4 Jul 2015

Why I Am Buying Unilever?

,
Ketika beberapa orang beranggapan bahwa bursa saham bukanlah investasi namun tak lebih dari sarana bermain saham atau dengan sebutan trader sehingga muncul istilah bahwa sejatinya hanya ada dua kategori "pemain" di bursa saham yaitu momentum dan positioning trader, alih-alih investor. Namun saya justru mendapatkan cukup banyak email pertanyaan soal hasil investasi Srimaya yang saya posting pada bulan Mei lalu di SINI, dimana imbal hasil yang didapat cukup lumayan untuk hasil orang biasa seperti saya (bukan instansi).

Pertanyaan rekan-rekan cukup beragam, diantaranya:
  • Very genius, Apa rahasianya pak? (kayak iklan jamu obat kuat)
  • Apa kriteria untuk bisa memilih saham seperti itu? Apa cukup dengan value investing?
  • Bagaimana anda cukup sabar menunggu selama itu (7 tahun) untuk satu saham saja?
  • Pasti bapak sudah dapat bocoran Outlook 2009 ya?
  • Dapat informan dari siapa pak? Tim bapak insider semua ya? Boleh saya gabung di tim insidernya? 
  • Kapan bapak buka pelatihan? Naah lho...Dan banyak lagi..

One Shoot One Kill

Cukup sulit ditahun 2008 untuk bergerak kembali masuk ke dunia saham setelah tiga bulan sebelumnya uang saya nyaris habis di bursa saham setelah IHSG anjlok besar, hanya satu orang yang memberikan saya pencerahan di waktu itu, ayah saya yang justru balik bertanya;

"Di kantor kamu sudah banyak pemecatan? apa ada kerusuhan sampai bakar-bakaran? Pasar emang udah enggak jual ayam?"

Apa jawabannya?

Semua jawaban itu bermuara ke satu jawaban: Tidak, dan selama kata "tidak" menjadi jawaban maka saya yakin bahwa ekonomi kita baik-baik saja, dan saya semakin yakin bahwa IHSG akan bangkit setelah melihat bapak Presiden kita yang gagah waktu itu masih wira-wiri di televisi tanpa menyinggung sama sekali kondisi ekonomi.

Toh diantara itu saya sempat berkelit dengan mengatakan dampak hutang Yunani, tapi apa yg terjadi? Tanpa ekspresi beliau hanya berkata;

"Yunani? emang kamu ngutang sama dia?". Crap!

Disitu saya yakin, kondisi kita masih aman dan di tahun itu pula akhirnya saya memutuskan untuk fokus pada mikro yang artinya fokus di dalam mencari saham. Saham yang di cari adalah saham yang BAGUS, betul betul bagus karena saham ini akan saya jadikan pondasi investasi saya nantinya.

Jika ada yang bilang di atas bahwa saya jenius, anda salah besar. Karena jargon, everybody genius when crisis, and be more genius when bullish adalah benar (anda coba buktikan berapa buku saham yang terbit di gramedia setelah drop 2008?).

Begitu banyak saham yang bernilai murah pada saat itu dan yang membuat bingung lagi adalah kondisi keuangan yang minim, sehingga target saya hanyalah mencari satu saham. Jika di dunia sniper ada ungkapan one shoot one kill, maka saatnya saya uji ungkapan itu.

Mengapa Unilever?

Jawaban saya, pertama adalah Unilever (UNVR) memiliki nilai lebih, lebih dari angka atau apapun, produk Unilever sudah menjangkau kita semua dan cukup sulit dilepaskan, mulai dari peralatan mandi, kecantikan, alat bayi, hingga es krim. Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa keberhasilan Unilever adalah karena dua hal:
  1. Karena iklan yang terus menerus di tayangkan sehingga sangat menancap di otak rakyat Indonesia.
  2. Menciptakan mass produk yang dapat ditemukan dari pasar becek hingga top supermarket. 
Memang benar, dengan dua hal di atas, Unilever secara kontinu menciptakan apa yang dinamakan Moat (Arti MOAT klik disini). Sebaiknya anda mencermati baik-baik juga apa arti dari Moat ini. Karena untuk sebuah kata Moat, Unilever terus menerus beriklan dan berproduksi tanpa bosan sejak era 1970an hingga saat ini. 

Konsistensi dan ROE

Pada saat itu, kerjaan saya sepulang kantor adalah merunut satu per satu laporan keuangan emiten yang cukup sulit di dapat di tahun itu dan menyusunnya dalam satu tabel excel. Selama dua bulan dan hampir setiap malam saya membandingkan satu perusahaan dengan perusahaan lain, antara ASII dengan INDF, BBRI dengan UNVR, TLKM dengan KLBF dan seterusnya hingga saya menemukan satu kata: Konsistensi.

Apa kaitan konsistensi dengan investasi?

Konsistensi pada laju pertumbuhan perusahaan mempermudah kita di dalam menilai manajemen perusahaan. Kenyataannya, manajemen yang baik selalu menekankan pada kinerja usahanya bukan kepada aksi korporasinya, sehingga para manajer dan direktur lebih sering duduk bersama untuk membahas strategi pemasaran, grafik penjualan, dan launching produk dibanding membahas kapan right issue atau kapan menerbitkan surat hutang.

Berikutnya adalah ROE atau Return on Equity (Cara menghitungnya klik disini). ROE bukan dilihat dari kemajuannya tapi dari besar dan konsistensinya. ROE adalah rasio yang digunakan untuk melihat bagaimana efektifnya modal yang disetor dalam menghasilkan laba.

Mengapa ROE?

Karena kita sebagai investor adalah pihak yang ikut menyetor dana ke perusahaan yang kita pilih dan sewajarnya jika kita menuntut hasil yang maksimal dari perusahaan itu. Semakin tinggi nilai ROE maka semakin efektif bisnis perusahaan, semakin stabil nilai ROE maka semakin bagus pondasi perusahaan.

Perhatikan tabel di bawah:

Unilever tercatat sebagai salah satu emiten yang hampir tidak pernah mengalami penurunan kinerja, baik laba bersih, laba operasi maupun pendapatan. Selama 17 tahun hanya pada tahun 2005 dimana laba operasi turun -0.3%, hanya -0.3% dibanding CAGR yang dimiliki sebesar 48.18%.

Begitu pula kinerja ROE yang tercatat memiliki rata-rata 84.5% selama '99-2015. Dan selama '99-2008, ROE rata-rata sebesar 63.16%. Angka ini jelas jauh melebihi ekspektasi para ahli dimana nilai ROE berkategori sangat baik dipatok berkisar antara 17%-25%. 

Apa artinya nilai ROE sebesar itu? 

Ini artinya jika anda meletakkan uang 100 rupiah di saham UNVR maka anda akan mendapat keuntungan bersih rata-rata 63 rupiah setiap tahun tanpa bekerja

Jika anda punya 1 milyar rupiah dan anda letakkan di UNVR, maka hampir dipastikan anda telah mencapai kebebasan finansial tanpa perlu ikut seminar.

Owner Earning dan Dividend

Jangan pernah bicara tentang investasi jika anda tidak bisa memastikan berapa uang nyata yang bisa perusahaan tunjukkan kepada anda, berapa uang kas bebas dan berapa laba sebenarnya untuk para pemegang saham. Ini adalah kunci pokok ketika kita ingin ber-investasi.

Contoh kecil, saya ingin meng-investasikan uang saya dalam bisnis tahu goreng yang dijalankan oleh teman, dalam 1-2 tahun jualan tahu goreng tersebut berubah menjadi restoran tahu goreng yang terkenal dengan keuntungan 10x lipat dari awal. 

Apa yang anda lakukan sebagai pemegang saham?

Anda pasti bertanya mana keuntungan buat saya? betul? Yap, jika pada tahun pertama atau pada beberapa tahun kedepan si teman mengatakan bahwa mereka belum bisa membagi keuntungan kerena akan ekspansi tahu goreng ke Jepang, oke bisa dimaklumi karena mereka masih butuh CAPEX yang besar untuk berkembang. Tapi jika lebih banyak tahun dimana anda tidak mendapat apa-apa. Hei jangan-jangan anda sedang ditipu!

Ada dua hal yang bisa anda lihat apakah perusahaan diurus oleh pihak yang benar dan bertanggung jawab atau tidak. Pertama ialah laba pemilik atau Owner Earning  (Selengkapnya silahkan baca disini) dan kedua ialah Dividend.

Silahkan simak tabel dibawah ini


Dari tabel diatas secara konsisten UNVR terus membagi dividend kepada pemegang saham dengan angka payout ratio yang terbilang fantastis, jika melihat secara rata-rata maka Dividend Payout Ratio berkisar di angka 83%. Saat ini hanya Sidomuncul (SIDO) yang membagi dividend sebesar itu.

Bahkan pada tahun 2004, 2005 dan 2011, dividend UNVR melebihi laba bersihnya. Ini pertanda bahwa  manajemen UNVR selalu berusaha menyediakan apa kebutuhan pemegang saham. Jika dividend dirasa kurang atas permintaan pemegang saham maka pihak manajemen UNVR tidak segan-segan mengeluarkan tabungannya dari simpanan tahun-tahun sebelumnya. Ini menunjukkan sikap moral dan etos yang luar biasa dari para manajemen.

Selanjutnya tentang laba pemilik / owner earning yang terus tumbuh, ini mengindikasikan secara jelas bahwa manajemen UNVR bukanlah tipe manajemen yang asal ekspansi, asal akuisisi, asal menghambur-hamburkan uang dengan menggunakan Capex sebagai modal. Tetapi dengan perhitungan matang bahwa setiap jengkal ekspansi dan akusisi haruslah menciptakan laba pada tahun selanjutnya dan itu terbukti. Pembuktian inilah yang menimbulkan apa yang dinamakan TRUST oleh para pemegang saham.

Apa artinya?

Artinya anda sebagai pemilik saham dihormati layaknya Raja Brittania Raya.

Bagaimana dengan uang kas?

Uang kas operasi yang selalu terjaga di angka positif menunjukkan UNVR tidak pernah menemui kendala berarti dalam pembayaran ke pemasok dan tentunya dana dari pelanggan, karena kebijakan cash payment membuat UNVR sedikit memiliki piutang dan hutang.

Anomali dan Keberuntungan

Oke, kita hanya membahas tahun dimana saya memutuskan membeli saham UNVR, yaitu tahun 2008. saham UNVR yang pada saat itu seharga 6500 rupiah per saham termasuk salah satu saham yang tetap stabil pada saat anjloknya IHSG. Sebelum dan sesudah kejatuhan IHSG, CAGR saham UNVR tercatat hanya naik 15% sejak akhir 2006 hingga akhir 2008, lalu berapa CAGR laba operasi  UNVR di periode yang sama? laba operasi naik 39.78% atau lebih dari 2 kali lipat harga sahamnya. 

Mengapa demikian? 

Anda perhatikan lagi, kenaikan laba operasi jauh diatas kenaikan harga sahamnya sendiri, padahal kita tahu bahwa pasar modal kita adalah pasar efisien bentuk lemah (weak-form) atau bahkan in-efficient sehingga harga saham selalu bergerak mengikuti rumor dan pelaku pasar yang cenderung over-reaction terhadap saham-saham berfundamental bagus. 

Inilah mengapa yang membuat saham-saham yang berfundamental bagus harganya naik melebihi kenaikan laba operasinya, dan ini dialami oleh saham-saham seperti TLKM dkk di bulan-bulan sebelum IHSG drop,

Tapi yang terjadi pada UNVR saat itu adalah sebuah anomali, entah mengapa saham UNVR diperdagangkan biasa-biasa saja, PER saat itu senilai 20.5x dengan PEG ratio 0.52x. Untuk seorang Value-Growth Investor, ratio ini sudah cukup  menarik. Dan bagi saya, anomali ini adalah keberuntungan, yes! lucky is not everyday. Ini salah satu rahasia jika anda ingin nilai investasi anda outperform. Temukan anomali.

Kesabaran

Dari pertanyaan rekan-rekan diatas, ada yang menanyakan tentang kesabaran saya dalam memegang saham UNVR. Terus terang bahwa kesabaran bukanlah keistimewaan. Analogi yang menarik seperti ini:

Jika anda memiliki istri yang cantik jelita, kaya, sholeh, pintar masak, ramah, darinya anda punya anak dua yang lucu dan pintar, dan selama hidup dengan anda dia hanya melakukan sedikit sekali kesalahan. Apakah jika suatu saat istri anda melakukan kesalahan yang sama anda langsung menceraikannya?

Sebaiknya anda renungkan.

Valuasi saat ini

Untuk valuasi saat ini, sayangnya saham UNVR bukanlah merupakan tipe perusahaan yang cocok untuk Value Growth Investing, tapi tergolong perusahaan long life & everlasting karena valuasi sahamnya sudah terlalu mahal, PER sudah 40x keatas dan dengan margin of safety yang sangat kecil. 

Jika saat ini anda ingin masuk ke saham UNVR, tiga hal yang perlu anda lakukan: Jangan melakukan valuasi, beli dan tidurlah.

Kalaupun ingin bersabar, saya tidak tahu kapan Indonesia akan crash, karena saya pribadi tidak ingin seperti itu.

Lantas, apa perusahaan yang cocok saat ini, atau minimal yang setara dengan UNVR?

Memilih saham UNVR pada tahun 2008 lalu adalah puncak dari seluruh aktifitas valuasi saham. Hampir semua jenis kategori valuasi dari tingkat awam (kinerja dan neraca keuangan) hingga tingkat lanjut (DCF, likuiditas, IRR, Intrinsik Value Charles Mizrahi & Benjamin Graham, Altman-Z Score dll) dilakukan untuk studi kelayakan investasi. Dan hasilnya menakjubkan, UNVR lolos dari semua kategori diatas.

Dengan kondisi nyaris sempurna seperti itu, maka hampir tidak ada perusahaan saat ini yang selayak saham UNVR pada 2008, jika mendekati mungkin anda bisa lebih berselancar di blog ini untuk menemukan perusahaan yang sekiranya cocok dengan style anda seperti Astra Graphia (ASGR) atau BBNI dan UNTR. Beberapa sudah ada yang saya bahas jadi tinggal tugas anda menemukan 'kunci rahasia' untuk berinvestasi.

Jika anda beruntung dan jeli, maka anda bisa menemukan anomali yang saya sebutkan di atas, dan beberapa investor kawakan seperti Peter Lynch, dia banyak menemukan anomali pada pergerakan harga saham berbanding kinerja riilnya, dan itulah yang dia katakan sebagai calon ten-bagger.

Salam Investasi

24 komentar:

  1. Nice sharing pak :two:thumbs

    BalasHapus
  2. Mungkin jika Unilever sudah banyak yang tahu kenapa harus dibeli ehe, knapa tidak yg second liner pd 2008 lalu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru banyak yg bertanya knp Unilever, dan yg sy ingin sharing adalah strategi dan filosofinya :)

      Hapus
    2. Btw maaf, ini bapak Hermawan Kertajaya?

      Hapus
    3. Betul mas ryo..hehehe, mantaab!

      Hapus
  3. Terimakasih sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  4. Kania S Ludwig4 Juli 2015 19.41

    Filosofi yang menarik dan patut di ikuti oleh para investor pemula, sayangnya investor pemula terlalu banyak yg tertarik menjadi trader krn di kira saham bisa kaya dgn instant, toh mereka kerjaannya cuma bertanya 'saham apa yg dbeli hari ini'. Padahal saham jauh lebih complicated
    Harus ada gerakan cerdas investasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju gerakan cerdas berinvestasi :) thanks Kania

      Hapus
  5. JIKA SUDAH TERLALU MAHAL, MAKA TINGGAL MENUNGGU WAKTU SESEORANG ATAU SEKELOMPOK ORANG AKAN MELAKUKAN SHORT SELL HINGGA NILAI INTRINSIKNYA. SENTIMEN SEKTORAL ATAU LOKAL ATAU INTERNATIONAL YG DPT MENGHASILKAN EFEK BOLA SALJU AKAN DIPERGUNAKAN DLM MISI SHORT SELL.
    DAN SEYOGYANYA MEKANISME SHORT SELL MEMANG DISEDIAKAN DLM DUNIA TRADING, AGAR NILAI SUATU SAHAM SELALU RELATIF BERHARGA NORMAL.
    PRIBADI SEPERTI JESSE LIVERMORE MASIH BANYAK BERKELIARAN.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Shortsell harus ada triggernya, bagaimana anda bisa bicara shortsell sedangkan anda tidak tahu detail strategi livermore? Trigger apa yang menyebabkan UNVR bisa di sell cepat dalam waktu singkat kecuali ekonomi kita crash, dan saya tidak pernah tahu itu kapan karena menebak seprti itu bagi saya hanya buang waktu

      Hapus
    2. Saya setuju dgn pak ryo, jika pun terjadi pelepasan saham dr asing harus ada triggernya, misal UNVR akan cabut dr Indo atau yg lain semacam itu kalau tidak ada sesuatu dan kinerja UNVR tetap seperti biasa, walapun di sell secara besar, tetap saja pembeli juga besar, dan kapitalisasi UNVR termasuk yg besar di Indo. Pasti tidak akan sesembarang itu bicara sell. Sayang nama anda anonim

      Hapus
  6. Jane Sembiring6 Juli 2015 00.58

    Good writing attitude!

    BalasHapus
  7. bagus sekali pak.. lalu bagaimana dengan LPCK pak, dia tidak pernah membagikan dividen, dan apakah pantas untuk dikoleksi sekarang ? mengingat kondisi perlambatan ekonomi di indonesia sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan fundamental sebagus itu hrus diteliti lgi knpa LPCK tidak bagi dividen, pasti ada alasannya. Wktu lalu sy pernah bahas klo LPCK blm bagi dividen krn ekspansinya masih besar. Tpi skrg hrus recheck lgi pak

      Hapus
    2. dari informasi yang saya dapat LPCK juga sudah berubah dari penyedia lahan industri ke hunian dan real estate, bagaimana menurut bapak ? ditunggu ulasan berikutnya tentang LPCK

      Hapus
  8. Bukan kan di 2008 ICBP belum ada Pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf maksud saya INDF, thanks koreksinya

      Hapus
  9. Mereka yang mengakumulasi saham blue chip di akhir 2008 adalah orang-orang yang beruntung :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak juga, saya bekerja keras dan mengalami kondisi nyaris bangkrut sebelum membeli UNVR :)

      Hapus
  10. Bagi yg masih hold UNVR (invstor pribadi) udah sejak lama ( 1 tahun lebih ) apa alasan untuk memegangnya di harga skrg yg sudah overvalued ini ? Tidakkah melihat peluang di saham2 undervalued lainnya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Because they love it, and they trust it :)

      Hapus
  11. Dulu Why I am buying UNVR?, skrg why i am buying SIDO? hihi, dibahas dnk kapan mz?

    BalasHapus