang bagus untuk memenuhi target penjualan dan laba di dalam laporan keuangannya. Dengan adanya kontradiksi ini para investor mulai menyadari bahwa nilai wajar SSC sangat jauh dibawah harganya ditambah pula dengan mulai terkuaknya adanya permainan politikus dan juga fakta bahwa SSC menanggung hutang yang banyak. Hal ini dengan segera menyeret saham SSC kembali ke harga £100.

Cukup banyak korban pada peristiwa ini, terutama bagi para investor yang sudah menjaminkan asetnya dan menggunakan dana kredit usaha untuk membeli saham SSC di harga £1000.

Apakah tindakan ini rasional?  


How the News Broke: South Sea Bubble. Angus McBride

3. Depresi Besar 1929

Great depression atau depresi besar pada tahun 1929 yang melanda bursa saham wall street bukan saja 'mematikan' bursa saham New York, namun lebih jauh dari itu, great depression telah membunuh optimisme yang sedang dialami oleh masyarakat Amerika pada saat itu dan baru terobati hingga 30 tahun kemudian.

Great depression muncul ditengah-tengah gelombang optimisme setelah perang dunia pertama, revolusi industri menyebabkan Amerika mulai mengembangkan industri manufaktur dan ini membuka begitu banyak lapangan pekerjaan. Pekerjaan ada dimana saja dan masa depan terlihat sangat cerah. Meningkatnya taraf hidup menyebabkan meningkatnya pula kesadaran akan berinvestasi di bursa saham. Wall Street mengalami kondisi bullish, bahkan super bullish dan New York menjadi kota metropolis dan pusat bisnis dunia.

Kondisi bullish ini menyebabkan masyarakat kala itu berpikir bahwa saham merupakan jaminan hidup, ini didukung oleh banyak pialang saham yang secara rutin memberikan dana secara kredit kepada masyarakat untuk masuk ke bursa saham bahkan hingga 2/3 dari nilai investasi mereka (margin). Nilainya hampir lebih dari 8.5 milar USD yang disalurkan, bahkan angka ini melebihi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Ini memicu terjadinya boom spekulatif dari jutaan masyarakat ke bursa saham dalam waktu singkat, akibatnya Dow Jones Industrial Exchange (DJIA) naik tajam hingga di harga 381.17 dengan Price Earning Ratio indeks S&P sebesar 32x. Angka ratio yang sudah sangat mahal.

Kondisi demikian selalu menuntun pasar menuju titik gelembung, entah siapa pihak pertama yang melakukan big selling (beberapa mengatakan Jesse Livermore lah orang pertama yang melakukan selling), yang pasti pada 3 September 1929, nilai saham turun hingga 17% dan turun terus hingga tersisa 41.22 pada 1932. Efek tersebut menjadi luas dampaknya disebabkan sedikit sekali cash money yang mengalir saat itu, uang para nasabah sejatinya adalah hutang berupa jaminan rumah, tanah, kendaraan, toko dan juga uang pensiun. Akibatnya banyak orang kehilangan rumah mereka, ratusan pengusaha menutup pabriknya untuk mendapatkan uang sehingga terjadi PHK massal terhadap ribuan orang.


Masa pelik ini sedemikian parahnya sehingga Amerika kehilangan banyak tenaga kerja produktif akibat bunuh diri, ibu rumah tangga ikut bekerja dan tak ketinggalan anak-anak yang bisa membantu ekonomi keluarga. Amerika baru bisa keluar dari masa sulit ini setelah Amerika turut serta dalam perang dunia II pada 1941. Dengan adanya perang maka dibangunlah banyak pabrik-pabrik senjata, peralatan militer dan supply pertanian yang menyerap banyak tenaga kerja.

Irrasional dan Rasional

Ketiga hal diatas menjadi contoh yang bagus bagi dua kubu ekonom untuk berdebat apakah pasar sebetulnya digerakkan oleh fundamentalnya atau ada hal lain. Apakah boom and bust yang terjadi disebabkan oleh tindakan irrasional manusia yang merubah pasar bentuk efisien menjadi pasar tidak efisien dalam behavioral finance? Ataukah sebaliknya?

Aliran ekonomi ilmiah, dalam hal ini diwakili oleh Peter M. Garber (1990) menyatakan bahwa tidak ada yang namanya 'gelembung' karena manusia selalu bertindak rasional berdasarkan fundamentalnya. Fundamental dalam hal ini adalah informasi.

Sedangkan aliran filosofi ekonomi, Charles P. Kindleberger (2000) dalam tinjauan buku Famous First Bubbles: The Fundamental of Early Manias menyatakan:

“Apakah investor yang membeli saham South Sea pada harga £1.000 adalah berperilaku rasional? Jawabannya adalah tidak. Pertama, terdapat informasi publik yang mencukupi yang menyatakan bahwa harga saham telah mengalami overvalue yang serius. Kedua, memasuki periode gelembung yang sudah akut, investor dihadapkan pada resiko yang lebih besar daripada imbal hasil: mereka memburu potensi keuntungan yang kecil dan berresiko untuk menderita kerugian akan lebih besar. Ketiga, ‘fundamental’ (prospek jangka panjang perusahaan) tidak mengalami perubahan dalam tahun tersebut” (diterjemahkan dari Kindleberger, 2000, hal.3)

Dengan kata lain Kindleberger menyatakan bahwa penyebab terjadinya boom and bust tak lain bermula dari tindakan irrational investor yang tak terbendung,

Contohnya adalah kasus great depression 1929. Saat itu terdapat publikasi bahwa angka PER indeks S&P sudah menyentuh angka 32x yang artinya termahal sepanjang sejarah ditambah fakta bahwa hutang investor lebih besar dari uang yang beredar saat itu. Namun lagi-lagi psikologis pasar selalu berlaku over-reacting yang menyebabkan pasar sudah jadi tidak sempurna dan peringatan itu jadi tidak ada gunanya.

Lalu apa pendekatan yang menggabungkan kedua ide tadi?. Akan dibahas pada artikel selanjutnya di
Boom and Bust Theory Bagian 2: Soros dan Reflexivity

Salam Investasi

2 komentar:

  1. Saddam Prawira9 Juli 2015 10.40

    Thanks pak, really enlighting!

    BalasHapus
  2. Zandra Zarkova10 Juli 2015 07.34

    With havin great written content, do you ever run into any issues of reflexivism in financial crisis?

    BalasHapus