18 Mar 2015

Laba Pemilik - Harta tersembunyi para Investor

,
Laba pemilik atau owner earnings bisa diartikan sebagai laba perusahaan dalam bentuk cash yang dimiliki penuh oleh para pemegang saham. Disini laba pemilik berbeda dengan laba bersih, dimana laba bersih merupakan perhitungan akutansi yang tidak mempertimbangkan belanja modal sedangkan laba pemilik sudah memperhitungkan belanja modal dan juga depresiasi aset yang dimiliki perusahaan.

Sehingga dengan laba pemilik maka para pemilik modal bisa mengetahui secara lebih nyata, berapa sebenarnya keuntungan yang mereka miliki saat ini untuk mereka habiskan di klub atau kongkow Jumat malam.

Mari kita lihat rumus laba bersih:

Laba bersih = Penjualan bersih - Beban pokok penjualan - Beban usaha - Pajak - Bunga - beban lain-lain.

Sedangkan rumus laba pemilik,

Laba Pemilik = Laba bersih + Depresiasi / Amortisasi + Biaya non tunai - Belanja modal / Capital Expenditure*


* Disini penulis tidak memakai rata rata belanja modal, namun memakai angka belanja modal saat ini sesuai laporan keuangan, agar terlihat lebih nyata antara kegiatan perusahaan dan laba pemilik termasuk mengetahui fluktuasi kapan perusahaan melakukan banyak ekspansi dan kapan sedang vakum.

Mari kita bedah satu per satu:

Laba pemilik atau istilah kerennya owner earnings muncul pada laporan tahunan Berkshire Hathaway tahun 1986, disitu Warren Buffet menulis bahwa untuk  melihat secara nyata berapa keuntungan sebenarnya yang di miliki oleh pemilik saham adalah dengan melihat antara laba bersih dengan bagaimana perusahaan tersebut berkompetisi dan berkembang, artinya pemilik saham harus melihat tentang kebijakan belanja modal / capital expenditure yang di keluarkan oleh manajemen.

Jika perusahaan tersebut adalah perusahaan yang sedang berkembang pesat, maka pemilik saham pun harus maklum jika laba bersih (hasil akutansi) yang dilaporkan sebetulnya tidak sejumlah itu. Mereka harus mempertimbangkan kebijakan manajemen untuk misalnya: menambah mesin, akuisisi lahan pengembangan, perluasan pabrik dan sebagainya. Yang mana dari semua itu pastilah mengambil sisi dari laba bersih, karena laba bersih bisa dianggap sebagai komponen yang paling likuid untuk di gunakan.

Depresiasi / Amortisasi digunakan dalam perhitungan sebagai bagian dari perhitungan aset.  Karena depresiasi adalah bagian dari beban operasional non tunai, sehingga harus di tambahkan kedalam perhitungan laba.

Apakah Perusahaan Untung?


Contoh: Katakanlah si A dalam bulan ini memiliki laba bersih Rp 1000, tetapi bulan ini si A membeli sebuah printer seharga Rp 5000 sebagai aset untuk bekerja (capex). Disini si A memiliki (-) Rp 5000 yang harus dia penuhi dari pendanaan external jika ia ingin tetap untung Rp 1000 tanpa mengambil modal kerjanya.

Lho, harusnya uang beli printer masuk kedalam beban pengeluaran donk? Secara logika: Ya,  tapi perhitungan akutansi tidak seperti itu. Itulah mengapa Buffet memakai laba pemilik sebagai acuan dasar: Apakah perusahaan sebenarnya untung?.


Mari kita lihat laba pemilik dari Astra Graphia (ASGR). Sahamnya sudah pernah dibahas di: Astra Graphia: 10 saham layak beli saat ini


Sumber: Astra Graphia Financial Report
ASGR mencatat pertumbuhan laba pemilik dari tahun 2006 hingga 2014 secara rata-rata sebesar 90% dan secara compound sebesar 24.45%, jika kita mengambil tingkat suku bunga Bank Indonesia selama 30 tahun (non resiko) sebesar 9.02%, maka dengan hanya melihat laba pemilik, ASGR sudah unggul.

Jika kita memakai angka compound earning sebagai patokan dalam perhitungan nilai wajar saham, maka nilai wajar saham ASGR adalah Rp 3,491 per lembar atau terdiskon sebesar 79% dari harga hari ini di Rp 1,940 per lembar.

Dari sini sekaligus bisa dilihat di tabel bahwa ASGR pada tahun 2008 melakukan banyak ekspansi (pembukaan pabrik, lahan, akusisi dsb), namun disisi lain tetap bisa mempertahankan laba pemiliknya yang meningkat dari tahun sebelumnya. Dan hal ini menjadi alasan utama kami untuk masuk ke saham ini di akhir tahun lalu.

Ada contoh berikutnya dengan kasus berbeda di dalam portfolio kami, yaitu Pakuwon Jati (PWON). Valuasi bisa dilihat di Geliat cantik Pakuwon Jati.

Sumber: Pakuwon Jati Financial Report
* Data disetahunkan
Melihat sekilas, PWON bukanlah tipe perusahaan yang konsisten dengan pertumbuhan laba pemilik tetapi tipe perusahaan ekspansi sesuai kultur emiten properti. Disini terlihat bahwa dengan kegiatan ekspansi yang besar pada tahun-tahun yang acak, PWON masih mampu membukukan laba pemilik yang positif. Meskipun pada tahun 2008 laba sempat minus, namun di tahun-tahun berikutnya khususnya 2012 - 2014 laba pemilik PWON berada di angka positif bahkan meningkat signifikan.

Secara compound, laba pemilik PWON tumbuh sebesar 26.47% dan rata-rata pertumbuhan laba pemilik sebesar 17.56%, dengan menggunakan angka 26.47% maka nilai wajar PWON berada pada kisaran Rp 1,422 per saham atau terdiskon 187% dari harga saat ini. Jikalaupun kita gunakan angka pesimis 17%, maka nilai wajar saham PWON masih terdiskon 32%. Masih cukup baik mengingat laba bersih PWON yang meningkat sangat tinggi sejak pembenahan tahun 2008.

Berapa uang anda?

Laba pemilik merupakan komponen 'hidden treasure' untuk melihat secara lebih nyata keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Sayangnya banyak para investor yang masih terpaku pada laba bersih ataupun EBITDA dengan tidak menyentuh sama sekali laba pemilik.

Memang laba bersih dan EBITDA hingga saat ini masih di anggap sebagai perhitungan akutansi yang valid untuk memprediksi kinerja perusahaan, namun jangan lupa bahwa perusahaan kadangkala ber-ekspansi ria tanpa melihat kepentingan pemilik saham.


Berapa sebenarnya uang yang mengalir dari perusahaan ke pemilik saham, itulah point utama pemikian Warren Buffet sebelum beliau membeli saham.


So, jika setelah perhitungan laba pemilik ternyata bernilai negatif (padahal laba bersih positif) maka mudah disimpulkan bahwa perusahaan memakai dana talangan (bahasa halusnya: hutang) sebagai belanja modal, dimana uang cash yang di catat sebagai laba bersih langsung menguap untuk menutupi belanja modalnya. Anda harus berhati-hati jika perusahaan ini melakukan hal demikian lebih dari 3 periode.

Salam Investasi
Read more →

8 Mar 2015

Elnusa (ELSA) : Impression of Spinning Velocity

,
Elnusa (ELSA) merupakan anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang pelayanan hulu dan hilir dalam bidang minyak dan gas bumi (Oil and Gas Upstream and Downstream Services).


Bisnis inti ELSA dibagi menjadi tiga:

  1. Servis Hulu Migas (upstream). Mencakup; 
    • Geoscience / seismic data, pada tahap ini terjadi kegiatan survey dan studi geologi untuk menentukan titik dimana saja terdapat kandungan minyak & gas, apakah benar terdapat kandungan minyak & gas dan juga kelayakan terhadap kualitas kandungan untuk dapat di explorasi lebih lanjut. 
    • Drilling. Setelah layak, kemudian dilakukan tahap drilling / pengeboran untuk mengambil minyak atau gas dari dalam bumi, tahap inilah yang menjadi kontribusi terbesar pendapatan ELSA di 2014 melalui electric wireline logging sebesar 544 milyar. 
      • Electric wireline logging sendiri adalah teknologi kabel elektrik yang digunakan operator minyak & gas untuk membaca data log yang berisi data tentang keadaan di dalam sumur (wellbore) a.l resistivitas, konduktivitas, tekanan dan dimensi sumur.
    • Oilfield Service and Maintenance, Servis ELSA dalam bidang pemeliharaan lapangan sumur migas.
  2. Servis Hilir Migas (downstream). Kegiatan ini dilakukan oleh dua anak perusahaan:
    • PT Elnusa Petrofin (EPN) untuk storage, distribusi dan marketing hasil minyak & gas setelah terjadi kegiatan eksplorasi pada point 1, kegiatan ini mencakup manajemen transportasi BBM dari pemasok ke pelanggan, termasuk ke SPBU-SPBU yang kita konsumsi sehari-hari. 
    • PT Elnusa Patra Ritel (EPR) yang mengurusi bagian perdagangan ritel BBM industri, namun EPR saat ini tidak beroperasi sehingga BBM industri diambil alih oleh EPN. 
  3. Servis pendukung Migas (support). Mencakup kegiatan;
    • Fabrikasi konstruksi (pipa ulir dan alat-alat konstruksi perminyakan) dan agen perdagangan melalui PT Elnusa Fabrikasi Konstruksi (EFK). 
    • Penyedia lisensi dan izin kegiatan hulu hilir migas melalui PT Patra Nusa Data (PND). Information & Technology (IT) melalui PT Sigma Cipta Utama (SCU). 
    • Dan terakhir jasa penyewaan kapal untuk operasional hulu migas melalui PT Elnusa Trans Samudra (ELTS).
Dengan bisnis sebanyak itu, ELSA menjadi satu-satunya perusahaan penyedia jasa minyak & gas hulu - hilir terlengkap untuk dalam negeri.

Struktur Saham ELSA

Sumber: Elnusa

Saham ELSA saat ini tidak ada yang istimewa, selain Pertamina yang dari dulu hingga kini tetap memegang 41,10%, dan menjadi 58,90% setelah masuknya dana pensiun, selebihnya adalah publik. Struktur saham ini berubah setelah keluarnya Benakat Integra (BIPI) sebesar 24,60%. Tidak ada yang perlu di cemaskan dari keluarnya BIPI, karena BIPI memiliki hutang 592 miliar yang harus dilunasi pada 2015, dan ini dapat membebani keuangan ELSA. 

Alasan utama keluarnya BIPI ialah ELSA tidak memberikan konstribusi signifikan setelah performa ELSA yang buruk pada 2011, padahal ELSA telah sukses dalam program turnaround-nya dan menghasilkan laba semenjak 2012.

BIPI membeli ELSA sejatinya adalah strategi mempermulus langkah BIPI untuk mendapatkan proyek oil drilling di Pendopo, Sumut pada 2010 dimana BIPI diharuskan melakukan joint operation dengan Pertamina sebagai penguasa konsesi. Mudah disimpukan bahwa BIPI hanya melakukan trading saham pada ELSA, beli di harga 330 lalu jual di harga 395 setelah proyek tersebut selesai. Toh, sisa dari saham Benakat dapat diserap publik yang membuat sahamnya semakin likuid.

Performa ELSA

Performa ELSA melambung sejak 2011, yang di sebut juga titik turnaround. Harap di catat bahwa kinerja ELSA anjlok drastis selama tahun 2010 ke 2011 akibat tidak performnya pengelolaan manajemen. Saat itu (2010 - 2011), ELSA melakukan beberapa kegagalan a.l: 
  1. Pembelian barang yang terlalu mahal untuk beberapa project Geodata Acquisition Land termasuk untuk proyek seismik Chevron di Papua, Dan juga pembelian Modular Rig yang disebut-sebut 'Over-investment' sedangkan beberapa proyeknya sendiri terkendala masalah izin lokal dan ganti rugi warga sehingga membebani dari sisi investasi dan depresiasi.
  2. Pembatalan beberapa project yang dilakukan secara joint operation dengan CGG Veritas, disini Elnusa melakukan kesalahan fatal dengan melakukan pembelian alat Seismic Acquisition Capacity padalah kontrak belum di tanda tangani. CGG Veritas adalah perusahaan asal Prancis yang menjadi perusahaan gabungan yang diberi nama PT Elnusa CGG Veritas. Saat ini PT Elnusa CGG Veritas sudah tidak beroperasi kembali.
  3. Tidak optimalnya operasional tiga buah drilling rig conventional pada 2010, dengan utilitas hanya 19% dan juga kerugian yang dialami oleh bisnis EPC pada PT Elnusa Fabrikasi Konstruksi.
  4. Pelepasan kepemilikan PT Elnusa Patra Ritel kepada Salamander Energy Group, sehingga pemasukan dari asset based lapangan migas dipastikan hilang, lagipula pemasukan jual beli itu tidak dilaporkan secara jelas.
  5. Kasus pembobolan deposito sebesar Rp. 161 milyar di Bank Mega, analisanya adalah terdapat fraud sistematis antara Elnusa dengan Bank Mega sehingga dana tersebut mengalir keluar. Kasus ini juga menggerus laba ELSA.
Dari beragam kasus tersebut, ELSA melakukan program turnaround yang pada intinya adalah: 
  1. Program perbaikan management keseluruhan, hampir 80% middle top management diganti.
  2. Restrukturisasi fokus divisi (Elnusa konstruksi hanya fokus pada pipa ulir), anak perusahaan dan bisnis model, termasuk review bisnis pada PT Elnusa CGG Veritas yang tidak menguntungkan.
  3. Perbaikan struktur biaya termasuk efisiensi biaya.
  4. Selective Marketing, terutama dalam bisnis penjualan BBM dan Marine Industri.
  5. Reformasi kebijakan belanja modal (Capex). Pembelian equipment hanya dilakukan ketika kontrak sudah di tanda tangani. Juga pengetatan pada proposal proyek baru.
Hasilnya, pada 2012 ELSA kembali menghasilkan laba yang terus meningkat, pendapatan yang bertumbuh  hingga akhir 2014 lalu.

Kinerja ELSA dalam 6 tahun terakhir. Sumber: Elnusa, Bloomberg
Dapat jelas terlihat titik turnaround pada 2011, sehingga menghasilkan angka yang positif pada 2012 dan hebatnya, ELSA terus bertumbuh secara signifikan hingga 2014 ini, padahal dengan kondisi harga minyak dunia yang masih anjlok.

Valuasi Saham

Saham ELSA saat ini diperdagangkan dengan harga Rp 585 per lembar saham. Dengan laba di akhir 2014 sebesar 412 milyar, ELSA memiliki PER sebesar 10.53x dan PBV 1.68x alias murah, bahkan sangat murah untuk perusahaan sekaliber ELSA.

ELSA tercatat rajin membagi dividen kepada investor, dengan angka terakhir sebesar Rp 16.31 per saham sehingga menghasilkan dividen payout ratio sebesar 28.86%. Dengan memasukkan rata-rata pertumbuhan laba sebesar 17% (angka rata-ratanya sendiri 58,91%),  BI rate 7.5% dan risk premium maka ELSA memiliki nilai wajar (fair value)sebesar Rp 1,097 per saham, atau saat ini sedang terdiskon 85% (MOS).

Sumber: Srimaya Investment

Kinerja Keuangan

Semenjak turnaround diberlakukan, ELSA berhasil melakukan refinancing pinjaman USD 113 juta yang digunakan untuk buyback Fix Rate Noted yang pernah diterbitkan pada 2011 lalu, gunanya untuk menekan suku bunga. Hasilnya pada 2014 ELSA memiliki cadangan kas yang cukup besar, sebesar Rp 1.06 trilyun disamping operational cash-flow yang lebih besar dari Capex.

Yang menariknya lagi ialah terdapat laba ditahan (retained earning) yang cukup besar, hampir Rp 1,4 trilyun. Angka sebesar ini masih cukup digunakan sebagai belanja modal dua periode. Atau lebih baik lagi jika di bagi ke investor dalam bentuk tambahan dividen.

Kinerja Keuangan ELSA

Potensi ELSA

Komposisi kontribusi pendapatan ELSA sendiri hingga saat ini masih di dominasi oleh bisnis hulu migas, terutama pada oilfield & drilling services. Ini menunjukkan bahwa ketika harga minyak dunia turun, perusahaan kontraktor usaha minyak & gas akan semakin melakukan maintenance pada sumur minyaknya (wellbore) untuk tetap menjaga produksi. 

Dan inilah yang menjadi fokus utama ELSA terhadap turunnya harga minyak dunia, pertama ialah dengan mengurangi kegiatan seismik, dimana kegiatan seismik banyak dilakukan di dalam pencarian sumur baru, buat apa mencari sumur baru sedangkan harga minyak masih anjlok? 

Kedua ialah fokus pada wellbore maintenance diantaranya jasa wireline logging, slickline service dan oil recovery. Ketiga ialah memaksimalkan horizontal drilling untuk meminimasi biaya, karena dengan teknik tersebut tidak diperlukan pengeboran sumur baru, melainkan menambah kapasitas dari sumur lama. 

Sumber: Elnusa
Sumber: Elnusa
Untuk 2015, ELSA telah mengantongi kontrak USD 520 juta, sedangkan Capex yang di anggarkan sebesar Rp 597 milyar. Ini menunjukkan bahwa bisnis migas masih meyakinkan. Energi dibutuhkan manusia selamanya dan minyak bumi & gas merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan dimana kita tinggal menggali dan mengolahnya, tanpa harus membuat kembali. 

Tugas kita adalah menjaga agar kandungan alam itu cukup untuk generasi kita selanjutnya.

Salam Investasi
Read more →

3 Mar 2015

Look Insight: Sekilas saham Konstruksi

,
Saham Konstruksi adalah salah satu kelompok saham yang terus booming atau menjadi favorit masyarakat investor dalam 5 tahun terakhir, tidak heran kalau saham konstruksi hampir selalu menjadi pegangan di setiap portfolio teman-teman baik investor maupun trader. Ibarat batu akik, saham konstruksi sedang di buru dan menjadi primadona hingga saat ini, terutama bagi teman-teman trader karena tak jarang jika hoki saham konstruksi bisa tiba-tiba melonjak hingga 3% - 5% dalam sehari. Dan itu beberapa kali terjadi sejak 2013 lalu. 

Lalu bagaimana dengan teman-teman investor pencari harga murah? saham konstruksi justru belakangan ini banyak dihindari untuk long-term investment karena tidak sesuai dengan kaidah Buffet. What?? Simple, saham konstruksi mayoritas sudah very over-valued. Kriteria umum: punya Pbv di atas 3x dan PER di atas 20x, apalagi setelah utak atik dihitung dengan DCF margin of safety saham konstruksi sudah minus. alias mahal. 

So, apakah yang terjadi dengan saham konstruksi sehingga menjadi mahal? benarkah memang 'mahal'? apa bedanya saham konstruksi dengan saham property? mengapa PER keduanya bagai bumi dan langit?. Mari kita ikuti Look insight: sekilas saham konstruksi berikut.

Konstruksi

Emiten konstruksi di Indonesia kami bagi menjadi dua: pertama adalah konstruksi kelas A, terdiri dari 5 besar: WIKA, ADHI, PTPP, WSKT dan TOTL, kelas B terdiri dari ACST, NRCA, DGIK dan SSIA, selebihnya masuk kelas C. Sedangkan emiten-emiten lain seperti ASRI, MDLN, MTDL dll disebut emiten property & real estate. Emiten yang bergerak di bidang konstruksi di definisikan sebagai perusahaan pelaksana konstruksi dan bangunan yang bekerja sesuai kontrak kerjasama dengan pemilik proyek. Sedangkan emiten property & real estate adalah emiten yang memiliki lahan pengembangan untuk dikomersilkan sebagai hunian, perkantoran dan kawasan industri terpadu. Jadi disini jelas perbedaan antara emiten konstruksi dan property murni.

Emiten konstruksi berkembang sudah sangat lama, untuk menunjang REPELITA yang dicanangkan orde baru membuat pemerintah kala itu membentuk BUMN khusus sektor konstruksi untuk menggarap proyek-proyek pemerintah khususnya infrastruktur yang di komando oleh Departemen PU. Tersebutlah emiten-emiten konstruksi dengan akhiran Karya, dimulai dari Wijaya Karya, Adhi Karya, Waskita Karya, Hutama Karya, Nindya Karya dan Istaka Karya. Kemudian munculah Pembangunan Perumahan (PP) yang awalnya berfokus untuk menggarap proyek perumahan rakyat.

Setelah runtuhnya orde baru, emiten-emiten konstruksi tersebut menjadi bersaing, jika dulu mereka di beri proyek pada porsi masing-masing dengan monitoring pusat, maka setelah orde reformasi 1998, runtuhlah tembok itu. Para karya-karya plus PP tersebut saling bersaing untuk menjadi pemuncak. Karya yang tidak sanggup bertahan akan berguguran dengan sendirinya, dimulai dari pailitnya Istaka Karya pada 2011 yang tidak sanggup membayar hutangnya akibat korupsi jajaran direksinya dan Nindya Karya yang gaungnya sangat tipis terdengar, namun untungnya masih lolos dari pailit pada 2013.

Kinerja BUMN Konstruksi

Saat ini ada empat BUMN konstruksi yang bertahan dan mencatatkan namanya di bursa saham, WIKA, ADHI, PTPP dan WSKT. Mereka berempat di tambah TOTL sebagai satu-satunya pihak swasta dikenal di dunia konstruksi sebagai the big-five. The big-five hampir menguasai 70% pangsa pasar konstruksi besar di Indonesia. Dengan pengalaman waktu operasional yang lebih dari 40 tahun menyebabkan ke lima perusahaan itu sudah memiliki jaringan divisi di seluruh Indonesia, ini yang menyebabkan ke lima besar itu sulit dilampaui oleh perusahaan lain.

Yang unik dari perusahaan konstruksi ialah penilaian kinerjanya yang berbeda dari perusahaan pada umumnya. Jika pada perusahaan lain dapat dilihat dari pertumbuhan laba bersihnya, maka pada dunia konstruksi lebih menekankan pada pendapatan proyek. Sepertinya memang di dunia konstruksi, nilai project memegang peran utama untuk menaikkan pasar. Segera setelah perusahaan mendapatkan project (apalagi project besar, biasanya  di atas 500 Milyar), diundanglah wartawan ke kantor direksi untuk di publikasikan. Dan segera kita akan tahu di Kontan, Detik dsb bahwa baru saja ADHI mendapatkan project PLTU Kaltim atau PTPP dengan PLTGU Tanjung Uncang, WIKA untuk pembangunan pabrik Alumina atau WSKT dgn Jalan Tol di satu tempat.

Laba akan direview ketika proyek sedang berjalan dan jarang di publikasikan secara live. Jujur saja, jarang sekali dari perusahaan konstruksi tersebut yang melaporkan laba secara 'clean'. So, sepertinya publik pun sudah banyak tahu, sehingga laba tidak menjadi pemicu utama ketertarikan publik terhadap sahamnya. Yang banyak di ekspos tentu jenis project, klien dan nilai projectnya. Hidup mati perusahaan konstruksi adalah projectnya. 

Kinerja pendapatan proyek 5 besar perusahaan konstruksi (Milyar)
Dari grafik dapat dilihat dimana pendapatan keempat BUMN konstruksi meningkat secara signifikan secara gradual sejak 2005 dan peningkatan paling signfikan didapat oleh PTPP dan WSKT.

Tahun 2007 disebut juga tahun reformasi bagi BUMN konstruksi dimana mereka mulai merambah kedalam bisnis konstruksi EPC yang nyata-nyata sebelumnya bukan ranah mereka. Proyek EPC berbeda dengan proyek konstruksi sipil pada umumnya dimana pada proyek EPC, fase konstruksi dimulai dari fase Perencanaan (Engineering), Pengadaan barang & Jasa (Procurement) dan Konstruksi (Construction). Ini merupakan hal baru karena biasanya fase engineering selalu mereka berikan ke konsultan perencanaan, mereka tinggal membeli bahan baku (bulk material) untuk pekerjaan sipil dan langsung dikerjakan.

Pada proyek EPC, karena yang mereka bangun adalah proyek integrasi antara sipil, mekanikal, elektikal, instrument dan pipa, sehingga mereka tidak bisa memberikan begitu saja desain perencanaan kepada pihak lain, karena pekerjaannya saling terkait sejak dari permulaan (desain proses dan kalkulasi mekanikal). Llain halnya jika proyek tersebut merupakan join operation, contoh: WIKA dan Technip untuk proyek Gas Matindok Pertamina atau ADHI dan Sinohydro China untuk proyek PLTU Kaltim.

Proyek-proyek EPC antara lain proyek Migas, pembangkit listrik dan pabrik. Dari jenisnya saja terlihat bahwa proyek EPC memiliki prestise tersendiri dan tentunya memiliki harga yang tinggi. Hampir mayoritas proyek EPC nilainya mencapai trilyunan. Contoh terbaru adalah proyek 2014 WIKA untuk Gas Matindok Facilities milik Pertamina senilai 2,7 trilyun dan proyek ADHI untuk Petrokimia Gresik senilai 1.81 trilyun.

Nilai ini jelas jauh di atas perolehan proyek sipil semacam gedung, hunian, jalan layang, renovasi rumah sakit atau sekolah yang jarang nilainya lebih dari 300 milyar.

Proyek EPC memang belakangan ini menjadi primadona, bahkan menjadi mayoritas di dalam perolehan proyek 2014-2015. Sebagai contoh untuk ADHI sendiri, perolehan kontrak baru di 2014 dengan total 9,2 trilyun dimana 8.2 trilyunnya adalah dari proyek EPC, begitu pula dengan PTPP dengan PLTU Tanjung Uncang 125 MW yang baru rampung, pun dengan WSKT. Sedangkan WIKA, selain masih serius menggarap proyek pembangkit milik PLN, mereka juga serius dalam menggarap mega-project dari Saudi Arabia.

Sepanjang tahun 2007 hingga 2010, para emiten konstruksi tersebut sibuk membenahi ladang baru mereka. Baru pada 2010-2013 ketika divisi baru emiten-emiten ini yang bernama divisi EPC sudah 'nyetel' dan terus mendapatkan banyak project prestisius untuk Pembangkit Listrik dan Migas plus ditunjang dengan realisasi dari proyek-proyek swasta dan semakin membesarnya pendapatan project. Saham ke-empat emiten tersebut langsung terbang ke langit. Sejalan dengan predikat mereka yang 'naik kelas'.

Grafik pergerakan ke 5 saham konstruksi
Ada yang menarik dari grafik di atas sekaligus menjawab postingan Jhon Veter dan kawan-kawan dalam grup saham Junior_Trader, mengapa dalam grafik tersebut TOTL terlihat sangat ketinggalan? padahal jika kita cek laporan keuangannya, labanya cukup bagus dan naik signifikan. Jawabannya kembali keatas. Proyek!. TOTL tidak memiliki proyek yang masuk kategori mega-project atau prestisius yang bisa menaikkan kelas mereka. Proyek TOTL bisa dibilang itu-itu saja; gedung perkantoran, kawasan industri, hotel, jalan dan rumah sakit. Ya respon pasar pun biasa-biasa saja terhadap TOTL, ingat: respon pasar akan sesuai dengan fundamental emiten, cepat atau lambat.

Proyek jugalah yang menyebabkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap price earning ratio antara emiten konstruksi dan emiten property murni. WSKT memiliki PER 35.01x dengan pertumbuhan laba hanya 4.88% dibanding tahun 2013 lalu namun memiliki pendapatan 2014 sebesar 10 trilyun. Bandingkan dengan LPKR yang memiliki PER 19.24x, dengan pertumbuhan laba yang tinggi sebesar 17.21% dibanding tahun yang sama, namun dengan pendapatan 2014 'hanya' sebesar 6 trilyun.

LPKR, PWON, ASRI dkk merupakan emiten property murni yang mengandalkan pengembangan lahan sebagai recurring income dibanding mengerjakan mega proyek yang trilyunan, sehingga respon pasar terhadap emiten property lebih 'realistis' dibanding terhadap emiten konstruksi. Ditambah lagi efek dari suku bunga dan naik turunnya nilai property. Berbeda dengan konstruksi yang memiliki jangkauan lebih luas, bukan hanya mengerjakan proyek trilyunan, mereka juga mampu untuk memiliki recurring income dari hunian, hotel dan apartemen dengan memiliki divisi hotel dan properti sendiri.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa harapan pasar terhadap pencapaian proyek-proyek prestisius emiten konstruksi memang besar, sebesar nilai proyek dan resikonya. Inilah yang menyebabkan PER mereka menjadi begitu tinggi.

Harga Mahal

Saham-saham konstruksi papan atas di Indonesia terkenal dengan harganya yang mahal, beberapa teman investor mengeluhkan hal ini sehingga cenderung menghindar. Pbv yang di atas 3x, bahkan PER di atas 20x telah menjadi patron value investor bahwa harga tersebut mahal. Penulis pun mengakui bahwa saham-saham konstruksi papan atas memang mahal.

Seperti yang dijelaskan di atas, naiknya saham-saham tersebut dikarenakan respon pasar yang memang sangat meminati sektor ini, walaupun menurut penulis sendiri efek pasar terhadap konstruksi ini sudah berkategori over-whelming. Tapi, di samping 'naik kelas' itu tadi, saham-saham ini memang memiliki sisi safety yang mumpuni. Safety disini mengacu pada kontribusi pemerintah di dalam perolehan proyek. Mungkin anda masih mengingat sekitar pertengahan tahun 2013 ketika mobil menteri BUMN kala itu, Dahlan Iskan mogok di halaman gedung kementrian, tapi sejenak kemudian tiba-tiba datanglah Toyota Alphard yang berisi petinggi BUMN menjemput beliau. Di dalam Toyota Alphard itu duduk Kiswodharmawan, dirut ADHI beserta direktur operasional. Bisa dibayangkan betapa dekatnya antara BUMN konstruksi dengan kementeriannya.

Penulis sendiri pun alumni dari salah satu emiten BUMN tersebut dan mengakui bahwa sepak terjang emiten-emiten tersebut luar biasa dalam berebut proyek. Jika tender, ya lawannya itu-itu saja, paling Rekayasa Industri atau Tripatra yang menjadi saingan utama. Jika ada asing masuk maka hampir dipastikan bahwa perusahaan asing tersebut akan di gandeng menjadi joint operation. So, agaknya jalur ini akan tetap berlaku pada tahun-tahun berikutnya, sesuai dengan target presiden Jokowi yang menggenjot proyek infrastruktur darat dan laut.

Sebelum presiden Jokowi menargetkan pun, pertumbuhan laba rata-rata para emiten ini semenjak 2005 hingga 2014 berada di atas 20%, dan rata-rata pertumbuhan perolehan proyek di atas 19%. Sehingga dengan mengikuti target pemerintah maka perhitungan discounted cash flow kami optimis untuk menggunakan angka pertumbuhan 20% bukan 17% seperti metode konservatif. Jika memakai angka pertumbuhan 20%, maka WIKA akan memiliki margin of safety sebesar 16% atau masih berpotensi naik hingga Rp. 4200/saham. Catatan: dengan asumsi ini, hanya PTPP yang masih memiliki margin of safety negatif.

Kendala Konstruksi

Kendala dalam dunia konstruksi tentunya jika perekonomian Indonesia menurun, maka dipastikan proyek-proyek infrastruktur pun bakal menurun. Tetapi untuk menyiasati itu, hampir semua emiten di atas sudah memiliki recurring income pada masing-masing lini bisnisnya. WIKA dengan WTON-nya, WTON merupakan recurring income potensial karena tugas WTON adalah penyedia produk, bukan pencari proyek. Demikian juga ADHI dengan Grandhika, PTPP dengan PP Property dan WSKT dengan Waskita realty & Pre-cast.

Penulis berpendapat, bahwa sektor ini (sudah sering dibahas di blog ini, disini dan disini) adalah sektor yang menjadi salah satu pilihan di tahun 2015. Di banyak seminar-seminar saham pasti ada dua sektor yang selalu di bahas: konstruksi dan pelayaran. Dan di blog ini penulis bisa kasih bocoran bahwa sebaiknya salah satu dari lima emiten di atas layak mengisi portfolio anda untuk jangka menengah enam bulan hingga setahun kedepan. Tinggal anda curahkan waktu untuk membuat valuasi yang hati-hati sebelum memilih.    

Salam Investasi
Read more →

9 Feb 2015

Buffet-Munger Screener

,
Buffet-Munger screener adalah metode yang dipakai oleh Warren Buffet dan Charlie Munger dalam memilih saham (stock picking) dalam sebaris kalimat: Menemukan perusahaan berkualitas tinggi dengan harga murah atau wajar.

Kriteria umum adalah sebagai berikut:

  1. Perusahaan memiliki tingkat prediksi bisnis yang tinggi (high predictibility rank), artinya bisnis perusahaan merupakan bisnis yang bisa diprediksi kemajuannya dalam jangka panjang, memiliki pendapatan dan laba yang senantiasa tumbuh konsisten.
  2. Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif (compretitive advantage), atau yang biasa disebut MOAT. Ini berguna seandainya perusahaan melakukan ekspansi usaha, itu tidak akan menggerus laba yang sudah berjalan.
  3. Perusahaan menggunakan sedikit hutang dalam pengembangan usahanya. Namun ini bisa sedikit longgar selama debt to equity masih dibawah satu, atau diimbagi dengan kenaikan laba atau ekuitas yang meyakinkan. Jika hutang bertambah namun anda tidak yakin bahwa bisnis usaha juga langsung meningkat, maka lebih baik tunda.
  4. Perusahaan berada dalam rentang harga yang murah (undervalue) ataupun wajar. Namun, seperti anda tahu, saya menggunakan margin of safety sebagai hasil akhir dan bukan P/E atau Pbv. Atau ada sebuah cara powerfull dari Charlie Munger ialah dengan menggunakan PEG, membagi P/E dengan rata-rata pertumbuhan Ebitda selama lima tahun terakhir. 
Kita akan membahas cara melihat high predictibility rank dalam waktu lain.

Salam Investasi


Read more →

3 Feb 2015

Penurunan Harga Minyak dan Potensi Emiten Minyak dan Gas - Oil Insight

,
Mencermati potensi emiten baru, sebanyak 35 emiten baru di targetkan listing tahun ini. Begitulah bunyi Headline news majalah INVESTOR edisi Januari 2015 yang menjadi weekend reading list penulis di minggu ini. Penasaran dengan siapa saja emiten di dalam berita tersebut, penulis mendapatkan 35 (38 tepatnya) emiten yang ter-list di halaman 44.

Sumber: Dok Pribadi
Hampir 80% dari semua emiten yang ada adalah emiten yang menarik. Tapi yang paling menarik tentu saja munculnya nama perusahaan BUMN terbesar, yang mendapat predikat BUMN dengan laba terbesar tahun 2014, Pertamina.
Tidak tanggung-tanggung, empat anak perusahaannya menjadi target IPO di tahun ini; Pertamina Gas, Pertamina Drilling Services, Pertamina Hulu Energy dan Pertamina Geothermal.
Sekilas, mendengar ke empat nama itu saja, kita sudah dibayangkan oleh hal-hal yang extraordinary, anak emas negara, proyek migas dengan nilai besar, gaji pegawai besar plus tunjangan ini itu, keamanan kerja yang terpercaya dan tentunya penentu hajat hidup rakyat Indonesia. Bayangkan, pemerintah baru mengeluarkan isu mau naikin BBM saja, ributnya rakyat luar biasa. Trending topic di tivi berhari-hari dan begitu sudah di naikkan, betapa kita merasakan efek yang luar biasa walaupun sebetulnya bukan efek secara fisik, tapi lebih kepada efek akibat pemberitaan atau news effect.

Lalu bagaimana 'pesona' Pertamina tadi dapat meyakinkan para Investor ritel? yang notabenenya memburu saham dengan dua pendekatan: Fundamental dan Teknikal, sedangkan kita tahu bersama bahwa alur bisnis migas adalah alur bisnis yang paling complicated di seluruh dunia. Secara fundamental harus ditelusuri hulu ke hilir, yang mana terdapat efek spekulasi yang besar disana, apalagi secara teknikal. Tapi tetap saja, industri ini sangat menarik, setidaknya bagi penulis pribadi.


Kenaikan harga BBM dari Rp 6500/liter menjadi Rp 8000/liter kemudian turun lagi menjadi Rp 6700/liter menimbulkan suatu berita spekulasi bahwa kenaikan tersebut di lakukan oleh pemerintah sebagai pemasukan cadangan untuk menutupi lobang anggaran yang mana anggaran tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastructur. Setelah anggaran tersebut aman, pemerintah kembali menurunkan harga premium (penulis tidak ingin menyebut 'subsidi') kembali ke Rp 6700/liter untuk mengikuti harga minyak dunia - kali ini diikuti pertamax dan kawan kawan.


Pertanyaan besar bermula: jika harga minyak Indonesia mengikuti harga minyak dunia, artinya ketergantungan pemerintah (terutama Pertamina) terhadap pengaruh minyak global besar sekali? Betul. Lantas bagaimana jika harga minyak dunia terus turun? Ya bisa rugi. Lalu apakah IPO ini menjanjikan? Kita tidak tahu, kita harus lihat dari latar belakang anjloknya harga minyak dunia terlebih dahulu.

Harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang signifikan sejak JUNI 2014. Pada saat itu, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) masih di ambang 105 USD/barrel dan pada saat itu, banyak spekulan yang memprediksi minyak akan terus melambung melampaui all time high-nya di 133.38 USD pada Juli 2008. Tapi kenyataannya tiba-tiba harga minyak terus turun tanpa terkendali hingga hari ini di kisaran 44.80 USD/barel. Hanya dalam waktu 7 bulan, harga minyak anjlok sebesar 57%! Silahkan lihat chartnya DISINI

Adapun penurunan harga minyak itu dipengaruhi oleh dua hal dasar:


Pertama adalah faktor Ekonomi.


Sama dengan faktor ekonomi biasa, khususnya harga komoditas. Maka harga minyak juga dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan. Ketika tahun 2003 dimana terjadi krisis Irak (Amerika menggulingkan Saddam Husein) yang menyebabkan munculnya gerakan perlawanan rakyat Irak dengan melakukan peledakan-peledakan pipa minyak yang hampir setiap hari terjadi. Efeknya produksi minyak Irak berkurang drastis. Kemudian diikuti badai Katrina di Amerika yang melumpuhkan produksi minyak mereka dan juga krisis Nigeria yang mana semua hal tersebut menyebabkan penawaran/produksi berkurang sedangkan pemintaan tetap (naik wajar secara eksponensial), sehingga harga minyak melonjak tinggi hingga puncaknya pada Juli 2008.

Saat ini, seperti dilansir majalah dan media online luar (Forbes, Times, Reuters dll). Terjadi kebalikan, dimana permintaan menurun drastis akibat menurunnya tingkat ekonomi negara-negara pengimpor minyak, diantaranya: China, Jepang, AS dan terutama Eropa, sehingga terjadi penumpukan minyak mentah akibat Arab Saudi dan negara Arab lainnya yang tidak mau mengurangi produksi. Apakah benar? Mari kita lihat lebih jauh.

Produksi minyak mentah lebih pada kisaran 70 juta barel per hari semenjak 2004 dan pada 2013, produksi mencapai angka 75.24 juta barel per hari. Konsumsi minyak dunia ada pada kisaran 80 juta barel per hari dan pada 2013 mencapai angka 90.35 juta barel per hari (silahkan klik disini). Menurut IEA (International Energy Agency) permintaan pada 2014 mencapai 93.08 juta barel per hari dan produksi mencapai 93.74 juta barel per hari. Apa yang menarik? yang menarik tentu adalah FAKTA bahwa permintaan akan minyak tidak pernah akan turun. Begitu pula dengan gas, selama dunia membutuhkan energy selama itulah kebutuhan akan minyak dan gas selalu bertambah.

Penulis ingat pemikiran George Soros tentang konsep 'titik equilibrium' atau 'titik keseimbangan'. Dimana konsep tersebut bukan hanya menekankan pada titik keseimbangan nilai intrinsik dari saham, tapi juga titik keseimbangan akan permintaan dan penawaran dan berujung pada "bergoncangnya" harga. Disini kita lihat bahwa produksi minyak sejak 2004 semakin mendekati titik konsumsi / permintaan dan akhirnya mencapai 'titik equilibrium' pada 2014 yang kemudian memotong untuk selanjutnya harga menjadi jatuh. Mungkin inilah yang oleh para pengamat disebut penurunan permintaan. Nyatanya  permintaan tetap naik eksponensial, namun produksi yang bertambah secara gradual.

So kesimpulannya, alasan pertama tentang ekonomi tidak bisa di lacak secara fakta, sehingga mungkin agak sedikit bingung mendengar pendapat para pengamat dan ahli perminyakan, mungkinkah memang alasan tersebut 'disengaja'?  Lantas mengapa produksi minyak meningkat melebihi permintaannya? Dalam waktu 7 bulan?? Menarik.

Kedua adalah faktor Politik.

Maret 2001, pada pertemuan puncak energi nasional, Abraham Isbenser, sekretaris energi presiden Bush, mengatakan, “Amerika akan menghadapi krisis yang sesungguhnya dalam cadangan energi selama dua dekade mendatang. Sesungguhnya kegagalan menghadapi tantangan ini akan mengancam kemakmuran perekonomian dan akan mempengaruhi keamanan nasional. Juga akan merubah metode kehidupan kita.” Pidato ini menyulut reaksi frontal dari Presiden Amerika George Bush untuk mengeluarkan statement pada pidatonya “Sesungguhnya AS tergantung kepada minyak.”. Dan dia menambahan “Kita akan menghadapi masalah yang pelik, AS tergantung kepada minyak yang diimpor dari wilayah yang tidak stabil (Negara Arab dan Afrika) dan cara yang paling baik untuk melepaskan diri dari ketergantungan itu adalah teknologi.” 

Atas dasar itulah, Bush menyatakan harapannya, kalau dia melakukan hal itu, maka AS akan mampu “Melepaskan diri dari kira-kira 75% impor minyak dari Timur Tengah setelah tahun 2025.” Inti dari pidato tersebut adalah dorongan Bush untuk pengembangan energi alternatif, yang nantinya (saat ini) disebut "Shale oil"


Rencana Bush untuk mengembangkan sumber-sumber alternatif dan menurunkan impor minyak telah mengarahkan terjadinya kenaikan harga minyak yang rendah hingga sampai pada level harga mahal, sehingga relevan dengan pemasaran sumber alternatif (nantinya).


Di sinilah peranan perusahaan-perusahaan minyak, khususnya perusahaan-perusahaan Amerika. Perusahaan-perusahaan itu mulai melakukan spekulasi harga dan membuat berbagai manuver untuk merekayasa permintaan (supaya) terus meningkat, tanpa meperhitungkan kebutuhan konsumsi riil. Di samping perusahaan-perusahaan itu juga melakukan penimbunan, sehingga harga minyak mengalami lonjakan beruntun sampai melampaui 75 USD per barel dan terus beruntun hingga 133 USD per barel. Sehingga pada titik ini sebetulnya para 'pemain' bisnis minyak sudah tahu, bahwa lonjakan harga minyak tidak akan berlangsung lama dan begitu terjadi konflik yang sedikit saja, maka harga minyak akan lepas.

Kita tahu bahwa penentu harga minyak bukan hanya dari satu sisi (AS atau Arab Saudi) tapi lebih dari itu, yang mana importir (China, Jepang, Kanada dsb) juga para kontraktor minyak (Exxon, Chevron, BP dsb) ditambah OPEC sendiri dan para broker minyak yang berpusat di Singapura adalah para pemberi pengaruh terhadap harga minyak itu sendiri.

Ucapan Bush terbukti pada 2013, ketika AS berhasil melampaui Arab Saudi dan Rusia sebagai eksportir minyak terbesar di dunia disebabkan ekstraksi minyak melalui pemecahan batuan sedimen di bawah tanah (shale oil).

Bank of America menyebutkan pada musim panas 2014: “AS akan terus menjadi produsen terbesar minyak di dunia pada tahun ini, melampui Arab Saudi dan Rusia, dalam mengekstraksi energi dari minyak bebatuan (shale oil). Itulah yang membangkitkan perekonomian dalam negeri. Produksi minyak mentah AS, berdampingan dengan cair, dan pemisahan minyak dari gas alam, telah melampaui negara lain pada tahun ini. Produksi minyak AS lebih dari 11 juta barel pada kuartal pertama tahun in “AS menjadi produsen minyak terbesar setelah menyalip Arab Saudi”, Bloomberg, 4 Juli 2014).

Revolusi minyak dan gas bebatuan (shale oil and gas) di AS menyebabkan peningkatan produksi minyak dari 5,5 juta barel per hari pada tahun 2011 menjadi saat ini 10 juta barel per hari. Hal itu bisa menutupi sebagian besar kebutuhannya sehingga impor minyak AS dari Arab Saudi bisa menurun hingga setengahnya yaitu menjadi 878 ribu barel per hari dari sebelumnya 1,32 juta barel per hari. Inilah pemicu pertama dari mulai turunnya harga minyak, karena semenjak itu AS mulai mengurangi import minyak mereka terhadap Timur Tengah.

Akan tetapi masalah minyak bebatuan (shale oil) adalah biaya produksinya yang mencapai 75 USD per barel. Sementara biaya produksi minyak alami (crude oil) tidak lebih dari 7 USD per barel. Ini artinya bahwa negara-negara produsen minyak bebatuan (shale oil) terutama AS akan terpukul jika harga minyak menurun hingga level di bawah biaya produksi itu. Dengan kata lain, ketika  Bush mengumumkan bahwa shale oil  akan menjadi energi alternatif di tengah naiknya harga minyak (yang karena ulah spekulan dan krisis timur tengah) shale oil menjadi sangat ekonomis pada tahun 2011 ketika harga minyak mentah tinggi. Akan menjadi tidak ekonomis nilainya saat ini jika harga minyak mentah di bawah biaya produksi shale oil itu sendiri. Meskipun dengan peningkatan teknologi biaya itu bisa di reduce menjadi 50 - 60 USD per barel. Sehingga, harga yang paling ekonomis untuk minyak menurut AS adalah 80 USD per barel.

Bisa kita lihat bersama, bahwa strategi konspirasi AS mencari 'titik equilibrium' ternyata di hambat oleh Arab Saudi, yang mana sangat berpengaruh di dalam OPEC. Arab Saudi yang dikenal sangat dekat dengan Inggris mulai bermanuver dalam politik untuk mempengaruhi  produksi shale oil AS dengan cara terus melakukan produksi minyak mereka bahkan menambah kapasitas produksinya, yang mengakibatkan harga minyak anjlok seketika hingga di bawah 80 USD per barel.

AS mulai mengetahui ini, terutama ketika pertemuan OPEC di Wina pada 27 November 2014 yang ternyata mendukung penuh manuver politik Arab Saudi untuk tetap tidak menurunkan produksi minyaknya. Dan menariknya, hal ini didukung penuh oleh seluruh peserta konfrensi dari Timur Tengah dan juga Eropa.

Ketika Amerika mengetahui hal itu, maka John Kerry, menteri luar negeri AS, melakukan kunjungan ke Arab Saudi pada 11/9/2014 bertemu dengan Raja Arab Saudi, Raja Abdullah di istana musim panasnya dalam sebuah kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya. Setelah kunjungan itu sendiri Arab Saudi justru menambah produksi minyaknya lebih dari 100 ribu barel per hari selama sisa bulan September. Pada minggu pertama November Arab Saudi menurunkan harga minyak jenis Arab Light sebesar 45 cent per barel. Hal itu lantas mendorong harga minyak terus turun cepat dari harga US$ 80 per barel.

Tahu bahwa manuver pertamanya gagal terhadap Arab Saudi, AS mulai menunjukkan persetujuan terhadap penurunan harga minyak dan memakai isu pengaruh dampak penurunan harga tersebut terhadap Russia yang menduduki Krimea dan TENTUNYA juga terhadap politik Iran dalam konteks nuklir. Dengan kedua isu tersebut, Kerry mulai menyusun strategi untuk meyakinkan Arab Saudi kembali menjustifikasi harga minyak di level 80 USD per barel. Jauh sebelumnya, pada Maret 2014 lalu miliarder Goerge Soros mengusulkan kepada pemerintah Amerika "sarana untuk menghukum Rusia" karena menggabungkan semenanjung Krimea, yaitu dengan jalan menurunkan harga minyak.

So, Kerry berusaha menunjukkan persetujuan menurunkan harga pada batas ekonomisnya dengan kemudian 'berpolitik' (bahasa halus dari: mengelabuhi) terhadap Eropa dan Timur Tengah bahwa AS serius dalam menolong Ukraina melawan Russia. Disini dua sisi mata uang diperlihatkan oleh AS. Namun ternyata untuk pertama kalinya dalam sejarah AS tidak berhasil dalam misinya, harga minyak terus turun bahkan di level 48 USD per barel, jauh dari nilai ekonomis shale oil itu sendiri karena Arab Saudi masih terus berproduksi dengan kapasitas 100 ribu barel per hari.

Apakah harga minyak akan terus turun? Dilihat dari kenyataan bahwa Arab Saudi masih enggan menurunkan kapasitasnya, jawabannya adalah YA, setidaknya ada tiga hal :
  1. Arab Saudi terus melakukan peningkatan produksi hingga AS benar-benar menyerah dan kemudian menghentikan produksi shale oilnya dan kembali mengimpor minyak.
  2. AS berusaha terus mengembangkan teknologi agar biaya produksi shale oil dapat ditekan sehingga nilai shale oil tetap ekonomis meskipun harga minyak dunia turun.
  3. Atau kemungkinan kedua bahwa AS akan kembali melakukan aksinya langsung ke Timur Tengah, membuat berbagai konspirasi sehingga membuat defisit neraca APBN Arab Saudi membesar, sehingga terpaksa menurunkan kapasitas produksinya dan kemudian harga minyak kembali naik.

Potensi Pertamina

Entah dari tiga hal tersebut menjadi penting atau tidak, namun bagi kita semua pengetahuan tersebut perlu dikarenakan kebijakan ini berdampak banyak bagi Indonesia dan terutama calon emiten yang akan listing di bursa ini, dimana khususnya Pertamina yang 95% pendapatannya dihasilkan dari berjualan minyak mentah. Di tahun ini saja, Pertamina sudah membukukan penurunan laba bersih sebesar 28 %. Tapi fakta yang menarik kembali muncul, Pertamina hingga tahun ini mengimpor minyak mentah dari Arab Saudi dan Singapore lebih dari 850 ribu barel per hari dari total kebutuhan 1.5 juta barel per hari dan membutuhkan biaya impor hampir 2 trilyun per hari.

Itu artinya, Indonesia sebagai negara kaya minyak sudah tidak ada lagi, lebih dari setengah kebutuhan kita di impor dari negara lain, bahkan cadangan minyak kita kalah dari Malaysia. Penurunan harga minyak ini secara financial sebetulnya menguntungkan Pertamina sebab biaya impor menjadi sedemikan kecil. Dengan mempertahankan biaya operasional dan produksi maka laba Pertamina bisa meningkat signifikan. Bahkan mungkin lebih menguntungkan impor daripada produksi sendiri - memalukan memang :(

So, ada dua hal ironi yang kita alami. Di satu sisi, negara kita hanya memiliki cadangan minyak yang tinggal sedikit bahkan tidak bisa menutupi kebutuhannya sendiri dan disisi lain berbagai pihak di dalam bisnis minyak (Pertamina, Petral dan para broker) bisa mendulang untung yang besar karena jatuhnya harga minyak. Ya tentunya dengan mengorbankan predikat negeri kaya minyak dengan predikat negara importir minyak.

Salam Investasi

Source:
Dari beragam sumber lainnya.
Read more →

28 Jan 2015

LSIP dan CLPI - 10 SAHAM MURAH INDONESIA DAN LAYAK BELI SEKARANG! (bagian 5)

,

6. LSIP - London Sumatera Plantation

LSIP sendiri sudah pernah kami bahas pada 2014 di Peluang Saham LSIP dimana kami memiliki target jangka panjang terhadap saham LSIP. Sedikit mengulang dari bab sebelumnya, beberapa point penting yang menyebabkan LSIP menjadi cukup layak meskipun harganya tidak bisa dibilang undervalue, tapi juga tidak bisa dibilang overvalue, alias wajar saja.
  1. LSIP mulai mengurangi kapasitas ekspor untuk menjaga dari ketergantungan ekspor dimana permintaan dari Eropa dan India yang menurun. LSIP mulai mengalokasikan hampir 100% kepada konsumsi lokal
  2. Kinerja keuangan LSIP yang excellent. LSIP beroperasi tanpa hutang, memiliki free cash flow dan Net Working Capital positif. Angka free cash flow bahkan 57% dari belanja modal tahunannya (Capex), artinya jika kita belanja tinta 100 rupiah, kita mampu menjual banner kembali dan menyisakan 57 rupiah untuk disisakan atau di tabung.
  3. LSIP rajin membagi dividen setiap tahunnya dengan payout ratio 33%, artinya setiap keuntungan perusahaan 100 rupiah per saham, 33 rupiahnya akan dibagi ke pemilik saham. 
  4. PER saat ini masih 18x dan PBV 1.8x. Secara PER, LSIP tidak undervalue, namun secara Book Value angka ini sudah cukup undervalue. Bandingkan dengan AALI yang sudah mencapai PER 20,3x dan PBV di atas 3x. Ingat LSIP merupakan emiten hulu sawit terbesar kedua setelah AALI.
Dengan 4 katalis di atas, cukup rasanya jika LSIP ada di posisi 6. Kunci untuk sukses dari emiten ini adalah kesabaran.

7. CLPI - Colorpak Indonesia

CLPI adalah produsen plastik film dan tinta cair yang banyak digunakan untuk Industri. Penulis sendiri dulu pernah bekerja di perusahaan Pulp & Paper Packaging dan disanalah mulai mengenal produk-produk dari Colorpak.

Secara kapitalisasi, CLPI memang bukan perusahaan raksasa, namun  konsistensi perusahaan itu dalam beroperasi patut diacungi jempol tiga.


Melihat tabel ROE di atas, bisa dikatakan bahwa CLPI adalah perusahaan yang cukup mature, konstan dan tidak terlalu sibuk berekspansi, setidaknya dalam waktu 1-2 tahun ini. Bagi penggila tantangan, CLPI tidak menarik, namun bagi Warren Buffet perusahaan seperti CLPI justru mungkin akan dilirik, sebab sesuai filosofi Buffet yang tidak terlalu peduli pada grafik EPS yang meningkat tapi lebih kepada ROE yang konstan. 

CLPI diperdagangkan dengan PER 3.36x dan PBV 0.85x alias totally undervalue. Tapi apakah sudah layak? Silahkan anda lihat kinerja keuangannya di situs IDX-CLPI

CLPI memiliki rasio lancar 1.72x (positif) dan free cash flow positif sebesar 9.82% dari belanja modal tahunannya. Yang menarik CLPI memiliki laba di tahan (retained earning) yang cukup besar, sekitar 250 milyar hampir menyamai ekuitasnya sendiri sekitar 300 milyar. Angka ini sangat menarik, karena laba ditahan dapat digunakan kembali sebagai modal kerja atau di bagi ke pemilik saham dalam bentuk dividen. Itulah juga yang terjadi pada beberapa perusahaan Warren Buffet dimana Buffet selalu menilai dari berapa uang yang dapat dihasilkan selama perusahaan tersebut bekerja, bukan hanya menilai keuntungan / laba. Biasanya 'harta' perusahaan tidak dilaporkan secara gamblang seperti nilai laba atau cash flow, Investor harus cukup jeli untuk melihat 'hidden treasure'.

Manajemen CLPI termasuk salah satu yang harus diperhatikan, karena secara lugas melaporkan penurunan laba pada 2013 akibat musibah kebakaran yang terjadi. Artinya manajemen cukup jujur dan profesional dalam menghadapi pemilik saham dan publik.

CLPI termasuk saham yang dikenal kurang likuid, tapi berubah semenjak terjadi buy back saham oleh para pemilik sahamnya sendiri sebesar 24% dari yang beredar di pasar, yang artinya pemilik sahamnya sendiri cukup yakin terhadap perusahaannya, mungkin..beberapa manajemennya juga memiliki beberapa persen dari kepemilikan.  Setelah buy back tersebut, terbukti saham CLPI mulai tampak likuid di market.

Salam Investasi
Read more →

23 Jan 2015

Think First, Shoot Later!

,
Investasi saham merupakan kegiatan yang unik dan menarik, karena bukan hanya tentang angka tapi lebih dari itu, emosional dan mental justru terkadang lebih terlihat ketimbang angka itu sendiri.

Saya cukup sering membaca blog ini yang isinya terkesan 'serius' dalam soal investasi saham, meskipun tak jarang juga saham yang dibahas memang 'nendang' dan cukup responsif. Tapi bolehlah satu tulisan ini mencoba untuk rehat sejenak dari angka-angka yang njelimet untuk melihat sisi 'lain' namun nyata di dalam bursa saham. - toh IHSG sedang ijo royo

Saya tergelitik dari sebuah gambar kartun duitto.com ini

Sumber: Kontan Images

Apa yang digambarkan oleh kartun tersebut adalah kondisi nyata yang banyak sekali dialami oleh kita, para pelaku jual-beli saham di Indonesia. Mudah sekali - bahkan cenderung rapuh - termakan oleh isyu dan berita yang tidak ada kaitannya sama sekali.

Seperti gambar di atas, saya mengalaminya sendiri karena aktif sebagai kontributor salah satu grup saham di mail. Ketika salah satu media online membombardir berita financialnya dengan turunnya rating kredit Yunani ke tingkat default, yang berimpact pada turunnya nilai tukar Euro terhadap Dollar US. Apa yang terjadi? puluhan email masuk ke grup dan juga email pribadi saya yang isinya sama: Apa saya harus jual saham sekarang?

Terus terang saya gak tahu dan gak ngerti harus jawab apa, akhirnya sebagai syarat keaktifan saya pun berbalik tanya: Hari ini ibu / bapak masih berangkat kerja? Ada bakar-bakaran gak Sudirman? Beli ayam masih bisa di Carrefour?

Dan impactnya, saya justru di berondong balik dengan beragam email dan bbm berkonten negatif yang intinya saya tidak memiliki sense of crisis?! alias tidak peka terhadap krisis ekonomi dunia. Oke, bahkan pertanyaan saya yang paling mendasar diatas pun belum dijawab. But, lagi-lagi demi keaktifan, akhirnya saya menjawab bahwa hubungan ekonomi Indonesia-Yunani itu paling banter adalah kapas. Untuk krisis Eropa sendiri akhirnya saya 'kembali ke laptop' dan mengklik artikel update ekspor minyak sawit yang dilakukan oleh Astra Agro dan Lonsum. Memang ada angka yang menurun, tapi tidak signifikan alias siklus bisnis biasa. Apalagi Astra Agro dan Lonsum terus mengolah kelapa sawit untuk konsumsi dalam negeri yang grafiknya semakin meningkat. Ini mengindikasikan dua hal: Pertama: Mengurangi ketergantungan ekspor. Kedua: Ekonomi dalam negeri masih oke oke saja. 

Selesai dengan Sawit, saya terus lanjut dengan menelpon kawan-kawan yang bekerja di travel agent, lima di Indonesia, satu di Paris, satu di Inggris, dan satu di Swedia untuk mengecek bagaimana kondisi real ekonomi Eropa. Karena kami memiliki jargon: Europe is travelling, paling mudah mengecek tebal tidaknya kocek orang-orang Eropa dengan melihat travel agent. Dan hasilnya ternyata jumlah wisatawan Eropa ke Bali justru meningkat, ke Lombok malah 2xnya dari Bali. Bahkan yang ke Raja Ampat Papua ikut-ikutan meningkat. Padahal biaya travelling ke Raja Ampat bisa untuk biaya sekolah SLTP putri saya 6 bulan.

Yang lebih konyol adalah ketika saya telepon travel agent tersebut dan menanyakan kabar tentang krisis Yunani dan Eropa, karena terus terang, saya cukup terganggu dengan jumlah turis yang justru naik ketika berita krisis Yunani dan Eropa muncul. Jawabannya justru cukup memuakkan, 

"Hah, krisis? krisis apa ya? ini malah banyak bule yang lagi nanya-nanya promo tur Medan sama Manado, mereka kayaknya lagi bosen ke Bali-Lombok.."

Seketika perut saya mual ketika masih ada bbm yang menanyakan jual saham atau hold. Hey, orang eropanya aja santai-santai aja dan sekarang lagi sibuk lihat pamflet promo tur ke Medan dan Manado karena udah bosen ke Bali - Lombok. Dan kita disini masih aja keringet dingin mikirin Yunani yang gak tahu buntutnya ke Indonesia apa.

Contoh yang Baik

Contoh yang paling baik dan asyik ialah sang empunya blog ini. Hari ini, semua kawan sedang sibuk memilih saham apa yang akan naik berhubung IHSG lagi jackpot, telpon sana sini, baca broadcast dan blog saham teknikal untuk membandingkan saham A naik atau turun, begitu di hajar kanan eeeh malah turun, begitu di hajar kiri eeeh malah naik. 

Di tengah keriuhan, si empunya blog ini malah lagi liburan di Bandung dengan menginap di hotel yang aduhai. Beberapa foto maternity istrinya yang sedang hamil muncul di instagram yang di foto oleh dirinya sendiri. Liburan, melakukan hobi terus balik kerja lagi. Ritual yang menurut saya menjadi idaman hampir setiap orang. Walaupun di balik itu, kerja keras sangat dibutuhkan untuk memilih saham apa yang layak di koleksi sebagai Investasi.

Saya yakin, jika dia di telpon dan ditanya prospek IHSG di tengah rupiah yang terpuruk, jawabannya justru pertanyaan: "Kondisi riil masih bagus gak? Angkot masih ngetem gak? Paling yang gw tahu wakil ketua KPK yang ditangkep Polri".

Alangkah memuakkan jawaban itu, tapi memang itulah kenyataan. Kita terlalu sibuk melihat rumput tetangga yang mulai rontok karena tanahnya retak, tapi lupa bahwa rumput kita baru di tanam dan bahkan belum hijau, sedangkan air dan pupuk masih berlimpah di rumah kita.

Kenyataan dan sebagai pelajaran bagi kita semua, ketika krisis Yunani tersebut muncul, IHSG memang cukup drop dan banyak kawan yang melakukan cut ketika IHSG mengalami tekanan, alias sudah rugi. Dan karena memang fundamental Indonesia gak bermasalah, IHSG kembali terbang hingga saat ini. Konyolnya, banyak kawan yang tadinya cut justru buy back ketika IHSG sudah all time high. Alias untungnya menjadi tidak seberapa.

Kebalikan dengan para investor yang saya kenal, termasuk si empunya blog ini. Ketika IHSG drop karena isu Yunani dan Eropa, mereka malah melakukan banyak pembelian saham, salah satunya pembelian yang cukup besar terhadap saham properti dan bank. Setelah itu, mereka kembali sibuk pada kegiatan masing-masing dan kemudian: liburan

Think First Shoot Later!

So, think first shoot later! Jargon tersebut saya pikir menjadi sangat penting untuk bisa meminimalisir resiko. Jika anda didalam blog ini anda selalu menemukan kata-kata margin of safety sebagai kata-kata sakti dari Benjamin Graham. Maka saya ingin memasukkan unsur think sebagai tambahan safety terhadap resiko anda. Kita tidak bisa serta merta optimis ataupun pesimis ketika hanya sekali klik bloomberg atau membuka twitter. Kita perlu puluhan bahkan ratusan kali klik, bukan hanya bloomberg, tapi juga Kontak, Kompas, Financial Times dan perlu scroll berkali-kali Twitter, Line, dan bbm grup. Terpentingnya lagi jelas dengan melihat langsung dengan mata kepala anda sendiri bagaimana kondisi riil negara kita. Ini justru yang mayoritas Investor lakukan - simply is faultless

Ingat, itu uang anda. walapun di beberapa seminar dan blog yang saya ikuti bahwa gunakanlah 'uang dingin' alias uang yang nganggur untuk dipakai membeli saham. Tapi tetap saja that's your money dude!, you ain't earn the money easily.  Bagaimana anda bisa menyebut uang itu dingin, seakan-akan anda membeli saham seperti anda membeli kacang rebus, yang kalau dapet busuk langsung dibuang. 

Bagaimana cara pandang kita terhadap uang, itulah cara pandang kita terhadap bisnis dan saham.

Thanks to empunya blog
Salam Investasi
Read more →

8 Jan 2015

Lippo Cikarang (LPCK) - 10 saham murah Indonesia dan layak beli sekarang! (bagian 4)

,

Lippo Cikarang (LPCK)

Lippo Cikarang (LPCK) yang berada di posisi 5, merupakan emiten developer property milik taipan Lippo Group yang fokus berada di daerah industri Cikarang dan Bekasi dan bahkan saat ini LPCK telah menjadi ikon daerah Cikarang, bukan hanya hunian tapi juga kawasan Industri.


Saat ini LPCK memiliki lahan bersih yang belum di kembangkan sebesar 425.49 Ha, tanah sedang dalam pengembangan sebanyak 208.32 Ha dan juga kawasan industri yang belum di garap sebesar 579 Ha. Semua lahan tersebut berada di daerah Cikarang dan Bekasi.

Yang menarik adalah rencana pembangunan Airport baru di Karawang juga pelabuhan di Cilamaya, yang pasti akan meningkatkan prospek Cikarang dan Bekasi secara drastis

Untuk nilai buku tanah yang dikembangkan sendiri harganya sebesar Rp 266,612/m2. Angka tersebut didapat secara sederhana dengan pembagian total nilai buku tanah yang tertera di dalam laporan keuangan kuartal 3 September 2014 sebesar 368 milyar dengan luas tanah pengembangkan (development land) 138 hektar.

So, lalu bagaimana dengan NAV (Net Asset Value)? NAV yang biasa memang digunakan untuk menilai aset bersih dari perusahaan property, terutama yang mayoritas bisnisnya adalah hunian dan apartemen. Jika di atas tadi kita memakai NJOP, maka dsini kita sudah memasukkan unsur market, prospek, dsb.

NAV kali ini dikhususkan bagi lahan yang masih kosong atau sedang dalam tahap pengembangan. Mengapa demikian? Karena yang kita hitung adalah prospeknya. Dan prospek terbesar dari emiten developer hunian adalah data land bank. Jika data land bank sudah melebihi harga sahamnya, maka aset yang berbentuk properti jadi tidak perlu lagi kita masukkan.

Harga tanah di lippo cikarang cukup beragam, sehingga kami bagi menjadi 3 bagian besar, yaitu tanah inventaris, yaitu tanah yang belum dibuat apa-apa, alias tanah kosongan. Kedua adalah development land atau tanah yang masuk dalam tahap perencanaan untuk dibangun, dan ketiga adalah tanah yang dikhususkan untuk kawasan industri.

Sumber: Srimaya Investment (data diolah dengan panambahan asumsi)

Harga jual net per m2 di atas sudah dikurangi dengan biaya development dan marketing yang jumlahnya biasanya mencapai 20-22%. Sehingga jika nilai jual bersihnya 800 ribu/m2, maka harga jual gross (harga jual yang akan anda terima jika anda berminat membeli) mencapai 1 juta /m2. Hasilnya, hanya dengan menghitung land-bank bersih saja ternyata sudah lebih tinggi dari harga sahamnya sendiri. Atau menghasilkan margin of safety sebesar 43,77% tanpa memperhitungkan kenaikan nilai investasi tanah.

Beberapa dari anda mungkin bertanya-tanya, mengapa harga tanahnya kok murah sekali? 460.800 rupiah saja per m2. Bahkan di nilai bukunya berdasarkan laporan keuangan hanya 266 ribu rupiah per m2. Memang data land-bank ini kami ambil yang terkecil (termurah) dari seluruh harga tanah di daerah milik Lippo Cikarang yang beragam dan sifat dari harga land-bank ini adalah harga tanah yang memang belum dilakukan apa-apa di atasnya, alias masih kosong sehingga harga mengacu kepada NJOP itu sendiri.

Apabila anda berminat dan mengajukan diri ke pihak Lippo atas tanah tersebut, jangan harap mendapat harga yang tertera di atas. Rata-rata harga komersial Lippo Cikarang sudah 2-3 juta/m2, termahal hampir 10 juta/m2.

Mengapa kami ambil yang termurah? Karena kami ingin melihat margin aman yang minimal. Jika dengan harga yang terkecil kita sudah bisa mendapatkan margin aman, untuk apa mengambil yang lebih besar?

Kinerja

Sebetulnya cukup sulit untuk menentukan emiten yang berada di posisi ke 5 ini. Cukup banyak pesaing, namun melihat kinerjanya yang menjulang. LPCK kami rasa cukup pantas masuk di dalam jajaran elit 5 besar saham murah dan layak beli di Indonesia.


Cukup sulit mendapatkan perusahaan yang konsisten seperti LPCK. Walaupun tidak sebesar pesaing utamanya: Jababeka, namun sedikit demi sedikit LPCK mulai menambah lokasi dan kawasan Industrinya dengan mulai melebar ke Karawang. Potensi huniannya (rumah cluster, mall, apartemen) sendiri sudah menjadi primadona sejak 2010 di Cikarang dan Bekasi - tercermin di grafik net income

Saham Murah

Dengan menyandang nama besar, LPCK ternyata diperdagangkan dengan nilai PER hanya 8.08x di harga Rp 10,525 / lembar (saat tulisan ini dibuat) alias sangat murah jika dibandingkan dengan saudaranya LPKR yang memiliki PER 16,69x (lebih dari setengahnya). So, dengan metode nilai intrinsik dan pertumbuhan laba, kita dapatkan harga wajar LPCK adalah:


Bayangkan, dengan rata-rata pertumbuhan laba sebesar 114%, LPCK hanya memiliki PER 8.08x dan margin of safety sebesar 112%!. Nilai wajar (fair value) yang sebesar Rp 22,378 itu mengindikasikan bahwa ADA wonderfull company di Indonesia dengan harga saham yang masih murah.

Kinerja Keuangan

LPCK dalah setiap laporan keuangannya selalu memberikan nilai plus di dalam free cash flow, alias selalu positif. Meskipun jika anda cermati lebih dalam, terdapat nilai negatif dalam laporan kuartalnya tapi penulis rasa, nilai negatif itu tidak terlalu tampak karena cash flow akhirnya toh tetap positif. 

Karena bisnis LPCK berjalan tanpa hutang (DER tercatat hanya 0.04) maka prospek keuangannya bisa langsung melihat antara aset lancar dengan kewajiban lancarnya. Dimana selisihnya, biasa disebut Net Working Capital (NWC) sebesar 1,9 trilyun rupiah alias 900% berbanding belanja modalnya sendiri. Bahkan penulis rasa, dengan NWC sebesar itu, untuk membeli 1/2 dari Jababeka pun masih sanggup. 

Dengan perbandingan positif sebesar itu, LPCK layak untuk mendapat predikat woderfull company. Yang mana sebuah wonderfull company pastilah ditangani oleh manajemen yang sehat.

Prospek

Lalu, bagaimana jika kita kembali melihat NAV diatas dan mulai memprediksi kenaikan harga tanah sebesar 8% saja pertahun (asumsi konservatif tulen)? Berapa aset yang akan dimiliki LPCK? Bagaimana jika bandara Karawang betul betul dibangun, disusul pelebaran Terminal pelabuhan Tanjung Priok ke Cilamaya berjalan (ingat konsep pendulum nusantara?) ? Plus ditambah beroperasinya pabrik Toyota Thailand di Karawang?

Sekedar info saja, harga property di Lippo Cikarang meningkat hampir 300% sejak 2009 - 2014 ketika beredar isu akan dibangun bandara di dekat sana. Baru isu lho, belum kejadian. Sekarang? berdasarkan info 'orang dalam', master plannya sudah jadi, terutama pembangunan pelabuhan Cilamaya dan sudah masuk ke dalam rencana percepatan pembangunan era Jokowi-JK. Tinggal bersabar tunggu realisasi.

Satu-satunya kelemahan dari emiten ini ialah, LPCK kurang rajin membagi dividen untuk para pemegang saham, padahal di tengah keuntungan yang cukup hebat seharusnya membagi dividen bukanlah hal yang sulit. Manajemen LPCK lebih memilih memutar kembali uangnya untuk ekspansi ketimbang membaginya secara langsung. Hmm..tampak sulit bagi investor yang berorientasi mengejar dividen, tapi..biasanya, perusahaan sekelas LPCK pasti sudah memiliki ancang-ancang agar tidak kehilangan pemegang saham yang mulai bosan, yaitu dengan cara menjaga kinerja dan juga track sahamnya agar tetap menguntungkan.

Salam Investasi

Read more →