16 Jun 2015

Memilih Saham dengan High Predictability Rank

,
Lanjutan dari artikel sebelumnya tentang kriteria Warren Buffet dan Charlie Munger untuk menemukan perusaaan bagus yang harga sahamnya dijual dalam nilai wajar, salah satu kriteria tersebut adalah dengan melihat High Predictability Rank, atau Pemeringkatan perusahaan berdasarkan konsistensi pertumbuhan pendapatan dan laba. Atau bisa disebut prediksi bisnis.

Mengapa memakai model Predictability Rank? Ketika kita ingin berinvestasi kedalam instrument saham, yang akan kita beli adalah future, atau masa depan dari perusahaan yang sahamnya akan kita beli, bukan past atau masa lampau dari perusahaan itu. Saya akui memang sangat sulit membaca future dari sebuah perusahaan. Sehingga yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan prediksi.

So, bagaimana bentuk prediksinya? Syarat utama tentunya yang paling realistis dan paling masuk akal, apa itu? Yaitu dengan melihat konsistensi kinerja dan bisnis perusahaan tersebut, walaupun konsepnya sama dengan analisa teknikal yang juga membaca data historikal saham, namun melihat kinerja perusahaan lebih masuk akal bagi saya karena kinerja perusahaan adalah hal nyata, kinerja manajemen yang mengurus adalah nyata, SDM-nya nyata (bukan makhluk jadi-jadian), penjualan, arus kas dan aksi korporasi baik atau buruk hasilnya adalah nyata, bebas dari rumor, tebak-tebakan, stimulus atau apapun itu.

Buffet dan Munger membagi Predictability Rank perusahaan kedalam 5 kategori berdasarkan laba bersih dan pendapatan. Namun di Indonesia, terdapat banyak komponen yang membuat pendapatan terus meningkat namun laba bersih kadangkala turun akibat pengaruh sisi keuangan non teknis seperti selisih kurs. Dan ini yang seringkali membuat investor terlalu cepat bertindak yang berlebihan sehingga saham perusahaan tersebut langsung anjlok melebihi turunnya laba itu sendiri, tentunya ini kurang cocok diterapkan di Indonesia karena mayoritas konsumen saham adalah trader, sehingga saya mengajukan modifikasi terhadap nilai acuan.

Disini saya memakai operating margin sebagai penghubung antara pendapatan (revenue) dengan laba operasi (operating margin), dan laba sebelum pajak (EBIT). Perhitungan memakai Consistency Ratio (CR) dan dihitung menggunakan software sebagai dasar pengambilan keputusan.

Adapun kriteria dari Consistency Ratio (CR) sbb:
CR < = 10%, Konsistensi diterima
CR > 10%, Konsistensi ditolak

% Konsistensi = 100% - (CR/10%)

Periode sample diambil data 2010 - 2015 (ttm)

✪✪✪✪✪ - 5 Stars 
Kategori bintang lima memiliki grafik pertumbuhan operating margin dan EBIT seperti dibawah. Cukup jarang perusahaan di Indonesia yang memiliki konsistensi pertumbuhan tanpa ragu seperti ini, mungkin hanya 1-5 perusahaan yang punya, termasuk UNVR dan JRPT.

5-Stars Class A. Lippo Cikarang (LPCK)
Growth 52.43%. CR: 1.47%, % Consistency: 85.30%
5-Stars Class B. Astra Graphia (ASGR)
Growth 13.18%. CR 1.64%. % Consistency 83.60%  
✪✪✪✪ - 4 Stars
Kategori bintang empat memiliki konsistensi yang sangat baik, namun terjadi sedikit perubahan laju operating margin (biasanya ada laju bisnis yang agak melambat disuatu periode, atau sebaliknya) yang berakibat membesarnya inconsistency. Contoh grafiknya seperti dibawah ini.


4-Stars Class A. Pakuwon Jati (PWON)
Growth 49.32%. CR. 2.45%. % Consistency 75.54%

4-Stars Class B. Selamat Sempurna (SMSM)
Growth 21.10%. CR 2.68%. % Consistency 73.21%
✪✪✪ - 3 Stars
Kategori bintang tiga ini merupakan kategori mayoritas saham di BEI yang banyak dihuni oleh saham LQ45. Karena kebanyakan adalah perusahaan yang cukup mapan sehingga memiliki konsistensi yang baik namun grafik pertumbuhan yang biasa saja. Contoh: ICBP, TLKM, KAEF dsb.


3-Stars Class A. Kimia Farma (KAEF)
Growth 8.03%. CR 1.32%. % Consistency 86.77% 

3-Stars Class B. Indofood CBP (ICBP)
Growth 10.63% CR 3.45%. % Consistency 65.48%
✪✪ - 2 Stars
Kategori ini memiliki kecenderungan fluktuatif tinggi atau sedang mengalami perubahan laju pertumbuhan laba, yang tadinya naik lalu menjadi turun ataupun sebaliknya sehingga Consistency Ratio membesar. Saham-saham dengan tipe seperti ini biasanya cocok untuk trading jangka pendek. Contoh grafiknya seperti dibawah ini.

2-Stars Class A. Global Mediacom (BMTR)
Growth 24.58%. CR. 6.42%. % Consistency 35.84%
2-Stars Class B. Wintermaar Offshore Marine (WINS)
Growth 20.78%. CR 7.43%. % Consistency 25.67%
✪ - 1 Stars
Ini adalah kategori yang sebaiknya anda hindari terlebih dahulu, karena grafik pertumbuhan mengarah ke negatif. Kecuali memang anda seorang kontantrian sejati, saham-saham seperti ini justru ditunggu datangnya.

1-Star. Krakatau Steel (KRAS)
Growth -5.13%. CR 2.94%. % Consistency 70.56% (negatif)
Mengapa tidak ada satupun saham komoditas di dalam penilaian di atas? Karena saham komoditas tidak lolos dalam kategori Consistency Ratio, hampir semua saham komditas memiliki nilai CR di atas 10% alias berfluktuatif tinggi.

Dengan adanya penilaian diatas, diharap para investor semakin teliti sebelum membeli saham, bukan hanya melakukan valuasi terhadap nilai saham, namun juga melihat pertumbuhan dari emiten yang akan dibeli sahamnya atau dengan kata lain menjadi Value-Growth Investor.

Salam Investasi

*sumber data: stockbit.com

19 komentar:

  1. Bayu Setiaji Dharma17 Juni 2015 20.47

    Thanks sharingnya pak ryo :)
    Mau lihat dong versi lengkap emitennya hehe

    BalasHapus
  2. Menghitung konsistensi ratio itu setahu saya pakai metode AHP, Analytic Hierarchy Process. Apakah pengkategorian saham ini juga pakai metode itu? Mungkin bisa di share pak
    Kebetulan saya dosen di Medan, kalau bisa saya ingin berdiskusi untuk mata kuliah yang saya ajarkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak, sebelum menghitung CR kita gunakan dulu metode AHP untuk menentukan bobot, matrix pertama adalah data historical tahun trhadap OM dan EBIT disini pembobotan saya gunakan sama rata, artinya setiap tahun mendapat bobot 20% (100%/5 thn), matrix kedua adalah OM dan EBIT yg msg2 mendapat bobot 60% dan 40%, stelah itu dihtung dgn metode gaussian (manual) atau dgn software statistik

      Hapus
    2. Terima kasih banyak pak, saya akan lebih detail lagi dgn mengirim email ke bapak.
      Sukses selalu

      Hapus
  3. Saya suka tulisan pak ryo krn ada sisi akademisnya, jdi bisa blajar gak cuma jual bli saham

    BalasHapus
  4. Nice share, klo bisa lebih sering share ilmu investasi yg jarang di publish gini pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak, sebetulnya ini pernah di publish di gurufocus, tapi memang kita tdk familiar

      Hapus
  5. Artinya sekarang saatnya tambah LPCK nih bro? :))

    BalasHapus
  6. Blognya sungguh bermutu pak, teruskan

    BalasHapus
  7. Nice artikel :) pertanyaan saya, apa yg terjdi jika trjadi perubahan mendadak pd manajemen perusahaan kategori bintang 5 tadi pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks pak, ya seperti pd umunya, walaupun bintang 5, klo ada perubahan2 biasanya sahamnya ttp akan turun dulu

      Hapus
  8. kalo perusahaan yg memiliki prospek bagus tp memiliki saldo laba negatif yg sangat besar sehingga hampir mustahil untuk membagi deviden sampai bbrp tahun ke depan, apakah emiten tsb layak untuk dibeli untuk long term/invest ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kroscek dulu laba operasinya, jgn2 yg bapak maksud laba bersih yang hanya quartal 1 2015. Selama laba operasinya terus naik dan pendapatan naik dan bpk yakin itu prusahaan bagus. Kenapa enggak?

      Kcuali mmg laba bersihnya negatif lebih dari 1-2 thn terakhir di setiap kuartal, sy akan menghindar dr saham seperti ini

      Hapus
  9. Thanks atas jawabannya

    BalasHapus
  10. mas ryo..sbnr nya inj mirip konsep visibilitas pak parahita...masalah timbul setelah nya adalah..ketika kita basiskan pemilihan dgn growth...adalah data kita itu adalah data masa lalu..dan kita tdk tau growth nya berenti kapan...jd sdh kayak main russian roulette..ketika growth brenti..biasa nya koreksi gak kira2x...ini terjadi di sektor konstruksi dan prop..dan peg yg rendah dari prop karena harga saham turun lbh besar persentase nya ketimbang perlambatan growth...ada solusi mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trima kasih pak, prtanyaan berbobot. Sebenarnya klo bapak perhatikan di blog ini, sy suka menyebut laju operating margin (operating profit/revenue) silahkan buka http://srimayainvestment.blogspot.com/2015/04/cara-menghitung-operating-margin.html
      krn dr situ kt bisa prediksi bisnis prusahaan itu dalam fase apa.
      Dan pd table di atas, sy sdh modifikasi mggunakan opt margin. Di literatur aslinya, hanya mggunakan revenue dan ebit saja, shingga kadang angka itu menjadi ilusi.
      Kedua, kt bisa prediksi mggunakan ROI, atau IRR, dgn melihat nilai NPV saat ini dan prediksi kita utk growth prusahaan kedepan, maka kita bisa lihat brp IRR kita. Angka ini hrs diatas tingkat bunga dan inflasi kita. Saya pribadi mematok di atas 13%

      Hapus