23 Agt 2014

Crashmology

,
Crashmology

Istilah Crashmology saya kutip dari celetukan seorang teman saya di Line grup, grup yang memang khusus membahas tentang saham. Kurang lebih artinya begini, sebagai seorang Investor apa sih yang ingin kita beli? Sudah tentu, barang bagus dengan harga yang murah..bahkan sangat murah. Nah kapan perusahaan-perusahaan bagus tersebut akan menjadi murah, bahkan terdiskon obral gila-gilaan hingga 50 - 70%  ? (kalah tuh diskon lebaran) , kapan lagi menjadi value investor sebenarnya?

Jawabannya adalah disaat Market Crash. Wow..mari kita bahas..

Istilah Market Crash muncul pada tahun 1929 di Amerika Serikat ketika terjadi peristiwa runtuhnya Wall Street yang terkenal dengan istilah Black Monday , Black Tuesday dan Black Thursday. Penurunan yang sungguh luar biasa hingga total 89% dari titik tertingginya kala itu. Info: Wall Street baru bisa mencapai 75% nya dari kejatuhan tersebut pada tahin 1954  atau seperempat abad kemudian.

Indonesia sendiri baru mengalami Market Crash yaitu 2 kali. Pertama pada tahun 1998 yang saat itu dipicu oleh krisis ekonomi Asia akibat devaluasi nilai tukar bath Thailand, yang dengan segera dan terstruktur menyerang perekonomian Indonesia hanya dalam hitungan bulan, demonstrasi besar-besaran yang mengakibatkan mundurnya penguasa orde baru kala itu, Soeharto. Memicu penarikan dana besar-besaran oleh pihak asing terutama warga Tiongkok akibat kerusuhan yang terjadi yang mengakibatkan banyak warganya yang menyelamatkan diri dengan membawa uang cash.

Yang kedua pada tahun 2008, dimana IHSG terkoreksi hingga 61% dari titik tertingginya. Namun hal ini disebabkan oleh krisis external dan bukan dari dalam negeri sendiri. Tahun 2008 inilah yang menjadi pembelajaran bahwa nilai saham merupakan cerminan prilaku konsumennya. Dan apapun yang terjadi, selama fundamental masih dipertahankan, maka tak ada yang perlu dikuatirkan, buktinya IHSG kembali cepat menguat sejak 2008 dan hanya mengalami koreksi wajar di tahun-tahun berikutnya.  

Sebetulnya, yang disebut crash terjadi setiap tahun minimal setahun sekali dengan rata-rata penurunan 18% di Indonesia. Namun 2 tahun (1998 dan 2008) itu saja yang menurut penulis merupakan Market Crash sebenarnya, tahun-tahun yang lain istilahnya adalah 'ambil nafas' atau 'rehat sejenak'. Penulis sendiri berpengalaman pada tahun 2008 apalagi saat itu penulis masih betul-betul baru di pasar modal (bayangkan!), lebih dari setengah hasil tabungan ludes di bursa saham hanya dalam waktu tiga hari.













Pergerakan IHSG 1998 - 2014. Sumber: Yahoo Finance

Ciri - Ciri Market Crash

Yang mempengaruhi market menjadi crash ada pada perilaku konsumen sendiri, yang menyebabkan pasar menjadi bubble ataupun crash yaitu Greed and Fear. Kita hampir tidak pernah melihat saham ataupun indeks berhenti pada harga wajarnya. Harga selalu menjadi over-valued (pada saat pasar bullish) ketika orang menjadi serakah atau under-valued ketika pasar bearish dan saat orang ketakutan. Yang sangat perlu kita cermati adalah : Di saat-saat itulah para analis, para broker dan berbagai media keuangan secara membabi-buta memberikan informasi yang mendukung untuk kondisi yang berkembang.


Ini gambaran psikologi masyarakat pasar modal secara umum yang banyak terjadi.

















Terlihat jelas bahwa kebanyakan para pemain saham (saya tidak menyebut istilah ini dengan Investor) selalu terlambat dalam memprediksi dan sebagian besarnya hanya terpengaruh indera nya masing-masing. Indra Mata dan Telinga, sehingga tidak melihat apa yang seharusnya jelas terlihat. Yaitu.. harga yang tinggi dan rendah! itu saja.

Contoh pada posisi no 3. Kebanyakan dari kita justru terpengaruh pemberitaan dimana-mana, menciptakan kondisi 'terlambat' sehingga para pemain nekat langsung berani ambil resiko untuk menggunakan leverage (margin) dengan mengharapkan harga yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

Kondisi yang tercipta adalah posisi no.4, terciptanya bubble price atau harga yang menggelembung. Ini masih bisa di tolerir jika fundamental ekonomi masih cukup kuat, tapi apa yang terjadi jika hutang yang beredar menjadi begitu besar melebih jumlah uang yang beredar? dan akan jatuh tempo pada waktu yang sama? Inilah yang terjadi pada kondisi Black Thursday 1929. Ingat, sejarah akan terus berulang.

Prinsip No.2

Be Fearful when other are Greedy and Be Greedy when other are Fearful. Inilah prinsip no.2 Warren Buffet yang kemudian dianut oleh banyak investor sejati. Prinsip pertamanya Never Lose Your Money sudah menjadi kalimat wajib bagi para Investor



















Penulis kurang setuju prinsip di dalam dunia saham, Trend is your Friend namun bukan berarti anti. Penulis pun kadang-kadang merasa lebih percaya diri ketika market sedang bullish, ketimbang market sedang bearish. Kurang setuju dalam arti kembali ke prinsip nomor 2 tadi.

Rulesnya seperti ini: Jika anda menginvestasikan uang anda di posisi fundamental value (lihat gambar atas) kemudian menjualnya di posisi Greed Pleasure, dilanjutkan dengan mencicil kembali di posisi Fear Pain dan menjadi full power ketika kembali di posisi fundamental value, apa yang anda dapatkan? Secara teoritik 1000% lebih kenaikan di portfolio akan anda nikmati.

Sure, tidak ada yang dapat menebak kapan market akan Crash dan kapan akan Growth. So, sekedar konsolidasi pun merupakan titik sempurna untuk mencicil investasi. Kuncinya adalah selalu memperhatikan kondisi FUNDAMENTAL. Entah itu findamental suatu benua (pergerakan ekonomi Asia misal), fundamental dan issue nasional (Jokowi menang pemilu misal) ataupun fundamental perusahaan itu sendiri.

Anda dan para Partnership khususnya bisa selalu mengupdate berita-berita terkait fundamental emiten terkait di blog ini, silahkan subscribe untuk berlangganan

Salam Invest!
Read more →

21 Agt 2014

PT ASTRA OTOPARTS,.Tbk (AUTO) - One of the Growth Stock Company

,
Seperti sudah dibahas di postingan sebelumnya tentang perusahaan dengan ‘Nilai Lebih’ yang menarik untuk di koleksi. Salah satunya adalah saham AUTO atau PT Astra Otoparts,.Tbk.
PT Astra Otoparts Tbk mulai berdiri dari tahun 1991 sebagai anak perusahaan PT Astra International. Tbk (ASII) dengan kepemilikan saham mayoritas sebesar 80%. Semula perusahaan bernama PT Alfa Delta Motor (berdiri tahun 1976) yang sejak awal sudah berkecimpung di dunia industry otomotif, perakitan mesin dan juga peralatan konstruksi. Perusahaan memulai listing di bursa pada tahun 1998.

Fokus Bisnis

Perusahaan memiliki 3 divisi penting yang menangani proses manufaktur. Dari mulai produksi Engine Parts dibawah divisi Nusametal ; Produksi plastik injeksi, Head lamp kendaraan hingga pengecetan di bawah divisi Adiwira Plastik dan terakhir produksi mesin-mesin pendukung (ie: rem) dan peralatan produksi lainnya di bawah divisi Winteq. 

Itu belum termasuk 33 anak perusahaan yang semua memegang fungsi sebagai produsen dan pemasok spare part otomotif dan alat berat (Accu, Ban, Pelek, Kabel dsb) atau yang disebut OEM (Original Equipment Manufacturer). Ditambah dengan anak perusahaan lainnya dibidang Aftermarket dibawah bendera PT AOP Domestic Division, nah yang terakhir inilah yang memayungi jaringan retail Shop & Drive.

Fokus Manajemen

Dengan pola bisnisnya yang bersifat hulu ke hilir, tentunya akan sangat memudahkan perusahaan untuk menguasai market bisnisnya. Ditunjang kepemilikan mayoritas saham Astra International plus dukungan manajemen yang mumpuni dimana terdapat nama Johnny Darmawan sebagai Commissioner, sebelumnya menjabat sebagai President Direktur PT Toyota Astra Motor dan pernah disebut-sebut sebagai “the best salesman in the world”.

Di Posisi puncak alias CEO, terdapat nama Hamdhani Dzulkarnaen Salim, dengan latar belakang Teknik Mesin ITS dan juga MBA dari University of Southern California beliau adalah orang lama di dalam perjalanan Astra. Dimulai karirnya sebagai staff teknik di PT Federal Motor pada 1978 yang kemudian menjadi PT Astra Honda Motor. Beliau sukses meningkatkan operating profit AUTO dari 476 M pada 2012 menjadi 672 M pada 2013 (Year on year).

Fokus Keuangan

Setelah kita yakin dengan bisnis dan manajemen fundamentalnya, lalu bagaimana dengan posisi keuangannya? Dimana posisi ini sangat menentukan apakah perusahaan tersebut layak untuk di investasikan.
Ekuitas, posisi ekuitas sejak tahun 2008 – 2013 sudah pasti dikatakan perusahaan yang mapan, lihat grafik:











Perlu menjadi catatan adalah Return of Equity yang menurun dibanding 2010 hingga saat ini, tetapi masih terus mencatatkan pertumbuhan laba yang cukup baik.

 












Bagaimana Valuasi Sahamnya?

Sayangnya, saham AUTO yang beredar di pasar berjumlah hanya sedikit. Hanya sebanyak 4,8 Milyar lembar saham yang beredar, bandingkan dengan Parent company-nya Astra International yang memiliki 40.8 Milyar lembar saham, hampir 10 kali nya. Ini mengakibatkan lambatnya pergerakan saham alias kurang likuid untuk diperdagangkan. Anda bisa melihat sendiri di bursa atau di broker anda apakah saham AUTO ini likuid atau tidak.

Dengan jumlah saham yang hanya segitu, mengakibatkan Book Value yang cukup besar yaitu 1998.76, sehingga PBV nya menjadi 1.99x saja. So, terlihat murah karena jumlah saham yang beredar hanya sedikit. Mari kita lihat pengukuran prospek lainnya, sesuai dengan valuasi konvensional (baca: Value Investing: Apa itu Value Investing)

Data yang didapat dari laporan Tahunan dan Laporan Keuangan adalah sebagai berikut:
Equity: 9,63 T
Net Profit: 453.7 M
Market Cap: 19,15 T
Share out: 4.8 M
Current EPS: 188 M
LT Borrowing: 44,1 M
Dividen: 32.71% / EPS
(year to date)

Tahap berdasarkan value analisis:
  1. Tidak ada defisit dalam 5 tahun terakhir: Cocok (tetapi saya lebih suka jika ada defisitnya, lalu naik menjadi laba di tahun berikutnya)
  2. Pertumbuhan penjualan (Sales Growth) sebesar 25.5% (>10%). Cocok
  3. Pertumbuhan laba: dalam lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhannya tidak cukup besar, hanya sekitar 10%. Tidak Cocok. Tetapi jika kita backroll ke 10 tahun lalu, maka pertumbuhan laba rata-rata 10 tahun menjadi 25%. Masih sangat menarik untuk di tindaklanjuti.
  4. Pertumbuhan ROE rata-rata 5 tahun sebesar 19.61% (>15%). Cocok
  5. Pertumbuhan ROTC rata-rata 5 tahun sebesar 17.6% (>12%). Cocok
  6. Rasio Hutang (DER) = 0.09 (<1). Cocok
  7. PER  = 21.03x (>20% - untuk ROE >15%, PER<=20x). Cocok dengan catatan
  8. PBV = 1.99x, Untuk pertumbuhan laba <10%, Pbv kriteria <1.5. Cocok dengan catatan
  9. Valuasi harga saat ini =  2.170
  10. Margin of Safety = -45.41%. Tidak cocok.

Kesimpulan setelah melihat dari angka dan sisi bisnisnya perusahaan ini adalah perusahaan yang cukup super dan merupakan Growth Stock. Di bawah kendali Astra dengan lini bisnis dari hulu ke hilir membuat AUTO menjadi penguasa terhadap produksi, pemasok, dan juga aftersales service di bidang otomotif. Baik itu roda dua ataupun roda empat. Berbeda dengan saudara Astra lain di bidang penjualan mobil – Toyota Astra Motor atau Astra Honda Motor, yang pendapatannya tergantung dari penjualan mobil. AUTO masih bisa survive dengan menggenjot pendapatan dari sisi pasokan spare-part, yang pasti selalu dibutuhkan oleh setiap bengkel– kecuali di Indonesia kembali ke zaman delman.

Untuk valuasinya, sesuai perkiraan bahwa perusahaan super biasanya sulit untuk mendapat harga diskon, penulis sendiri mungkin akan menahan untuk pembelian di harga saat ini, menunggu ketika harga minimal terdiskon 15% dari harga saat ini, atau sekitar Rp 3300,- dan kemudian hold untuk jangka panjang.

Satu hal tambahan mengingat AUTO ini tidak likuid, sebaiknya memang membeli dengan cara mencicil. Karena suatu saham perlu juga untuk likuidasi dimana kemampuan itu dimiliki oleh bandar / pemain besar. Cicil 10 – 15 lot penulis rasa cukup untuk tahap awal.

Salam Invest!


Read more →

14 Agt 2014

Perusahaan Bernilai Lebih

,

Apa itu perusahaan yang bernilai lebih? Mungkin anda langsung menjawab bahwa itu adalah perusahaan yang sangat mapan seperti Unilever ataupun Astra atau perusahaan yang terjamin keamanannya seperti BUMN atau perusahaan-perusahaan sejenis. Anda sama sekali tidak salah. Tapi bagi penulis perusahaan yang 'bernilai lebih' memiliki sebuah makna tambahan, yaitu passion.

Passion atau kegairahan mencerminkan hampir keseluruhan bagaimana perusahaan tersebut melakoni konsep bisnisnya, rasa kesungguhan dan kemauan dari perusahaan tersebut sangat bisa dirasakan oleh stakeholder yang saling terkait secara langsung yang dinamakan konsumen., bukankah itu cara sebenarnya perusahaan meningkatkan kredibilitas? Dan satu konsep sederhana ini yang coba diangkat oleh penulis sesuai dengan pengalaman penulis, teman-teman dan partnership lainnya.

Jangan heran jika hampir semua perusahaan yang dibahas adalah perusahaan retail atau penjualan langsung karena memang itulah yang  kemudian akan menjadi salah satu konsep dasar di dalam pemilihan investasi kami yaitu "bisnisnya mudah dipahami".

Apa saja perusahaan tersebut? mari kita lihat.

PT Astra Otoparts (AUTO) - Shop and Drive

Bagi beberapa rekan penulis, begitu penulis tanya kalau beli Accu dimana? Shop & Drive lah. Kenapa? Barangnya pasti asli, ada garansinya dan jelas Astra (siapa yang meragukan Astra??) dan aftersales-nya bagus. Well see..

Penulis kebetulan pelanggan Shop & Drive yang termasuk baru, dulu jika mencari Accu selalu cari di bengkel retail apalagi jika ganti oli atau yang lain. Pas Januari kemarin coba-coba ke Shop & Drive untuk ganti Accu dan yang pertama terkejut adalah sapaan teknisinya yang cukup ramah dan kerjanya sangat cekatan. Tak berapa lama mobil pun beres dan ternyata ada gratis cek dan service dalam periode yang ditentukan, hal yang tidak ada di bengkel-bengkel lainnya.

Ada hal yang menarik dari aftersalesnya, jika Accu ternyata rusak sebelum waktunya maka akan di ganti gratis! dan penulis berpengalaman dengan mobil istri yang tiba-tiba mogok karena air Accu lupa diisi dan tentunya lupa cek, tapi ternyata pihak Shop & Drive tetap mengganti Accu tersebut secara gratis lengkap dengan teknisi yang datang ke rumah. Hal tersebut berlaku untuk cek dan service selanjutnya yang akhirnya saya rutin lakukan.


Sungguh pelayanan yang paripurna, dan cukup memuaskan. Beberapa hal yang saya pikirkan adalah, pertama Astra Otoparts sebagai anak perusahaan Astra International pastilah men-training karyawan nya dengan sangat baik bukan hanya secara teknis tapi juga secara personal behaviour. Dan itu terefleksikan dari apa yang penulis rasakan.


Kedua, Astra Otoparts menyediakan tingkat sales & service komponen yang sangat mumpuni, bukan hanya lengkap tapi juga dengan harga yang wajar (Accu di Shop & Drive harganya hanya beda 5 ribu rupiah dengan bengkel retail. Oli mesin, filter oli dan komponen lainnya  bahkan lebih murah, plus ongkos kerja yang jauh lebih murah).

Ketiga, konsep franchise yang dibawa oleh anak perusahaan Astra tersebut terbukti mampu menjangkau masyarakat dengan lebih cepat. Ketiga hal inilah yang menjadi dasar penulis untuk menjadikan AUTO dengan produk Shop & Drive-nya menjadi salah satu target investasi jangka panjang berikutnya. Valuasi perusahaan akan di bahas kemudian.
Siapa yang tidak tahu toko Ace Hardware, begitu banyak saat ini di mall-mall terkemuka yang pastinya anda kunjungi setiap akhir pekan, meskipun hanya sekedar jalan-jalan. Mengapa demikian? ya tidak salah lagi, barang-barangnya menarik untuk dilihat dan juga lengkap. Hal tersebut ditunjang dengan pelayanan yang ramah dari karyawannya, help-full dan professional.
Lebih dalam lagi, kami mencoba kegiatan iseng akhir pekan untuk mengecek detail barang yang dijual. Pertama, tak satupun barang yang tanpa garansi. Kedua, barang-barang tersebut easy to use (hal terpenting dari jualan hardware) dan Ketiga adalah lengkap (penulis mendapatkan alat pemasang lampu tinggi hanya di disini). Keempat, lagi-lagi harga yang wajar. Kelima, Ace Hardware terbukti selalu men-training karyawannya setiap periode untuk meningkatkan performa dan personality (dari wawancara dengan salah satu karyawan).

So, tidak berlebihan apabila penulis meletakkan ACES  sebagai perusahaan yang memiliki nilai lebih, atas dasar performa barang penjualan maupun pelayanan yang mumpuni. Meskipun Aces Hardware merupakan pemegang lisensi tunggal dari Aces Hardware USA yang berarti SOP mengikuti induk, namun melihat apa yang ditulis diatas, maka rasanya tak salah untuk menyebut perusahaan ini sebagai target investasi selanjutnya. Menarik bukan?

Ini adalah satu-satunya perusahaan keuangan yang akan kami bahas disini berdasarkan saran seorang rekan partnership yang berpengalaman dengan salah satu bank terbesar di Indonesia ini. Lantas kalau bank, kenapa tidak BCA?? atau Mandiri yang jaringannya nya menyebar di setiap penjuru tanah air?? Betul, sangat betul untuk menyebut BCA dan Mandiri kedua duanya adalah perbankan terbesar yang melayani masyarakat dengan beragam kemudahan. Tapi BRI, selain termasuk tiga besar bank di Indonesia, bank tersebut memiliki satu kelebihan. Yaitu melayani masyarakat di daerah dan pedalaman Indonesia dengan cukup baik.

Penulis tidak akan membahas angka-angka untuk BRI (Bank identik dengan angka) namun lebih mengkhususkan untuk membahas lingkup dan nilainya dimata konsumen.

BRI pada awalnya dan hingga saat ini mengkhususkan diri sebagai bank dengan lingkup masyarakat daerah, lebih menjangkau para pengusaha UKM dalam negeri dengan kredit usaha. Hal ini dirasakan langsung oleh rekan partnership kami ketika beliau tinggal di daerah Jember, Jawa Timur.

Singkat kata, rekan kami tersebut memulai usaha dibidang penjualan beras dan bibit tanaman budidaya, saat itu di tahun 2000an cukup sulit untuk mendapatkan kredit usaha dari bank manapun dimana pihak bank selalu meminta ditunjukan hasil usaha nya terlebih dahulu dan bla..bla..bla yang artinya penulis tidak paham seutuhnya. Intinya rekan kami ingin meminjam uang untuk memulai usaha. That's enough

Akhirnya setelah enam bulan mencoba mengajukan proposal ke bank daerah dan swasta akhirnya justru dia bertemu seorang kredit analis dari BRI, hal yang sebaliknya dilakukan BRI adalah justru menantang rekan kami tersebut membuat proposal sebagus mungkin untuk di presentasikan. Dan waktu yang di sediakan adalah satu minggu! Dengan semangat membara, akhirnya beliau sukses mendapatkan kucuran kredit usaha rakyat (KUR) dari BRI, dan ternyata bukan itu saja, BRI .juga mengundang rekan saya tersebut untuk mengikuti berbagai pelatihan tentang Supply Chain Management dan Pengembangan Budidaya Pepaya California.

Memang tidak semua peminat modal beruntung seperti rekan saya, karena kebanyakan bank memang menganut prinsip kehati-hatian. Hal ini wajar untuk meminimasi kredit macet yang sangat merugikan pihak bank, mayoritas memang sang peminjam harus bisa membuktikan bisnis yang dijalani selama minimal enam bulan.

Melihat beberapa hal dari BRI ini: Kapitalisasi pasar, Pertumbuhan Kredit, Sistem Manajemen yang dianut (BRI sangat concern terhadap Good Corporate Goverment - baca link ini) dan tentunya kesungguhan dalam melayani pengusaha daerah, maka sangat pantas apabila kami segera menginvestasikan hampir 20% dari portfolio ke perusahaan ini.

Salam Invest

Penulis




Read more →

11 Agt 2014

Portfolio Saham Juli 2014

,

Srimaya Investment merupakan sebuah sarana pengelolaan dana Investasi yang kami mulai bentuk pada 2013, bertujuan kedepannya sebagai Manajemen Investasi  yang hanya fokus pada Investasi Saham. Sembilan bulan yang tergolong singkat untuk ukuran sebuah portfolio, masih belajar merangkak adalah ungkapan yang tepat untuk menggapai kiprah nya sebagai perusahaan partnership Investasi yang mumpuni di Indonesia.

Penting sekali pada tulisan pertama ini untuk mengedepankan penjelasan pendekatan yang digunakan Srimaya Investment untuk memilih sebuah saham perusahaan, karena sangat bersiko jika seorang partnership yang bergabung hanya tahu suatu saham perusahaan dipilih karena 'harga sahamnya sedang naik', 'trend bullish', 'blue-chip' dan berbagai istilah lazim lainnya sehingga terkadang tidak melihat 'nilai' yang nyata dari perusahaan tersebut.

Kami mengedepankan sebuah metode konservatif, mirip dengan apa yang dilakukan Warren Buffet, Benjamin Graham, Peter Lynch, Lo Keng Hong, Teguh Hidayat ataupun Parahita. Yup, sebuah pendekatan Fundamental untuk menyaring perusahaan yang kami anggap baik dan berpotensi di antararatusan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan juga dengan sebuah pendekatan sederhana dari sebuah 'Nilai Jual'. Sesuatu yang akan kami bahas kemudian.

Fundamental

Mungkin banyak dari kita sudah mengetahui bahwa pendekatan Fundamental adalah pendekatan yang sangat fokus terhadap kinerja dan laporan keuangan emiten, mencermati perbandingan keuntungan nilai per saham dengan harga saham (PER), Perbandingan nilai buku dengan harga saham (PBV), rasio hutang (DER), kinerja laba rugi, kinerja aset dan juga  persentase laba bersih dengan ekuitas (ROE) yang telah sangat banyak di bahas di berbagai blog dan seminar. Sehingga memberi gambaran yang jelas bukan hanya terhadap nilai saham, tetapi juga nilai bisnis perusahaan tersebut.

Satu hal  tambahan, Kami juga menggunakan analysis teknikal untuk mengetahui pola pergerakan saham sehingga menunjang keyakinan kami  terhadap timing. Tapi, bukan berarti analisi teknikal kami gunakan kapan keluar dan kapan masuk dengan seenaknya. Sekali lagi, kami bukan traders, kami ialah Investor yang membeli perusahaan, bukan hanya membeli saham.

Gambaran umum kinerja

Quartal 1

Awal mula investasi secara partnership di Srimaya Investment kami lakukan dengan pembagian portfolio yang jelas dengan dua pembagian kategori: 70% saham kategori  value dan 30% saham kategori umum / blue-chip (growth). Hasilnya ialah kenaikan sebesar 9.00% dalam kurun waktu 3.5 bulan. Hampir saja mengalahkan kenaikan IHSG 10% di periode yang sama. Berikut tabel portfolio Quartal 1.


Tabel 1. Portfolio Quartal 1



Tabel 2. Pembagian kategori 


Tabel 3. Pembagian Portfolio per Sektor Bisnis Q1

Quartal 2 dan Kinerja kedepan

Namun kondisi di Quartal 1 tidak tercermin pada Quartal 2, kami akui terdapat ketidaksabaran terhadap pengambilan keputusan pada Juni 2014 yang mengakibatkan penjualan (profit taking) beberapa saham yang memang saat itu mengalami kenaikan yang drastis diantaranya BRI, Wijaya Karya dan Lippo Grup dari kategori growth dan Wintermar Offshore, Multipolar dan Tiga Pilar Sejahtera di kategori value, sehingga terkesan konsep fundamental di atas menjadi  tidak berguna dan mengakibatkan portfolio saat ini bernilai minus 0.11%, dibanding IHSG yang melonjak amat tajam 5% dari 3 bulan pertama saat kami mulai menjual. Apalagi issue yang baik akibat terpilihnya presiden baru RI yang sesuai dengan harapan pasar.


Tabel 4. Portfolio Quartal 2 - saat ini

Mulai bulan ini - Agustus 2014, kami mulai fokus untuk mencari saham-saham berfundamental baik, memiliki kinerja yang selalu berkembang, tidak pernah putus dalam melakukan corporate action, dan lebih baik lagi jika perusahaan kategori tersebut adalah perusahaan yang sahamnya sedang undervalue alias murah dibawah nilai intrinsiknya. Untuk itu kami memutuskan untuk sedikit menambah pembagian kategori growth menjadi 60-40. Dengan harapan kami bisa mendapatkan saham-saham tersebut ketika kondisi pasar bearish sesuai beberapa pengamatan yang terjadi dimana kondisi IHSG yang saat ini sudah demikian menukik ke atas (start to bubble)

Untuk itu, langkah pertama kami mengurangi kepemilikan di saham saham energi terutama batubara, revenue yang tinggi di Quartal 1 hanya terdapat pada Wintermar Offshore, itupun karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan transportasi, memiliki cukup banyak armada yang memadai sehingga bisa mengurangi beban biaya penyewaan. Untuk yang lain, cukup beresiko untuk berinvestasi pada saat sekarang ini apalagi tergolong perusahaan operator batubara. 


Tabel 5. Pembagian Portfolio berdasarkan Q2

Yang kedua, beberapa perusahaan blue-chip dengan kapitalisasi pasar besar khususnya BUMN akan menjadi alokasi terbesar kami seiring optimisme pasar terhadap Presiden terpilih yang telah terbukti memberikan beberapa kali market jump dengan beberapa pernyataannya. Untuk itu perusahaan - perusahaan tersebut memberi harapan akan memberikan capital gain tinggi ketika pasar naik namun jangan dilupakan, bahwa jenis perusahaan ini juga bisa memberikan dampak resiko yang tinggi ketika pasar turun.

Yang ketiga adalah mencermati beberapa saham jenis value. Karena perusahaan jenis ini memiliki hal yang sangat menarik, walaupun kapitalisasi pasar perusahaan jenis ini  mungkin terbilang biasa saja, namun perusahaan tersebut mampu untuk mencetak laba di setiap periode, terus meningkat dan juga terkadang memberikan imbal bagi hasil / dividen yield yang diatas 3%. Bahkan seorang fund manager yang rajin dan teliti mampu menemukan  perusahaan jenis ini yang dapat memberikan Return of Equity rata-rata tahunan diatas 20%, sama bahkan lebih dari perusahaan blue-chip. Disamping itu perusahaan jenis seperti ini ‘tahan’ banting terhadap imbas yang terjadi akibat kejatuhan pasar.

Tipe eksentrik dari saham jenis ini adalah waktu, sangat dibutuhkan kesabaran dalam waktu 2 hingga 5 tahun kedepan sebagai realisasi keuntungan yang optimal dan kami sendiri tidak berharap untuk memperoleh kinerja yang lebih baik dari  IHSG ataupun Dow Jones dalam kurun waktu 1-2 tahun, tapi kami berharap untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik saat kondisi pasar turun (resiko minimal) dan juga mendapatkan kinerja maksimal dalam waktu yang cukup panjang.

Target

Target kami yang utama adalah meminimalkan resiko dimana kami berharap hanya akan turun 0.5% untuk setiap 1% penurunan IHSG. Misalnya, jika IHSG mengalami penurunan 5% dan kami mengalami penurunan 2%, maka dari sisi resiko kami menilai portfolio kami cukup berhasil. Tujuan selanjutnya sudah jelas ialah mendapatkan revenue yang signifikan atau memiliki istilah beat the market. Mungkin dalam jangka waktu pendek portfolio kami hanya akan naik 0.5% untuk setiap 1% kenaikan IHSG, tapi secara kumulatif jangka panjang (2-5 tahun kedepan) harapan kami kenaikan 20-40% adalah suatu hal yang realistis.

Table gambaran kasar terhadap Investasi target 5 tahun kedepan:
Year
IHSG
Cumm
 K&P 
Cumm
1
10%
8%
2
-8%
2%
-6%
2%
3
8%
10%
8%
10%
4
15%
25%
15%
25%
5
-7%
18%
-5%
20%

Gambaran di atas mungkin terlalu subyektif dalam menilai pasar dimana secara fundamental penurunan signifikan sangat jarang terjadi kecuali terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di dalam sebuah Negara. Di Indonesia sendiri, siklus penurunan IHSG secara dalam terjadi dalam kurun waktu 10 tahun. Pertama terjadi pada tahun 1998 dan berikutnya pada tahun 2008, namun tetap prediksi terhadap kondisi penurunan tersebut merupakan hal mutlak untuk diperhitungkan dalam pengelolaan portfolio.

Kedepannya, kami akan selalu berusaha meng-update gambaran umum kondisi pasar modal terkini dengan kegiatan investasi kami pada setiap kuartal.

Salam
Penulis

Note: Srimaya Investment merupakan perubahan nama dari Kusumo & Partners karena usulan keluarga untuk membentuk sebuah wadah investasi yang lebih profesional dan tergabung di dalam Srimaya Segoro Artho. 



Read more →

10 Agt 2014

Analisa Saham Fundamantal - Value Investing: Menghitung Harga Wajar Saham - Part 2

,
Setelah di postingan terdahulu berjudul Value Investing: Menghitung Harga Wajar - Part 1 , kita sekarang mulai melakukan valuasi terhadap salah satu saham yang memenuhi kriteria Screening Saham yaitu PWON atau PT Pakuwon Jati, emiten yang bergerak di bidang property developer di Jakarta dan Surabaya.

Bagaimana menghitung harga wajar PWON? Mari kita simak,

A. Screening Saham 

Sesuai Screening Saham, maka PWON masuk kedalam kriteria pilihan Srimaya Investment. Baik dari sisi sektor (emiten ini bukan bergerak dalam bidang komoditas), Revenue, ratio hutang dan rata-rata pertumbuhan laba 5 tahun. Silahkan membaca  Screening Saham PWON terlebih dahulu.

B.  Valuasi Saham

Dari laporan keuangan kita dapatkan:

1. Profil Saham Emiten

  • PER = 11.71x
  • Average Growth Rate = 99.1%. pertumbuhan laba sangat besar dikarenakan di tahun 2008 PWON mengalami kerugian dan bangkit menjadi positif di tahun 2009. Karena Average Growth Rate > 15%, maka kita gunakan asumsi 15%.
  • EPS disetahunkan. EPS tahun berjalan Q2 = 18.79, EPS disetahunkan = 18.79 x 4 / 2 = 37.58
  • Dividen tahun terakhir = Rp. 4.5 per 2013. Dividen Payout Ratio = 11.97%
  • Risk Premium = 12.88%

2. EPS Next Year

EPS year+1 = 37.58 + (37.58 x 15%) = 43.22
Sesuai pengurutan maka nilai EPS hingga tahun ke 10:

3. Menghitung prediksi harga saham tahun ke 10

Harga saham y10 = EPS y10 x PER, sehingga:
Harga saham y10 = 152.04 x 11.71x = Rp. 1,824

 4. Menghitung Total Dividen tahun ke 10

Total Dividen = 11.97% x 877 = Rp. 105.07

5. Menghitung Total Harga Saham di tahun ke 10

Total harga saham di tahun ke 10 = 1824 + 105.07 = Rp. 1,929.5

6. Menghitung Harga Wajar Saham saat ini

Dengan Risk Premium 12.88%  maka valuasi menjadi:

7. Menghitung Margin of Safety

Dengan harga saham saat ini Rp. 420, maka

MOS = 574 - 420 x 100% = 36.78%
                  420

Karena MOS > 30%, maka PWON cukup masuk kriteria value stock saat ini.

Salam Investasi
Read more →

9 Agt 2014

Analisa Saham Fundamental - Menghitung Harga Wajar Saham (Part 1)

,

Perhitungan harga wajar saham dilakukan setelah kita mengetahui saham apa yang lolos pada seleksi awal (silahkan baca dulu di: Seleksi Saham Unggulan). Perhitungan harga wajar saham atau valuasi saham dilakukan dalam tahap sebagai berikut :

1. Menentukan profil saham emiten

Profil disini mencakup:
  • Nilai PER
  • Nilai PBV
  • Nilai Rata-rata pertumbuhan laba selama 5 tahun terakhir (Average Growth Rate)
  • Nilai EPS di setahunkan = Laba bersih kuartal terakhir / Jumlah saham beredar. Jika laporan keuangan yang anda dapatkan adalah laporan keuangan kuartal 1, maka nilai EPS x 4 / 1, jika kuartal 2 maka EPS x 4 / 2, jika kuartal 3 maka EPS x 4 / 3, jika kuartal 4 maka EPS x 4 / 4 
  • Dividen yang dibagikan tahun terakhir, lalu dihitung dividen payout ratio atau ratio nilai dividen dengan laba bersih perusahaan. Dividen Payout Ratio = Dividen / Laba bersih
  • Nilai Risk Premium, saat ini untuk Indonesia mayoritas memakai angka 12.88%. Anda bisa download di sini.
Anda bisa mendapatkan profil saham emiten dengan mengakses laporan keuangan emiten di Bursa Efek Indonesia dengan Klik Disini atau Reuters dan juga Bloomberg. Jika anda ingin lebih lengkap biasanya anda perlu jasa berbayar semacam Stockbit atau FT.com

2.  Menghitung EPS next year

EPS next year adalah nilai EPS yang diharapkan (ekspektasi) di tahun-tahun mendatang dengan memperhitungkan persentase pertumbuhan laba perusahaan. 

EPS year+1 = EPS year0 + (EPS year0 x Growth Rate), kita ambil asumsi growth rate 15% sehingga:


EPS year 0 adalah EPS saat ini yang ada di laporan keuangan sedangkan EPS y10 adalah EPS prediksi pada tahun ke 10, demikian selanjutnya..

Total EPS adalah jumlah total EPS dari tahun 1 (y1) hingga tahun ke 10 (y10)

3. Menghitung prediksi harga saham tahun ke 10

Dengan mempertimbangkan PER pada saat ini kita memprediksi nilai saham pada tahun ke 10 dengan mengalikan EPS y10 dengan PER, sehingga harga saham y10 = EPS y10 x PER

4. Menghitung prediksi total Dividen hingga tahun ke 10

Kita asumsikan perusahaan selalu membagi dividen dengan persentase yang sama setiap tahunnya hingga tahun ke 10 maka kumulatif Dividen yang kita terima di tahun ke 10 adalah Total Dividen = Dividen Payout Ratio x Total EPS

5. Menghitung Total harga saham di tahun ke 10

Total harga saham di tahun ke 10 = Harga saham tahun ke 10 + Total Dividen

6. Menghitung Harga Wajar Saham saat ini

Harga wajar saham saat ini kita cari dengan cara perhitungan mundur setelah kita bisa memprediksi berapa harga saham di tahun ke 10. Jelas sekali metodenya karena dari awal kita memprediksi berapa laba bersih per saham / EPS di masa mendatang.

Harga saham y9 (Price y9) = Price y10 
                                      (1+Risk Premium %)

Risk premium merupakan nilai resiko yang diperhitungkan akibat terjadinya inflasi, suku bunga bank dan juga kondisi moneter per masing-masing negara, sehingga membagi dengan risk premium di harapkan imbal hasil yang di dapat setidaknya sama dengan nilai risk premium tersebut 

Rumusnya menjadi:


Rumus dari harga wajar saham sudah selesai, namun belum cukup sampai disitu. Kita juga harus memperhitungkan berapa nilai sebenarnya dari saham tersebut dengan memperhitungkan ekuitas. Nilai sebenarnya dari saham disebut juga Instrinsik Value. Sehingga rumus Intrinsik Value menjadi:

Intrinsik Value = Fair Value y0 + Equity per share

7. Menghitung Margin of Safety

Margin of Safety (MOS) adalah tingkat keamanan yang terdapat dalam harga saham saat ini berbanding nilai intrinsiknya.

MOS = Intrinsik Value - Price y0 x 100%
                           Price y0

Secara umum, persentase pemakaian minimal nilai Margin of Safety dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
  1. Nilai 10% - 20%, digunakan untuk perusahaan big-cap (papan atas), biasanya banyak terdapat dalam lingkup LQ-45. Untuk perusahaan diluar LQ-45 sebaiknya memiliki rata-rata pertumbuhan laba 3 tahun terakhir diatas 20%. 
  2. Nilai 21% - 40%, digunakan untuk perusahaan kelas menengah dengan pertumbuhan laba 3 tahun terakhir dibawah 20% dan diatas 10%.
  3. Nilai > 40%, digunakan untuk perusahaan kecil dan juga perusahaan dengan pertumbuhan laba dibawah 10%. 

7. Testing

Tahap terakhir adalah testing, bagaimana menge-test kalkulasi diatas terhadap saham? baca selanjutnya di Value Investing: Menghitung Harga Wajar Saham - Part 2

Salam Invest

Penulis
Read more →