9 Feb 2015

Buffet-Munger Screener

,
Buffet-Munger screener adalah metode yang dipakai oleh Warren Buffet dan Charlie Munger dalam memilih saham (stock picking) dalam sebaris kalimat: Menemukan perusahaan berkualitas tinggi dengan harga murah atau wajar.

Kriteria umum adalah sebagai berikut:

  1. Perusahaan memiliki tingkat prediksi bisnis yang tinggi (high predictibility rank), artinya bisnis perusahaan merupakan bisnis yang bisa diprediksi kemajuannya dalam jangka panjang, memiliki pendapatan dan laba yang senantiasa tumbuh konsisten.
  2. Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif (compretitive advantage), atau yang biasa disebut MOAT. Ini berguna seandainya perusahaan melakukan ekspansi usaha, itu tidak akan menggerus laba yang sudah berjalan.
  3. Perusahaan menggunakan sedikit hutang dalam pengembangan usahanya. Namun ini bisa sedikit longgar selama debt to equity masih dibawah satu, atau diimbagi dengan kenaikan laba atau ekuitas yang meyakinkan. Jika hutang bertambah namun anda tidak yakin bahwa bisnis usaha juga langsung meningkat, maka lebih baik tunda.
  4. Perusahaan berada dalam rentang harga yang murah (undervalue) ataupun wajar. Namun, seperti anda tahu, saya menggunakan margin of safety sebagai hasil akhir dan bukan P/E atau Pbv. Atau ada sebuah cara powerfull dari Charlie Munger ialah dengan menggunakan PEG, membagi P/E dengan rata-rata pertumbuhan Ebitda selama lima tahun terakhir. 
Kita akan membahas cara melihat high predictibility rank dalam waktu lain.

Salam Investasi


Read more →

3 Feb 2015

Penurunan Harga Minyak dan Potensi Emiten Minyak dan Gas - Oil Insight

,
Mencermati potensi emiten baru, sebanyak 35 emiten baru di targetkan listing tahun ini. Begitulah bunyi Headline news majalah INVESTOR edisi Januari 2015 yang menjadi weekend reading list penulis di minggu ini. Penasaran dengan siapa saja emiten di dalam berita tersebut, penulis mendapatkan 35 (38 tepatnya) emiten yang ter-list di halaman 44.

Sumber: Dok Pribadi
Hampir 80% dari semua emiten yang ada adalah emiten yang menarik. Tapi yang paling menarik tentu saja munculnya nama perusahaan BUMN terbesar, yang mendapat predikat BUMN dengan laba terbesar tahun 2014, Pertamina.
Tidak tanggung-tanggung, empat anak perusahaannya menjadi target IPO di tahun ini; Pertamina Gas, Pertamina Drilling Services, Pertamina Hulu Energy dan Pertamina Geothermal.
Sekilas, mendengar ke empat nama itu saja, kita sudah dibayangkan oleh hal-hal yang extraordinary, anak emas negara, proyek migas dengan nilai besar, gaji pegawai besar plus tunjangan ini itu, keamanan kerja yang terpercaya dan tentunya penentu hajat hidup rakyat Indonesia. Bayangkan, pemerintah baru mengeluarkan isu mau naikin BBM saja, ributnya rakyat luar biasa. Trending topic di tivi berhari-hari dan begitu sudah di naikkan, betapa kita merasakan efek yang luar biasa walaupun sebetulnya bukan efek secara fisik, tapi lebih kepada efek akibat pemberitaan atau news effect.

Lalu bagaimana 'pesona' Pertamina tadi dapat meyakinkan para Investor ritel? yang notabenenya memburu saham dengan dua pendekatan: Fundamental dan Teknikal, sedangkan kita tahu bersama bahwa alur bisnis migas adalah alur bisnis yang paling complicated di seluruh dunia. Secara fundamental harus ditelusuri hulu ke hilir, yang mana terdapat efek spekulasi yang besar disana, apalagi secara teknikal. Tapi tetap saja, industri ini sangat menarik, setidaknya bagi penulis pribadi.


Kenaikan harga BBM dari Rp 6500/liter menjadi Rp 8000/liter kemudian turun lagi menjadi Rp 6700/liter menimbulkan suatu berita spekulasi bahwa kenaikan tersebut di lakukan oleh pemerintah sebagai pemasukan cadangan untuk menutupi lobang anggaran yang mana anggaran tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastructur. Setelah anggaran tersebut aman, pemerintah kembali menurunkan harga premium (penulis tidak ingin menyebut 'subsidi') kembali ke Rp 6700/liter untuk mengikuti harga minyak dunia - kali ini diikuti pertamax dan kawan kawan.


Pertanyaan besar bermula: jika harga minyak Indonesia mengikuti harga minyak dunia, artinya ketergantungan pemerintah (terutama Pertamina) terhadap pengaruh minyak global besar sekali? Betul. Lantas bagaimana jika harga minyak dunia terus turun? Ya bisa rugi. Lalu apakah IPO ini menjanjikan? Kita tidak tahu, kita harus lihat dari latar belakang anjloknya harga minyak dunia terlebih dahulu.

Harga minyak dunia terus mengalami penurunan yang signifikan sejak JUNI 2014. Pada saat itu, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) masih di ambang 105 USD/barrel dan pada saat itu, banyak spekulan yang memprediksi minyak akan terus melambung melampaui all time high-nya di 133.38 USD pada Juli 2008. Tapi kenyataannya tiba-tiba harga minyak terus turun tanpa terkendali hingga hari ini di kisaran 44.80 USD/barel. Hanya dalam waktu 7 bulan, harga minyak anjlok sebesar 57%! Silahkan lihat chartnya DISINI

Adapun penurunan harga minyak itu dipengaruhi oleh dua hal dasar:


Pertama adalah faktor Ekonomi.


Sama dengan faktor ekonomi biasa, khususnya harga komoditas. Maka harga minyak juga dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan. Ketika tahun 2003 dimana terjadi krisis Irak (Amerika menggulingkan Saddam Husein) yang menyebabkan munculnya gerakan perlawanan rakyat Irak dengan melakukan peledakan-peledakan pipa minyak yang hampir setiap hari terjadi. Efeknya produksi minyak Irak berkurang drastis. Kemudian diikuti badai Katrina di Amerika yang melumpuhkan produksi minyak mereka dan juga krisis Nigeria yang mana semua hal tersebut menyebabkan penawaran/produksi berkurang sedangkan pemintaan tetap (naik wajar secara eksponensial), sehingga harga minyak melonjak tinggi hingga puncaknya pada Juli 2008.

Saat ini, seperti dilansir majalah dan media online luar (Forbes, Times, Reuters dll). Terjadi kebalikan, dimana permintaan menurun drastis akibat menurunnya tingkat ekonomi negara-negara pengimpor minyak, diantaranya: China, Jepang, AS dan terutama Eropa, sehingga terjadi penumpukan minyak mentah akibat Arab Saudi dan negara Arab lainnya yang tidak mau mengurangi produksi. Apakah benar? Mari kita lihat lebih jauh.

Produksi minyak mentah lebih pada kisaran 70 juta barel per hari semenjak 2004 dan pada 2013, produksi mencapai angka 75.24 juta barel per hari. Konsumsi minyak dunia ada pada kisaran 80 juta barel per hari dan pada 2013 mencapai angka 90.35 juta barel per hari (silahkan klik disini). Menurut IEA (International Energy Agency) permintaan pada 2014 mencapai 93.08 juta barel per hari dan produksi mencapai 93.74 juta barel per hari. Apa yang menarik? yang menarik tentu adalah FAKTA bahwa permintaan akan minyak tidak pernah akan turun. Begitu pula dengan gas, selama dunia membutuhkan energy selama itulah kebutuhan akan minyak dan gas selalu bertambah.

Penulis ingat pemikiran George Soros tentang konsep 'titik equilibrium' atau 'titik keseimbangan'. Dimana konsep tersebut bukan hanya menekankan pada titik keseimbangan nilai intrinsik dari saham, tapi juga titik keseimbangan akan permintaan dan penawaran dan berujung pada "bergoncangnya" harga. Disini kita lihat bahwa produksi minyak sejak 2004 semakin mendekati titik konsumsi / permintaan dan akhirnya mencapai 'titik equilibrium' pada 2014 yang kemudian memotong untuk selanjutnya harga menjadi jatuh. Mungkin inilah yang oleh para pengamat disebut penurunan permintaan. Nyatanya  permintaan tetap naik eksponensial, namun produksi yang bertambah secara gradual.

So kesimpulannya, alasan pertama tentang ekonomi tidak bisa di lacak secara fakta, sehingga mungkin agak sedikit bingung mendengar pendapat para pengamat dan ahli perminyakan, mungkinkah memang alasan tersebut 'disengaja'?  Lantas mengapa produksi minyak meningkat melebihi permintaannya? Dalam waktu 7 bulan?? Menarik.

Kedua adalah faktor Politik.

Maret 2001, pada pertemuan puncak energi nasional, Abraham Isbenser, sekretaris energi presiden Bush, mengatakan, “Amerika akan menghadapi krisis yang sesungguhnya dalam cadangan energi selama dua dekade mendatang. Sesungguhnya kegagalan menghadapi tantangan ini akan mengancam kemakmuran perekonomian dan akan mempengaruhi keamanan nasional. Juga akan merubah metode kehidupan kita.” Pidato ini menyulut reaksi frontal dari Presiden Amerika George Bush untuk mengeluarkan statement pada pidatonya “Sesungguhnya AS tergantung kepada minyak.”. Dan dia menambahan “Kita akan menghadapi masalah yang pelik, AS tergantung kepada minyak yang diimpor dari wilayah yang tidak stabil (Negara Arab dan Afrika) dan cara yang paling baik untuk melepaskan diri dari ketergantungan itu adalah teknologi.” 

Atas dasar itulah, Bush menyatakan harapannya, kalau dia melakukan hal itu, maka AS akan mampu “Melepaskan diri dari kira-kira 75% impor minyak dari Timur Tengah setelah tahun 2025.” Inti dari pidato tersebut adalah dorongan Bush untuk pengembangan energi alternatif, yang nantinya (saat ini) disebut "Shale oil"


Rencana Bush untuk mengembangkan sumber-sumber alternatif dan menurunkan impor minyak telah mengarahkan terjadinya kenaikan harga minyak yang rendah hingga sampai pada level harga mahal, sehingga relevan dengan pemasaran sumber alternatif (nantinya).


Di sinilah peranan perusahaan-perusahaan minyak, khususnya perusahaan-perusahaan Amerika. Perusahaan-perusahaan itu mulai melakukan spekulasi harga dan membuat berbagai manuver untuk merekayasa permintaan (supaya) terus meningkat, tanpa meperhitungkan kebutuhan konsumsi riil. Di samping perusahaan-perusahaan itu juga melakukan penimbunan, sehingga harga minyak mengalami lonjakan beruntun sampai melampaui 75 USD per barel dan terus beruntun hingga 133 USD per barel. Sehingga pada titik ini sebetulnya para 'pemain' bisnis minyak sudah tahu, bahwa lonjakan harga minyak tidak akan berlangsung lama dan begitu terjadi konflik yang sedikit saja, maka harga minyak akan lepas.

Kita tahu bahwa penentu harga minyak bukan hanya dari satu sisi (AS atau Arab Saudi) tapi lebih dari itu, yang mana importir (China, Jepang, Kanada dsb) juga para kontraktor minyak (Exxon, Chevron, BP dsb) ditambah OPEC sendiri dan para broker minyak yang berpusat di Singapura adalah para pemberi pengaruh terhadap harga minyak itu sendiri.

Ucapan Bush terbukti pada 2013, ketika AS berhasil melampaui Arab Saudi dan Rusia sebagai eksportir minyak terbesar di dunia disebabkan ekstraksi minyak melalui pemecahan batuan sedimen di bawah tanah (shale oil).

Bank of America menyebutkan pada musim panas 2014: “AS akan terus menjadi produsen terbesar minyak di dunia pada tahun ini, melampui Arab Saudi dan Rusia, dalam mengekstraksi energi dari minyak bebatuan (shale oil). Itulah yang membangkitkan perekonomian dalam negeri. Produksi minyak mentah AS, berdampingan dengan cair, dan pemisahan minyak dari gas alam, telah melampaui negara lain pada tahun ini. Produksi minyak AS lebih dari 11 juta barel pada kuartal pertama tahun in “AS menjadi produsen minyak terbesar setelah menyalip Arab Saudi”, Bloomberg, 4 Juli 2014).

Revolusi minyak dan gas bebatuan (shale oil and gas) di AS menyebabkan peningkatan produksi minyak dari 5,5 juta barel per hari pada tahun 2011 menjadi saat ini 10 juta barel per hari. Hal itu bisa menutupi sebagian besar kebutuhannya sehingga impor minyak AS dari Arab Saudi bisa menurun hingga setengahnya yaitu menjadi 878 ribu barel per hari dari sebelumnya 1,32 juta barel per hari. Inilah pemicu pertama dari mulai turunnya harga minyak, karena semenjak itu AS mulai mengurangi import minyak mereka terhadap Timur Tengah.

Akan tetapi masalah minyak bebatuan (shale oil) adalah biaya produksinya yang mencapai 75 USD per barel. Sementara biaya produksi minyak alami (crude oil) tidak lebih dari 7 USD per barel. Ini artinya bahwa negara-negara produsen minyak bebatuan (shale oil) terutama AS akan terpukul jika harga minyak menurun hingga level di bawah biaya produksi itu. Dengan kata lain, ketika  Bush mengumumkan bahwa shale oil  akan menjadi energi alternatif di tengah naiknya harga minyak (yang karena ulah spekulan dan krisis timur tengah) shale oil menjadi sangat ekonomis pada tahun 2011 ketika harga minyak mentah tinggi. Akan menjadi tidak ekonomis nilainya saat ini jika harga minyak mentah di bawah biaya produksi shale oil itu sendiri. Meskipun dengan peningkatan teknologi biaya itu bisa di reduce menjadi 50 - 60 USD per barel. Sehingga, harga yang paling ekonomis untuk minyak menurut AS adalah 80 USD per barel.

Bisa kita lihat bersama, bahwa strategi konspirasi AS mencari 'titik equilibrium' ternyata di hambat oleh Arab Saudi, yang mana sangat berpengaruh di dalam OPEC. Arab Saudi yang dikenal sangat dekat dengan Inggris mulai bermanuver dalam politik untuk mempengaruhi  produksi shale oil AS dengan cara terus melakukan produksi minyak mereka bahkan menambah kapasitas produksinya, yang mengakibatkan harga minyak anjlok seketika hingga di bawah 80 USD per barel.

AS mulai mengetahui ini, terutama ketika pertemuan OPEC di Wina pada 27 November 2014 yang ternyata mendukung penuh manuver politik Arab Saudi untuk tetap tidak menurunkan produksi minyaknya. Dan menariknya, hal ini didukung penuh oleh seluruh peserta konfrensi dari Timur Tengah dan juga Eropa.

Ketika Amerika mengetahui hal itu, maka John Kerry, menteri luar negeri AS, melakukan kunjungan ke Arab Saudi pada 11/9/2014 bertemu dengan Raja Arab Saudi, Raja Abdullah di istana musim panasnya dalam sebuah kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya. Setelah kunjungan itu sendiri Arab Saudi justru menambah produksi minyaknya lebih dari 100 ribu barel per hari selama sisa bulan September. Pada minggu pertama November Arab Saudi menurunkan harga minyak jenis Arab Light sebesar 45 cent per barel. Hal itu lantas mendorong harga minyak terus turun cepat dari harga US$ 80 per barel.

Tahu bahwa manuver pertamanya gagal terhadap Arab Saudi, AS mulai menunjukkan persetujuan terhadap penurunan harga minyak dan memakai isu pengaruh dampak penurunan harga tersebut terhadap Russia yang menduduki Krimea dan TENTUNYA juga terhadap politik Iran dalam konteks nuklir. Dengan kedua isu tersebut, Kerry mulai menyusun strategi untuk meyakinkan Arab Saudi kembali menjustifikasi harga minyak di level 80 USD per barel. Jauh sebelumnya, pada Maret 2014 lalu miliarder Goerge Soros mengusulkan kepada pemerintah Amerika "sarana untuk menghukum Rusia" karena menggabungkan semenanjung Krimea, yaitu dengan jalan menurunkan harga minyak.

So, Kerry berusaha menunjukkan persetujuan menurunkan harga pada batas ekonomisnya dengan kemudian 'berpolitik' (bahasa halus dari: mengelabuhi) terhadap Eropa dan Timur Tengah bahwa AS serius dalam menolong Ukraina melawan Russia. Disini dua sisi mata uang diperlihatkan oleh AS. Namun ternyata untuk pertama kalinya dalam sejarah AS tidak berhasil dalam misinya, harga minyak terus turun bahkan di level 48 USD per barel, jauh dari nilai ekonomis shale oil itu sendiri karena Arab Saudi masih terus berproduksi dengan kapasitas 100 ribu barel per hari.

Apakah harga minyak akan terus turun? Dilihat dari kenyataan bahwa Arab Saudi masih enggan menurunkan kapasitasnya, jawabannya adalah YA, setidaknya ada tiga hal :
  1. Arab Saudi terus melakukan peningkatan produksi hingga AS benar-benar menyerah dan kemudian menghentikan produksi shale oilnya dan kembali mengimpor minyak.
  2. AS berusaha terus mengembangkan teknologi agar biaya produksi shale oil dapat ditekan sehingga nilai shale oil tetap ekonomis meskipun harga minyak dunia turun.
  3. Atau kemungkinan kedua bahwa AS akan kembali melakukan aksinya langsung ke Timur Tengah, membuat berbagai konspirasi sehingga membuat defisit neraca APBN Arab Saudi membesar, sehingga terpaksa menurunkan kapasitas produksinya dan kemudian harga minyak kembali naik.

Potensi Pertamina

Entah dari tiga hal tersebut menjadi penting atau tidak, namun bagi kita semua pengetahuan tersebut perlu dikarenakan kebijakan ini berdampak banyak bagi Indonesia dan terutama calon emiten yang akan listing di bursa ini, dimana khususnya Pertamina yang 95% pendapatannya dihasilkan dari berjualan minyak mentah. Di tahun ini saja, Pertamina sudah membukukan penurunan laba bersih sebesar 28 %. Tapi fakta yang menarik kembali muncul, Pertamina hingga tahun ini mengimpor minyak mentah dari Arab Saudi dan Singapore lebih dari 850 ribu barel per hari dari total kebutuhan 1.5 juta barel per hari dan membutuhkan biaya impor hampir 2 trilyun per hari.

Itu artinya, Indonesia sebagai negara kaya minyak sudah tidak ada lagi, lebih dari setengah kebutuhan kita di impor dari negara lain, bahkan cadangan minyak kita kalah dari Malaysia. Penurunan harga minyak ini secara financial sebetulnya menguntungkan Pertamina sebab biaya impor menjadi sedemikan kecil. Dengan mempertahankan biaya operasional dan produksi maka laba Pertamina bisa meningkat signifikan. Bahkan mungkin lebih menguntungkan impor daripada produksi sendiri - memalukan memang :(

So, ada dua hal ironi yang kita alami. Di satu sisi, negara kita hanya memiliki cadangan minyak yang tinggal sedikit bahkan tidak bisa menutupi kebutuhannya sendiri dan disisi lain berbagai pihak di dalam bisnis minyak (Pertamina, Petral dan para broker) bisa mendulang untung yang besar karena jatuhnya harga minyak. Ya tentunya dengan mengorbankan predikat negeri kaya minyak dengan predikat negara importir minyak.

Salam Investasi

Source:
Dari beragam sumber lainnya.
Read more →

28 Jan 2015

LSIP dan CLPI - 10 SAHAM MURAH INDONESIA DAN LAYAK BELI SEKARANG! (bagian 5)

,

6. LSIP - London Sumatera Plantation

LSIP sendiri sudah pernah kami bahas pada 2014 di Peluang Saham LSIP dimana kami memiliki target jangka panjang terhadap saham LSIP. Sedikit mengulang dari bab sebelumnya, beberapa point penting yang menyebabkan LSIP menjadi cukup layak meskipun harganya tidak bisa dibilang undervalue, tapi juga tidak bisa dibilang overvalue, alias wajar saja.
  1. LSIP mulai mengurangi kapasitas ekspor untuk menjaga dari ketergantungan ekspor dimana permintaan dari Eropa dan India yang menurun. LSIP mulai mengalokasikan hampir 100% kepada konsumsi lokal
  2. Kinerja keuangan LSIP yang excellent. LSIP beroperasi tanpa hutang, memiliki free cash flow dan Net Working Capital positif. Angka free cash flow bahkan 57% dari belanja modal tahunannya (Capex), artinya jika kita belanja tinta 100 rupiah, kita mampu menjual banner kembali dan menyisakan 57 rupiah untuk disisakan atau di tabung.
  3. LSIP rajin membagi dividen setiap tahunnya dengan payout ratio 33%, artinya setiap keuntungan perusahaan 100 rupiah per saham, 33 rupiahnya akan dibagi ke pemilik saham. 
  4. PER saat ini masih 18x dan PBV 1.8x. Secara PER, LSIP tidak undervalue, namun secara Book Value angka ini sudah cukup undervalue. Bandingkan dengan AALI yang sudah mencapai PER 20,3x dan PBV di atas 3x. Ingat LSIP merupakan emiten hulu sawit terbesar kedua setelah AALI.
Dengan 4 katalis di atas, cukup rasanya jika LSIP ada di posisi 6. Kunci untuk sukses dari emiten ini adalah kesabaran.

7. CLPI - Colorpak Indonesia

CLPI adalah produsen plastik film dan tinta cair yang banyak digunakan untuk Industri. Penulis sendiri dulu pernah bekerja di perusahaan Pulp & Paper Packaging dan disanalah mulai mengenal produk-produk dari Colorpak.

Secara kapitalisasi, CLPI memang bukan perusahaan raksasa, namun  konsistensi perusahaan itu dalam beroperasi patut diacungi jempol tiga.


Melihat tabel ROE di atas, bisa dikatakan bahwa CLPI adalah perusahaan yang cukup mature, konstan dan tidak terlalu sibuk berekspansi, setidaknya dalam waktu 1-2 tahun ini. Bagi penggila tantangan, CLPI tidak menarik, namun bagi Warren Buffet perusahaan seperti CLPI justru mungkin akan dilirik, sebab sesuai filosofi Buffet yang tidak terlalu peduli pada grafik EPS yang meningkat tapi lebih kepada ROE yang konstan. 

CLPI diperdagangkan dengan PER 3.36x dan PBV 0.85x alias totally undervalue. Tapi apakah sudah layak? Silahkan anda lihat kinerja keuangannya di situs IDX-CLPI

CLPI memiliki rasio lancar 1.72x (positif) dan free cash flow positif sebesar 9.82% dari belanja modal tahunannya. Yang menarik CLPI memiliki laba di tahan (retained earning) yang cukup besar, sekitar 250 milyar hampir menyamai ekuitasnya sendiri sekitar 300 milyar. Angka ini sangat menarik, karena laba ditahan dapat digunakan kembali sebagai modal kerja atau di bagi ke pemilik saham dalam bentuk dividen. Itulah juga yang terjadi pada beberapa perusahaan Warren Buffet dimana Buffet selalu menilai dari berapa uang yang dapat dihasilkan selama perusahaan tersebut bekerja, bukan hanya menilai keuntungan / laba. Biasanya 'harta' perusahaan tidak dilaporkan secara gamblang seperti nilai laba atau cash flow, Investor harus cukup jeli untuk melihat 'hidden treasure'.

Manajemen CLPI termasuk salah satu yang harus diperhatikan, karena secara lugas melaporkan penurunan laba pada 2013 akibat musibah kebakaran yang terjadi. Artinya manajemen cukup jujur dan profesional dalam menghadapi pemilik saham dan publik.

CLPI termasuk saham yang dikenal kurang likuid, tapi berubah semenjak terjadi buy back saham oleh para pemilik sahamnya sendiri sebesar 24% dari yang beredar di pasar, yang artinya pemilik sahamnya sendiri cukup yakin terhadap perusahaannya, mungkin..beberapa manajemennya juga memiliki beberapa persen dari kepemilikan.  Setelah buy back tersebut, terbukti saham CLPI mulai tampak likuid di market.

Salam Investasi
Read more →

23 Jan 2015

Think First, Shoot Later!

,
Investasi saham merupakan kegiatan yang unik dan menarik, karena bukan hanya tentang angka tapi lebih dari itu, emosional dan mental justru terkadang lebih terlihat ketimbang angka itu sendiri.

Saya cukup sering membaca blog ini yang isinya terkesan 'serius' dalam soal investasi saham, meskipun tak jarang juga saham yang dibahas memang 'nendang' dan cukup responsif. Tapi bolehlah satu tulisan ini mencoba untuk rehat sejenak dari angka-angka yang njelimet untuk melihat sisi 'lain' namun nyata di dalam bursa saham. - toh IHSG sedang ijo royo

Saya tergelitik dari sebuah gambar kartun duitto.com ini

Sumber: Kontan Images

Apa yang digambarkan oleh kartun tersebut adalah kondisi nyata yang banyak sekali dialami oleh kita, para pelaku jual-beli saham di Indonesia. Mudah sekali - bahkan cenderung rapuh - termakan oleh isyu dan berita yang tidak ada kaitannya sama sekali.

Seperti gambar di atas, saya mengalaminya sendiri karena aktif sebagai kontributor salah satu grup saham di mail. Ketika salah satu media online membombardir berita financialnya dengan turunnya rating kredit Yunani ke tingkat default, yang berimpact pada turunnya nilai tukar Euro terhadap Dollar US. Apa yang terjadi? puluhan email masuk ke grup dan juga email pribadi saya yang isinya sama: Apa saya harus jual saham sekarang?

Terus terang saya gak tahu dan gak ngerti harus jawab apa, akhirnya sebagai syarat keaktifan saya pun berbalik tanya: Hari ini ibu / bapak masih berangkat kerja? Ada bakar-bakaran gak Sudirman? Beli ayam masih bisa di Carrefour?

Dan impactnya, saya justru di berondong balik dengan beragam email dan bbm berkonten negatif yang intinya saya tidak memiliki sense of crisis?! alias tidak peka terhadap krisis ekonomi dunia. Oke, bahkan pertanyaan saya yang paling mendasar diatas pun belum dijawab. But, lagi-lagi demi keaktifan, akhirnya saya menjawab bahwa hubungan ekonomi Indonesia-Yunani itu paling banter adalah kapas. Untuk krisis Eropa sendiri akhirnya saya 'kembali ke laptop' dan mengklik artikel update ekspor minyak sawit yang dilakukan oleh Astra Agro dan Lonsum. Memang ada angka yang menurun, tapi tidak signifikan alias siklus bisnis biasa. Apalagi Astra Agro dan Lonsum terus mengolah kelapa sawit untuk konsumsi dalam negeri yang grafiknya semakin meningkat. Ini mengindikasikan dua hal: Pertama: Mengurangi ketergantungan ekspor. Kedua: Ekonomi dalam negeri masih oke oke saja. 

Selesai dengan Sawit, saya terus lanjut dengan menelpon kawan-kawan yang bekerja di travel agent, lima di Indonesia, satu di Paris, satu di Inggris, dan satu di Swedia untuk mengecek bagaimana kondisi real ekonomi Eropa. Karena kami memiliki jargon: Europe is travelling, paling mudah mengecek tebal tidaknya kocek orang-orang Eropa dengan melihat travel agent. Dan hasilnya ternyata jumlah wisatawan Eropa ke Bali justru meningkat, ke Lombok malah 2xnya dari Bali. Bahkan yang ke Raja Ampat Papua ikut-ikutan meningkat. Padahal biaya travelling ke Raja Ampat bisa untuk biaya sekolah SLTP putri saya 6 bulan.

Yang lebih konyol adalah ketika saya telepon travel agent tersebut dan menanyakan kabar tentang krisis Yunani dan Eropa, karena terus terang, saya cukup terganggu dengan jumlah turis yang justru naik ketika berita krisis Yunani dan Eropa muncul. Jawabannya justru cukup memuakkan, 

"Hah, krisis? krisis apa ya? ini malah banyak bule yang lagi nanya-nanya promo tur Medan sama Manado, mereka kayaknya lagi bosen ke Bali-Lombok.."

Seketika perut saya mual ketika masih ada bbm yang menanyakan jual saham atau hold. Hey, orang eropanya aja santai-santai aja dan sekarang lagi sibuk lihat pamflet promo tur ke Medan dan Manado karena udah bosen ke Bali - Lombok. Dan kita disini masih aja keringet dingin mikirin Yunani yang gak tahu buntutnya ke Indonesia apa.

Contoh yang Baik

Contoh yang paling baik dan asyik ialah sang empunya blog ini. Hari ini, semua kawan sedang sibuk memilih saham apa yang akan naik berhubung IHSG lagi jackpot, telpon sana sini, baca broadcast dan blog saham teknikal untuk membandingkan saham A naik atau turun, begitu di hajar kanan eeeh malah turun, begitu di hajar kiri eeeh malah naik. 

Di tengah keriuhan, si empunya blog ini malah lagi liburan di Bandung dengan menginap di hotel yang aduhai. Beberapa foto maternity istrinya yang sedang hamil muncul di instagram yang di foto oleh dirinya sendiri. Liburan, melakukan hobi terus balik kerja lagi. Ritual yang menurut saya menjadi idaman hampir setiap orang. Walaupun di balik itu, kerja keras sangat dibutuhkan untuk memilih saham apa yang layak di koleksi sebagai Investasi.

Saya yakin, jika dia di telpon dan ditanya prospek IHSG di tengah rupiah yang terpuruk, jawabannya justru pertanyaan: "Kondisi riil masih bagus gak? Angkot masih ngetem gak? Paling yang gw tahu wakil ketua KPK yang ditangkep Polri".

Alangkah memuakkan jawaban itu, tapi memang itulah kenyataan. Kita terlalu sibuk melihat rumput tetangga yang mulai rontok karena tanahnya retak, tapi lupa bahwa rumput kita baru di tanam dan bahkan belum hijau, sedangkan air dan pupuk masih berlimpah di rumah kita.

Kenyataan dan sebagai pelajaran bagi kita semua, ketika krisis Yunani tersebut muncul, IHSG memang cukup drop dan banyak kawan yang melakukan cut ketika IHSG mengalami tekanan, alias sudah rugi. Dan karena memang fundamental Indonesia gak bermasalah, IHSG kembali terbang hingga saat ini. Konyolnya, banyak kawan yang tadinya cut justru buy back ketika IHSG sudah all time high. Alias untungnya menjadi tidak seberapa.

Kebalikan dengan para investor yang saya kenal, termasuk si empunya blog ini. Ketika IHSG drop karena isu Yunani dan Eropa, mereka malah melakukan banyak pembelian saham, salah satunya pembelian yang cukup besar terhadap saham properti dan bank. Setelah itu, mereka kembali sibuk pada kegiatan masing-masing dan kemudian: liburan

Think First Shoot Later!

So, think first shoot later! Jargon tersebut saya pikir menjadi sangat penting untuk bisa meminimalisir resiko. Jika anda didalam blog ini anda selalu menemukan kata-kata margin of safety sebagai kata-kata sakti dari Benjamin Graham. Maka saya ingin memasukkan unsur think sebagai tambahan safety terhadap resiko anda. Kita tidak bisa serta merta optimis ataupun pesimis ketika hanya sekali klik bloomberg atau membuka twitter. Kita perlu puluhan bahkan ratusan kali klik, bukan hanya bloomberg, tapi juga Kontak, Kompas, Financial Times dan perlu scroll berkali-kali Twitter, Line, dan bbm grup. Terpentingnya lagi jelas dengan melihat langsung dengan mata kepala anda sendiri bagaimana kondisi riil negara kita. Ini justru yang mayoritas Investor lakukan - simply is faultless

Ingat, itu uang anda. walapun di beberapa seminar dan blog yang saya ikuti bahwa gunakanlah 'uang dingin' alias uang yang nganggur untuk dipakai membeli saham. Tapi tetap saja that's your money dude!, you ain't earn the money easily.  Bagaimana anda bisa menyebut uang itu dingin, seakan-akan anda membeli saham seperti anda membeli kacang rebus, yang kalau dapet busuk langsung dibuang. 

Bagaimana cara pandang kita terhadap uang, itulah cara pandang kita terhadap bisnis dan saham.

Thanks to empunya blog
Salam Investasi
Read more →

8 Jan 2015

Lippo Cikarang (LPCK) - 10 saham murah Indonesia dan layak beli sekarang! (bagian 4)

,

Lippo Cikarang (LPCK)

Lippo Cikarang (LPCK) yang berada di posisi 5, merupakan emiten developer property milik taipan Lippo Group yang fokus berada di daerah industri Cikarang dan Bekasi dan bahkan saat ini LPCK telah menjadi ikon daerah Cikarang, bukan hanya hunian tapi juga kawasan Industri.


Saat ini LPCK memiliki lahan bersih yang belum di kembangkan sebesar 425.49 Ha, tanah sedang dalam pengembangan sebanyak 208.32 Ha dan juga kawasan industri yang belum di garap sebesar 579 Ha. Semua lahan tersebut berada di daerah Cikarang dan Bekasi.

Yang menarik adalah rencana pembangunan Airport baru di Karawang juga pelabuhan di Cilamaya, yang pasti akan meningkatkan prospek Cikarang dan Bekasi secara drastis

Untuk nilai buku tanah yang dikembangkan sendiri harganya sebesar Rp 266,612/m2. Angka tersebut didapat secara sederhana dengan pembagian total nilai buku tanah yang tertera di dalam laporan keuangan kuartal 3 September 2014 sebesar 368 milyar dengan luas tanah pengembangkan (development land) 138 hektar.

So, lalu bagaimana dengan NAV (Net Asset Value)? NAV yang biasa memang digunakan untuk menilai aset bersih dari perusahaan property, terutama yang mayoritas bisnisnya adalah hunian dan apartemen. Jika di atas tadi kita memakai NJOP, maka dsini kita sudah memasukkan unsur market, prospek, dsb.

NAV kali ini dikhususkan bagi lahan yang masih kosong atau sedang dalam tahap pengembangan. Mengapa demikian? Karena yang kita hitung adalah prospeknya. Dan prospek terbesar dari emiten developer hunian adalah data land bank. Jika data land bank sudah melebihi harga sahamnya, maka aset yang berbentuk properti jadi tidak perlu lagi kita masukkan.

Harga tanah di lippo cikarang cukup beragam, sehingga kami bagi menjadi 3 bagian besar, yaitu tanah inventaris, yaitu tanah yang belum dibuat apa-apa, alias tanah kosongan. Kedua adalah development land atau tanah yang masuk dalam tahap perencanaan untuk dibangun, dan ketiga adalah tanah yang dikhususkan untuk kawasan industri.

Sumber: Srimaya Investment (data diolah dengan panambahan asumsi)

Harga jual net per m2 di atas sudah dikurangi dengan biaya development dan marketing yang jumlahnya biasanya mencapai 20-22%. Sehingga jika nilai jual bersihnya 800 ribu/m2, maka harga jual gross (harga jual yang akan anda terima jika anda berminat membeli) mencapai 1 juta /m2. Hasilnya, hanya dengan menghitung land-bank bersih saja ternyata sudah lebih tinggi dari harga sahamnya sendiri. Atau menghasilkan margin of safety sebesar 43,77% tanpa memperhitungkan kenaikan nilai investasi tanah.

Beberapa dari anda mungkin bertanya-tanya, mengapa harga tanahnya kok murah sekali? 460.800 rupiah saja per m2. Bahkan di nilai bukunya berdasarkan laporan keuangan hanya 266 ribu rupiah per m2. Memang data land-bank ini kami ambil yang terkecil (termurah) dari seluruh harga tanah di daerah milik Lippo Cikarang yang beragam dan sifat dari harga land-bank ini adalah harga tanah yang memang belum dilakukan apa-apa di atasnya, alias masih kosong sehingga harga mengacu kepada NJOP itu sendiri.

Apabila anda berminat dan mengajukan diri ke pihak Lippo atas tanah tersebut, jangan harap mendapat harga yang tertera di atas. Rata-rata harga komersial Lippo Cikarang sudah 2-3 juta/m2, termahal hampir 10 juta/m2.

Mengapa kami ambil yang termurah? Karena kami ingin melihat margin aman yang minimal. Jika dengan harga yang terkecil kita sudah bisa mendapatkan margin aman, untuk apa mengambil yang lebih besar?

Kinerja

Sebetulnya cukup sulit untuk menentukan emiten yang berada di posisi ke 5 ini. Cukup banyak pesaing, namun melihat kinerjanya yang menjulang. LPCK kami rasa cukup pantas masuk di dalam jajaran elit 5 besar saham murah dan layak beli di Indonesia.


Cukup sulit mendapatkan perusahaan yang konsisten seperti LPCK. Walaupun tidak sebesar pesaing utamanya: Jababeka, namun sedikit demi sedikit LPCK mulai menambah lokasi dan kawasan Industrinya dengan mulai melebar ke Karawang. Potensi huniannya (rumah cluster, mall, apartemen) sendiri sudah menjadi primadona sejak 2010 di Cikarang dan Bekasi - tercermin di grafik net income

Saham Murah

Dengan menyandang nama besar, LPCK ternyata diperdagangkan dengan nilai PER hanya 8.08x di harga Rp 10,525 / lembar (saat tulisan ini dibuat) alias sangat murah jika dibandingkan dengan saudaranya LPKR yang memiliki PER 16,69x (lebih dari setengahnya). So, dengan metode nilai intrinsik dan pertumbuhan laba, kita dapatkan harga wajar LPCK adalah:


Bayangkan, dengan rata-rata pertumbuhan laba sebesar 114%, LPCK hanya memiliki PER 8.08x dan margin of safety sebesar 112%!. Nilai wajar (fair value) yang sebesar Rp 22,378 itu mengindikasikan bahwa ADA wonderfull company di Indonesia dengan harga saham yang masih murah.

Kinerja Keuangan

LPCK dalah setiap laporan keuangannya selalu memberikan nilai plus di dalam free cash flow, alias selalu positif. Meskipun jika anda cermati lebih dalam, terdapat nilai negatif dalam laporan kuartalnya tapi penulis rasa, nilai negatif itu tidak terlalu tampak karena cash flow akhirnya toh tetap positif. 

Karena bisnis LPCK berjalan tanpa hutang (DER tercatat hanya 0.04) maka prospek keuangannya bisa langsung melihat antara aset lancar dengan kewajiban lancarnya. Dimana selisihnya, biasa disebut Net Working Capital (NWC) sebesar 1,9 trilyun rupiah alias 900% berbanding belanja modalnya sendiri. Bahkan penulis rasa, dengan NWC sebesar itu, untuk membeli 1/2 dari Jababeka pun masih sanggup. 

Dengan perbandingan positif sebesar itu, LPCK layak untuk mendapat predikat woderfull company. Yang mana sebuah wonderfull company pastilah ditangani oleh manajemen yang sehat.

Prospek

Lalu, bagaimana jika kita kembali melihat NAV diatas dan mulai memprediksi kenaikan harga tanah sebesar 8% saja pertahun (asumsi konservatif tulen)? Berapa aset yang akan dimiliki LPCK? Bagaimana jika bandara Karawang betul betul dibangun, disusul pelebaran Terminal pelabuhan Tanjung Priok ke Cilamaya berjalan (ingat konsep pendulum nusantara?) ? Plus ditambah beroperasinya pabrik Toyota Thailand di Karawang?

Sekedar info saja, harga property di Lippo Cikarang meningkat hampir 300% sejak 2009 - 2014 ketika beredar isu akan dibangun bandara di dekat sana. Baru isu lho, belum kejadian. Sekarang? berdasarkan info 'orang dalam', master plannya sudah jadi, terutama pembangunan pelabuhan Cilamaya dan sudah masuk ke dalam rencana percepatan pembangunan era Jokowi-JK. Tinggal bersabar tunggu realisasi.

Satu-satunya kelemahan dari emiten ini ialah, LPCK kurang rajin membagi dividen untuk para pemegang saham, padahal di tengah keuntungan yang cukup hebat seharusnya membagi dividen bukanlah hal yang sulit. Manajemen LPCK lebih memilih memutar kembali uangnya untuk ekspansi ketimbang membaginya secara langsung. Hmm..tampak sulit bagi investor yang berorientasi mengejar dividen, tapi..biasanya, perusahaan sekelas LPCK pasti sudah memiliki ancang-ancang agar tidak kehilangan pemegang saham yang mulai bosan, yaitu dengan cara menjaga kinerja dan juga track sahamnya agar tetap menguntungkan.

Salam Investasi

Read more →

25 Des 2014

Astra Graphia (ASGR) - 10 Saham Murah Indonesia dan Layak Beli Sekarang! (bagian 3)

,

4. ASTRA GRAPHIA (ASGR)

Astra Graphia sebagai salah satu anak perusahaan Astra International yang bergerak dalam bidang Information and Communication Technology. Sejak awal didirikan sebagai perusahaan yag fokus dalam bidang document solution seperti penyedia mesin printer, faksimili, dan juga penggarapan dokumen-dokumen integrasi lingkup korporat.

Namun bisnis dalam bidang seperti ini sangat rawan terhadap perkembangan teknologi, dan Astra Graphia menjawabnya dengan mulai berfokus kepada IT solution, termasuk penggarapan teknologi peer to peer untuk program pembayaran secara live dengan meluncurkan BBM money 10 dan terpilih sebagai emiten terbaik 2014 sektor elektronika. (baca disini)

Banyak alasan mengapa Astra Graphia kami taruh di nomor 4 ( masuk 5 besar), selain memang saham Astra Graphia yang sedang terkoreksi menuju titik undervalue, kinerjanya sama sekali tidak ada gangguan dan tetap menunjukkan kosistensi yang mapan.


Dari data 6 tahun terakhir, ROE selalu menunjukkan kestabilan terhadap ekuitas dan juga terhadap modal dan hutang (ROTC). Revenue dan Net Income menunjukkan grafik yang mantab antara stabil dan tetap naik. Bukan itu saja, DER selalu tercatat dibawah 0.5x, bahkan di 2014 ini, angka DER nyaris nol.

'Contrarian Opportunity' menjadi terbuka bagi investor ketika saham ASGR terus turun sejak pertengahan 2014. Apa sebab? coba anda buka link berikut dan temukan jawabannya: KLIK DISINI
Analisa yang mendekati, turunnya harga saham ASGR lebih banyak dipengaruhi oleh berita negatif karena sang direktur sedang dipanggil KPK dalam kasus e-ktp. Untungnya dalam putusan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), ASGR 'hanya' diwajibkan membayar denda sebanyak 4 milyar rupiah. 

Akibat turunnya harga saham ASGR, PER ASGR saat ini hanya sebesar 11.02x. Dengan asumsi pertumbuhan laba yang terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 26.32% (selama 6 tahun), nilai PER ini sangat jauh di bawah perusahaan dengan bidang yang sama (perdagangan) semacam AKRA, BMTR atau bahkan saudaranya sendiri, AUTO. Plus dengan dividen ratio yang mencapai 14.50% dari EPSnya,  saat ini ASGR memiliki nilai wajar sekitar 3,157 rupiah/saham atau memiliki margin of safety 66.16% dari harga saat ini.


Didukung oleh manajemen Astra, ASGR tercatat selalu memiliki net cash flow yang positif, dan  juga current ratio yang selalu di atas 1.5. Artinya ASGR memiliki aset lancar selalu lebih besar 1.5x nya dari kewajiban lancarnya, bahkan cenderung diatas 2x jika melihat historinya. So, melihat wonderfull company seperti ini rasa-rasanya sangat disayangkan jika tidak melirik saham ini.

(bersambung ke peringkat 5: Lippo Cikarang)
Read more →

22 Des 2014

INDF - 10 Saham Murah Indonesia dan Layak Beli Sekarang! (bagian 2)

,

3. INDOFOOD SUKSES MAKMUR (INDF)

Cukup jarang kami menulis perusahaan yang sangat mature di Indonesia untuk di valuasi kecuali saham tersebut sudah undervalue, dan kali ini Indofood salah satunya. Hampir 6 bulan yang lalu ketika penulis ber-emailan  dengan saudara Teguh Hidayat untuk membahas saham yang undervalue dan salah satunya adalah INDF. Pada waktu itu penulis berkesimpulan bahwa saham INDF akan mencapai titik undervalue pada harga 6500, karena di harga itu INDF sudah terdiskon 50%

Siapa perempuan yang tidak mau beli tas Prada ketika sale 50%?? bahkan 30% pun sudah diborong. Dan hari ini, saham INDF terus turun semenjak 6 bulan lalu dari harga 7000 menjadi saat ini di sekitaran 6500 rupiah per lembar tanpa ada sebab yang berarti (setidaknya tidak ada berita di televisi kosumen indomie atau tepung bogasari keracunan. Dan setiap penulis mampir ke warung kopi, mie instant yang disajikan tetap saja Indomie)

Yah meskipun saat ini INDF tidak full terdiskon 50% akibat laba bersih di kuartal 3 tidak naik hingga 3.5 trilyun melainkan cukup naik 3 trilyun saja, namun tetap saja laba bersih hingga kuartal 3 sudah melebihi laba bersih tahunan pada 2013 lalu. Secara kuartalan, laba di Q314 meningkat 57% dari Q313 dan meningkat 21% dari tahunan 2013.

Data EPS 2014 (disetahunkan), INDF mengalami peningkatan laba bersih yang signifikan
PER INDF ketika tulisan ini dibuat adalah 14,29x dengan PBV 1.39x dengan nilai wajar sekitar Rp 9000 / saham. Bandingkan dengan perusahaan konsumer sejenis dan sekelas, seperti KLBF dengan PER 43x, GGRM 21x, bahkan dengan anak perusahaannya ICBP dengan PER 26,2x. Bukan itu saja, INDF tercatat memiliki rasio hutang (DER) 0.79x ekuitasnya, dan sangat jauh dibanding dengan asetnya yang mencapai 86 trilyun

Satu hal yang perlu dicermati ialah INDF sudah sangat mature, sehingga sulit membayangkan ROE nya bisa naik lebih dari 20% per tahun. INDF tidak diharapkan untuk berkembang lebih jauh lagi melainkan kestabilannya yang dijaga. Salah satunya dengan akuisisi perusahaan Brazil, Santa Clarina untuk pengolahan makanan berbasis protein hewani (sosis, kornet, nugget, susu dsb)

ROE INDF tidak mengalami peningkatan berarti sejak 6 tahun terakhir
Harapan akuisisinya jelas untuk meningkatkan level ROE ke angka 15% hingga 17%, seperti pada 2010 lalu dan stabil di kisaran tersebut. Selain dari itu, INDF terkenal rajin di dalam pembagian dividen dengan tingkat dividen diatas 30%, angka tersebut jelas menguntungkan bagi Investor. Toh anda tidak perlu lagi capek-capek melihat kapan saham ini harus dijual, karena untuk INDF: Berpikirlah menjual sahamnya ketika Indomie sudah tidak ada lagi di warung-warung.


Read more →

21 Des 2014

BBNI dan UNTR - 10 Saham Murah Indonesia dan Layak Beli Sekarang! (bagian 1)

,
Penghujung tahun 2014 tinggal beberapa hari lagi, entah apakah dunia saham akan ditutup oleh "santa rally" atau justru akan mengalami koreksi. Apapun itu saham terus berputar dan bagi kita, para pencari saham, dimanapun ada saham yang  murah atau undervalue dan dalam kondisi bagus itulah yang dinamakan kesempatan.

Dan kali ini kita akan berbagi valuasi 10 saham berharga murah yang layak bahkan dianjurkan untuk anda miliki sebagai barang belanja akhir tahun anda.

1. Bank Negara Indonesia (BBNI)

Tidak ada yang meragukan kemampuan BNI dalam dunia perbankan. Selain termasuk 4 besar bank di Indonesia yang layak beli, sehat dan punya nama baik. BNI memiliki kinerja yang sangat baik, laba yang terus bertumbuh dan ROE yang stabil sejak 6 tahun terakhir.

Pertumbuhan EPS BBNI yang selalu meningkat tahun ke tahun
ROE yang stabil ditunjukan BBNI sepanjang 6 tahun terakhir
Dengan rata-rata ROE 14,41%, BBNI memiliki rata-rata earning growth rate sebesar 45,31% sehingga bisa digunakan asumsi tingkat pertumbuhan sebesar 15% untuk tahun mendatang, angka yang masih cukup jauh dari BI rate di kisaran 7.75% dan juga inflasi. Tidak sampai disitu saja, BBNI tercatat hanya memiliki DER 0.45x ekuitasnya, dan arus kas bebas (free cash flow) sebesar 7,25 trilyun dengan rasio lancarnya sebesar 1.17.   Jangan khawatir untuk rasio-rasio perbankan lainnya seperti NIM, LDR dsb karena BBNI mendapat predikat AA+ dari FITCH Rating untuk rating jangka panjang dan predikat AAA dari PEFINDO untuk laporan keuangan plus rating korporasi alias aman dan stabil.

Saat ini merupakan kesempatan terbaik untuk berinvestasi pada BBNI. Dari harga saat ini 6050 rupiah, BBNI memiliki PER hanya sekitar 11.01x dan PBV sebesar 1.93x dengan margin of safety sebesar 74.83%. Dengan nilai tersebut artinya BBNI memiliki nilai wajar sekitar 10,500 rupiah per lembar saham.

Bagi para pemburu dividen, BBNI menawarkan tingkat dividen sebesar 26,51% dari laba per saham, bahkan jika di rata-rata sejak tahun 1997, BBNI selalu menawarkan dividen diatas 30% dari laba per sahan. Sangat menarik bagi anda seorang investor sejati.

Hasil akhir valuasi BBNI


2. UNITED TRACTOR (UNTR)

UNTR menduduki peringkat 2 dalam hal saham undervalue yang layak beli. UNTR telah kami bahas pada postingan sebelumnya disini  dimana untuk saham yang satu ini kami yakin bahwa UNTR akan kembali ke tingkat performanya. Didukung oleh manajemen yang kuat, sokongan induk yang kuat dan sisi bisnis yang masih merajai

Mungkin dari beberapa kalangan anti-komoditas menilai bahwa UNTR masih dalam fase bearish menyusul harga coal yang belum pulih. Tapi, bisnis coal UNTR bukanlah yang utama. Selama ini, UNTR selalu disokong penuh oleh bisnis dari sektor pendukung pertambangan, seperti penjualan dan penyewaan alat berat: Komatsu yang sampai saat ini masih merajai sektor tersebut, dan kedua adalah kontraktor pertambangan melalui PAMA Persada. Dimana, dari sisi harga batubara itu sendiri bisa di minimalisasi dengan peningkatan kapasitas produksi. Walaupun secara global, meningkatnya produksi batubara sangat berpengaruh terhadap turunnya harga dikarenakan stok yang berlimpah. Inilah yang masih harus di cermati oleh para investor.

Satu kecerdikan UNTR ialah dengan menyimpan batubara yang diakuisisinya dari tiga tambang sebagai cadangan yang siap di garap ketika harga coal kembali membaik, dan memaksimalkan sektor alat berat dan kontraktor sebagai penopang penuh. Kecerdikan lainnya ialah dengan akuisisi ACSET (ACST), sebuah perusahaan kontraktor development di sektor sipil, ini jelas sebagai bahan diversifikasi bisnis sekaligus menjawab prospek infrastruktur di depan mata.

UNTR diperdagangkan dengan PER 13,83x dengan margin of safety sebesar 77,66%. Jelas bagi investor ini adalah kesempatan berburu. Karena dengan asumsi pertumbuhan laba yang sebesar 16%, cukup realistis melihat UNTR sebagai bahan koleksi investasi anda. Sebagai catatan UNTR membukukan kenaikan laba pada kuartal 3 ini setelah menurun dalam 3 tahun terakhir, bandingkan dengan harga coal itu sendiri.

Read more →

14 Des 2014

INVESTASI VERSUS SPEKULASI - THE INTELLIGENCE INVESTOR (BAB I)

,
Bab pertama dari buku legendaris The Intelligence Investornya Benjamin Graham ini merupakan bagian yang paling penulis sukai, bukan karena konten tentang investasinya, tapi lebih dari itu bab ini merupakan penjelasan tentang hal paling mendasar sebelum kita mulai menaruh uang di bursa saham. Yaitu definisi dua "tokoh" yang pastilah bertolak belakang, Investasi dan Spekulasi.

Penulis punya contoh konkrit dari teman dan pengalaman penulis sendiri. Disini bukan sama sekali copy paste dari "kisah pemuda" yang banyak ditulis di blog, walaupun kisahnya memang mirip.

Tahun 2007, seorang teman yang datang dari Kepulauan Riau tiba-tiba mengajak membuka rekening RDS di salah satu broker terkenal di Jakarta karena melihat tetangganya yang dalam satu hari bisa merubah rumah tipe 46 menjadi tipe 100 (miris sih..tapi..simsalabim!) hasil dari 'main' saham di Jakarta akibat kenaikan harga saham di akhir 2007. Dengan penuh keyakinan dia merayu penulis untuk 'berinvestasi' dengan kata-kata sakti "KEBEBASAN FINANCIAL". Akhirnya penulis pun ikut-ikutan terjun ke saham dan  kemudian bangga dengan predikat "Investor".

Ya.. I N V E S T O R..sesuai email yang dikirim oleh broker tersebut:

"Dear our valuable Investor"

Keren kan?

Sungguh absurd ketika itu kami bangga dengan titel tersebut ketika tahu apa definisinya sekarang. Hasilnya? Boom!! tahun 2008 datang dan akhirnya portofolio hanya tersisa 30%nya. 

Bingung, cemas dan panik tentu saja menghantui kami. Apa yang salah? tentu saja salah, karena kami tidak pernah tahu "akan kemana uang kami". Kami hanya membeli saham hanya berdasarkan kasak kusuk (penulis lebih suka menyebut kasak kusuk ketimbang rumor) dengan satu tipe pola yang mirip:

Time A: Wah, lihat tuh saham ABCD breakout..beli kali yah? (ragu)
Time B: Hmm...iya tuh, liat berita..saham ABCD diprediksi mulai up-trend, beli! (yakin 40%)
Time C: beli..beli...beli!! (100% beli)
Time D: lho..kok mandek, turun..kenapa? (kaget)
Time E: Waah..turun..sell..sell..! (melengos, karena cut-loss 5%)

Lima time frame itulah pola yang secara alamiah selalu berulang, dan akan selalu berulang karena saham merupakan zat yang likuid, mudah berubah bentuk tergantung dari pola jual-beli yang terjadi.

Anehnya, saham memang membuat addict - bagi yang memang doyan, dan kadar adiktifnya setara dengan kopi. Namun kali ini dengan pendalaman materi yang lebih utuh, penulis mendapati logika sederhana yang masuk akal.
  • Hanya mendengar kasak kusuk tentang grafik dan aksi korporasi perusahaan yang belum terbukti, bisa mendapatkan keuntungan di bursa saham
  • Dag-dig-dug setiap pembukaan hingga akhir penutupan jam bursa hingga bisa mendapatkan keuntungan / kerugian
  • Memakai margin atau HUTANG untuk mendapatkan keuntungan / kerugian dari saham gorengan
Apakah dari tiga cara di atas kita bisa mendapatkan kebebasan financial seutuhnya? atau malah kita akan termakan oleh kerugian. Coba lihat kembali time frame A-E, mana kemungkinan yang paling kita seutuhnya masuk bursa? Jawabannya: C!, sebagai pemain eceran, posisi kita adalah yang C, dimana saat itu para "ikan besar sedang menyantap ikan kecil". Penulis tidak menyamakan semua trader, terlebih trader yang sudah berpengalaman dan bermodal besar.

Inilah yang ditekankan oleh Benjamin Graham dimana investor memiliki definisi terbalik dengan spekulator:

"Investasi adalah sebuah operasi yang, melalui analisa yg mendalam, menjanjikan  keamanan modal pokok dan juga tingkat pengembalian (return/hasil) yg LAYAK.  Operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulasi." . Sumber: The Intelligence Investor, dari: JanganSerakah

Tujuan pokok investasi adalah menjanjikan keamanan terhadap modal, dengan tingkat hasil yang LAYAK, kata "layak" jelas didefinisikan bukan sesuatu yang superb, luar biasa, extraordinary dan sebagainya. Hasil yang "layak" oleh sebagian kalangan disebut apabila imbal hasil kita telah melebihi dari tingkat suku bunga deposito dari Bank Indonesia dan juga tingkat inflasi. So, kenaikan 15% per tahun sejatinya sudah bisa dianggap layak.

Menarik mengapa Benjamin Graham memakai kata-kata layak, tak lain ialah untuk menghindari manusia dari sifat rakus dan tamak dengan hanya mendengar rumor.

Yang berikutnya, adalah definisi "Investor" yang oleh banyak kalangan didefinisikan bebas "semua orang yang menaruh uang di bursa saham".

Sederhananya:

Apakah mau jika Saratoga yang membeli saham Tower Bersama Infrastruktur dengan mempelajari perusahaan. melakukan pembenahan manajemen disana -sini lalu menghasilkan kinerja bagus, laba meningkat dan kemudian harga sahamnya naik disamakan dengan penulis and the gank yang membeli saham ketika pembukaan jam bursa tanpa tahu perusahaannya, dag-dig-dug menanti ketidakpastian hasil dan kemudian mendapatkan hasil hari ini untung dan kemudian hari besok rugi. Lalu kedua hal itu dianggap sebagai satu kata yang sama: "investor"?

Definisi salah kaprah yang coba di luruskan oleh Benjamin Graham bahwa seharusnya Wall Street - di Indonesia adalah BEI - seharusnya menginformasikan kepada masyarakat tentang perbedaan antara investor dan spekulan, agar di kemudian hari tidak timbul kerugian yang besar yang diakibatkan oleh tindakan spekulatif. Ben mengkritik penggunaan kata "Investor" yang diobral dengan mudahnya, dan sayangnya itu masih berlanjut hingga hari ini.

Graham juga menambahkan bahwa memang tidak bisa dihindari faktor spekulatif yang ada di dalam seorang investor, dimana tugas lainnya dari investor ialah membatasi diri seminimal mungkin terhadap faktor spekulasi tersebut.

Contohnya: Mungkin kita masih ingat ketika beberapa waktu lalu saham BWTP anjlok ketika terjadi right issue yang kemudian tentunya membuka peluang bagi para pemilik dana untuk masuk membeli sahamnya.

Kasus ini mengandung 2 hal:
  1. Investasi: Ketika kita melihat saham tersebut anjlok, kita langsung meneliti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi anjloknya harga saham, apakah semata-mata hanya right issue? sekedar PER yang dibawah 10x? Atau memang laba dan kinerjanya juga menurun? Bagaimana dengan hutangnya? Cash flownya?, Jika memang tidak terjadi apapun pada BWPT maka kita yakini bahwa sahamnya akan naik sejalan dengan kinerjanya. Perhatikan, bahwa disinipun ada unsur spekulasi, karena kita memanfaatkan momentum dengan berharap bahwa selisih titik tertinggi sebelumnya dengan titik terendah ketika anjlok dapat menjadi faktor margin of safety. Hanya saja, kita sudah meminimalisir resiko kita dengan mempelajari terlebih dahulu kinerjanya. Seorang investor tidak serta merta memborong saham jatuh, dia akan mencicil sedikit demi sedikit karena tahu, resiko saham tersebut akan anjlok lebih dalam sangatlah terbuka.
  2. Spekulasi: Kebalikannya, kita langsung memborong saham yang jatuh dengan dugaan bahwa inilah bottom-nya, bahkan dengan menggunakan MARGIN, dengan kasak kusuk yang beredar bahwa sahamnya pasti akan segera rebound. Memang betul saham tersebut pasti akan rebound, tapi kapan? anybody knows? 
Jujur saja, hanya menjadi investor bagi penulis sangatlah membosankan, karena memang yang kita prospekkan adalah hasil riil dari perusahaan tersebut, bukan sekedar tebak-tebak buah manggis. Sehingga hasilnya baru bisa di petik dalam beberapa tahun kedepan. Sedangkan ada keasyikan tersendiri ketika kita melakukan spekulasi dengan melihat..entah itu chart, kasak kusuk gosip atau apapun, yang terpenting bagi penulis adalah proporsinya yang jelas di dalam portofolio.

Benjamin Graham pun dalam akhir babnya mengatakan bahwa bisa saja seorang investor pun menjadi spekulan, hanya proporsi yang harus di atur, Ben mengusulkan angka  20% spekulasi dan 80% investasi. Angka ini cukup masuk akal, namun saat ini penulis lebih suka angka 30% spekulasi atau trading dan 70% investasi dengan membagi ke dua rekening terpisah. Alasannya? agar kita bisa selalu fokus dalam mengatur portofolio. Sedangkan alasan persentasenya, tidak ada.

Angka ini bisa berbeda pada tiap orang, asalkan yang perlu dicatat bahwa spekulasi bedanya setipis kertas dengan emosi. Ada seorang teman yang memiliki buku investasi satu rak penuh, link sederet, S2 manajemen investasi..tetapi panik ketika melihat INDF turun ke 6500..dan menjual TSPC di harga 2900 karena dua alasan: 1. Nggak kuat lihat cuan, 2. Nggak kuat lihat warna merah.

Jangan pernah mencampurkan dana untuk investasi dan dana untuk spekulasi anda! Juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak anda! - Edison

The mother of all evil is speculation.  - Gordon Gekko

Salam Investasi

Read more →

6 Des 2014

United Tractor (UNTR) : Siap Turun Gunung

,
UNTR, siapa pun pasti sudah mengenal bahwa itu merupakan kode emiten dari United Tractor atau di dalam dunia industri lebih populer dengan UT. Salah satu anak perusahaan Astra yang bergerak dalam bidang industri alat berat dan juga kontraktor pertambangan. Sekedar informasi, UNTR merupakan penyumbang kedua terbesar bagi pendapatan Astra International sendiri dengan menyumbang 27% dari total pendapatan Astra yang sebesar 150 trilyun pada kuartal III 2014 ini.



Beroperasi sejak tahun 1972, UNTR merupakan emiten yang di cukup segani di BEI, dengan tiga lini utama bisnisnya: Alat berat melalui andalannya KOMATSU, kontraktor pertambangan dengan ujung tombaknya PAMA Persada dan pertambangan batubara melalui aksi akuisisi PT Turah Turangga Agung memiliki kapitalisasi pasar saat ini yang sebesar 66.7 trilyun dan merupakan jajaran 10 besar emiten di BEI, ditambah lagi melihat kinerjanya yang sudah teruji dalam jangka waktu yang panjang dan solid.

Grup Astra mengakuisisi perusahaan tersebut pada pertengahan 1992 setelah sebelumnya UNTR tidak menunjukkan kinerja yang ekspansif. Astra yang saat itu sedang mencari peluang di bidang alat berat dan pertambangan segera menjadi pemegang saham terbesar, bahkan hingga 50% lebih. Yang menarik adalah dibalik alasan Astra ngebet dengan UNTR pada waktu itu ialah kas hutangnya yang nol tetapi memiliki aset alat berat yang mumpuni. Komatsu, Tadano dan Bomag merupakan merek-merek alat berat jempolan yang dimiliki UNTR hingga kini.

Kebetulan penulis pernah bekerja di bidang konstruksi yang bersinggungan langsung dengan UNTR untuk pembelian dan penyewaan alat berat. Hasilnya penulis cukup terkesan dengan marketnya yang komplit, pre-order sales hingga after-sales servicenya.

Kinerja

Satu-satunya tekanan yang dialami oleh UNTR ini ialah keterlibatan secara langsung di dalam dunia pertambangan batubara, seperti kita tahu bersama bahwa harga batubara yang masih anjlok terus menerus tentu menekan pendapatan UNTR itu sendiri sebagai kontraktor batubara (bukan pemilik batubara) dan inilah yang menyebabkan mengapa saham UNTR terus turun dalam setahun terakhir ini.

Tapi..ternyata pendapatan UNTR sebagai kontraktor batubara melalui anak usahanya PT Pama Persada justru meningkat 11% dari kuartal III 2014. Hal yang menarik sebab harga batubara dunia belumlah kembali sehat. Lalu mengapa demikian? Satu yang pasti, pertama adalah produksi tambang PAMA yang berhasil digenjot hingga meningkat 16% dan kedua adalah melemahnya nilai rupiah terhadap dollar, dimana PAMA melakukan kontrak dalam nilai US dollar sedangkan biaya operasional dalam bentuk rupiah.

'Target' menjadi kata kunci Astra dalam hal ini, sehingga pastilah saat ini dan kedepannya, setoran UNTR ke induk harus digenjot dengan berbagai cara dan ini otomatis didapat dari peningkatan kinerja dan penghematan.


Yang menurun adalah kontribusi pada bisnis alat beratnya yang menurun sedikit dari 8,484 trilyun menjadi 8,440 trilyun alias hanya turun 44 milyar rupiah. Toh, Komatsu sampai saat ini tetap merupakan market leader di dunia heavy vehicle.


Ready to Back

Revenue / Pendapatan UNTR agaknya tengah mengalami titik turn-around dari tahun 2013 ketika pendapatan turun akibat kekagetan pasar merespon anjloknya harga batubara. Inilah kekuatan dari grup Astra yaitu cepat belajar. Ketika paham bahwa performanya bisa terpengaruh kembali, UNTR segera menggenjot performa dalam jumlah produksinya di bawah PAMA dan..kemudian menjadikan aset batubara dibawah Tuah Turangga, Prima Multi Mineral dan Asmin Bara Bronang sebagai bahan cadangan. So, ketika harga batubara kembali membaik, aset cadangan sebesar lebih dari 300 ton ini akan berbicara banyak.


Melihat UNTR, kita harus melihat grafik EPS, karena mengakomodir laba bersih dan jumlah saham. Dengan jumlah saham beredar yang tetap sama, terjadi penurunan laba bersih pada tahun 2012 dan 2013 yang lagi-lagi..karena harga batubara yang anjlok. 2014 menjadi titik balik pembuktian bahwa UNTR adalah perusahaan cerdas yang cepat belajar.

DER UNTR tercatat aman, dengan angka di kisaran 0.10x ekuitasnya, dengan kata lain UNTR berbisnis dengan hutang yang minimal. lalu bagaimana dengan cash-flownya?

Mari kita lihat neraca keuangan UNTR:


Dengan posisi UNTR sebagai merket leader, kinerja manajemen yang mumpuni terlihat jelas pada positifnya angka free cash flow bahkan lebih dari 2x-nya belanja modalnya. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah current ratio (CR), karena dengan Net working capital yang besar, maka seharusnya CR bisa lebih dari 2. UNTR perlu melihat ulang kewajiban lancarnya yang angkanya cukup besar. Namun selain dari itu, angka 1.84 adalah angka yang sudah sangat bagus.

Valuasi Saham

Mungkin jika kita perhatikan, saham UNTR yang turun terus sejak 2012 hingga saat ini belum menunjukkan trend naik. So, apakah saat ini sudah murah? Sebelum menjawab perlu ingat kembali bahwa saham UNTR adalah saham perusahaan kelas premium utama yang kinerja sahamnya merupakan cerminan kinerja perusahaan sesungguhnya. Sehingga tanpa melihat murah atau mahal pun, selama kinerja dan hutangnya di angka yang bagus, maka UNTR layak beli. Namun sebagai value investing kita tetap harus melihat valuasi sahamnya bukan?.

PER UNTR di harga 17,700 saat ini sebesar 13.83x dan PBV diperdagangkan sebesar 1.72x. Kedua angka itu adalah angka yang sudah sangat menarik alias MURAH. Namun perlu dilihat lagi bahwa dengan PER diangka 13.83x maka angka RORE yang sebesar 7.23%  masih di bawah BI rate, sehingga mungkin sedikit sabar menunggu adalah pilihan terbaik. RORE menjadi di atas BI rate adalah pada harga 17,000 dan saat itu mungkin anda akan rebutan dengan banyak investor yang sudah lama mengincar akibat membaca artikel ini.


Wow, melihat tabel diatas, Margin of safety UNTR sebesar 77% adalah luar biasa, bayangkan ketika satu tahun lagi harga UNTR melesat menjadi 31,000. Sebagai catatan. tanpa melakukan penambahan saham beredar, saham UNTR turun dari titik tertingginya di 33,000 alias sahamnya menyesuaikan dengan harga wajarnya dan juga kinerjanya.

Akuisisi ACSET Indonusa

Sadar bahwa semua lini bisnisnya bergantung kepada komoditas, sedangkan prospek paling menjanjikan dari pemerintahan Jokowi-Jk adalah infrastruktur. Maka UNTR segera merespon dengan diversifikasi usaha ke bidang konstruksi infrastruktur dengan mengakuisisi Acset Indonusa, salah satu perusahaan kontraktor yang saat ini proyek terbarunya yaitu penyelesaian TCC Batavia dan proyek pembangunan Silo pabrik semen di Pontianak.

Akuisisi ACST dengan nilai cukup wajar membawa UNTR ke tahap selanjutnya dari sejarah perusahaan, walaupun..beberapa proyek ACST bukanlah tipe proyek besar yang nilainya di atas 500 milyar, namun kinerja ACST terus mengalami peningkatan baik revenue maupun laba bersihnya. Bukan hanya itu saja, ACST tercatat hanya memiliki DER sebesar 0.3x ekuitas. Satu-satunya PR UNTR adalah memperbaiki sisi free cash flow dari ACST yang selalu negatif dalam 2 tahun terakhir. Tapi toh...Astra Grup amatlah canggih soal masalah ini.

Langkah Investor

Lalu bagaimana sebaiknya? Penulis merekomendasikan anda untuk koleksi UNTR untuk jangka panjang, penulis sendiri pun tidak kuat melihat MOS UNTR yang sebesar itu setelah melihat kinerjanya yang sudah mulai meningkat dan mulai mengoleksi di harga 17,700 kemarin. Jika toh sahamnya turun terus, angka 17,000 akan menjadi bottom fishing pointnya sehingga strategi average down di sarankan secara bertahap untuk UNTR. Jika pada laporan tahunan nanti ternyata UNTR mengalami peningkatan laba total, maka jangan segan-segan untuk memborong sahamnya. Selanjutnya? keep till end and sleep well.

Hasil akhir analisa saham UNTR 

Salam Investasi
Read more →

2 Des 2014

Rule of Investing (Wajib Baca)

,

RULE OF INVESTING

Every investor should have preset rules to follow in their investment decisions. There is no perfect formula that will guarantee success as unforeseen variables can affect the performance of a stock and the overall market. However, there are general rules and considerations that can enhance probabilities of success. 

General Factors to consider before you invest:
·         Health of the Overall Market
·         Fundamentals of the Company   
·         Trend of the Stock (Basing, Advancing, Topping, Declining)
·         Technical Indicators        

Every investor should protect themselves with strict Buy and Sell Rules.
Adhere to those rules that make the most sense for your philosophy and be consistent in executing the decisions. Applying a methodology will help to manage the two most extreme emotions in the financial markets – greed and fear.  

It is vital to understand the market’s direction: 
Ø  You do not want to buy stocks when the averages are in a Bear (down) market.
Ø  You do not want to be in cash, or betting stocks will go down in price when the NASDAQ, S&P 500, Dow  and IHSG indexes are in a Bull (rising) market.

Most stocks follow the general market’s trend:
Ø  Stocks tend to rise when the NASDAQ, S&P 500, Dow and IHSG industrials move higher.
Ø  Stocks tend to fall when the major indexes trade lower.

 An Ideal Strategy is:
Ø  In a Bull Market, buy stocks as close to the pivot point as possible which are breaking out of solid bases on surging volume.
Ø  In a Bear Market, stay on the sideline in cash to avoid losses.
#1 RULE:  PRESERVATION OF CAPITAL: USE STOP LOSS PROTECTION:
Ø  Sell stocks that fall 7% - 8% below your cost.  NO EXCEPTIONS
Ø  There will be times this stop-loss rule will exit you from your position and the stock then turns around and takes-off to the upside. These situations are the price one pays to insure against severe losses. 
   
CREATE A WATCH LIST:
·    Create and maintain a watch list of stocks that are sound in fundamental and technical considerations. This is your Target List.
Ø  On a fundamental basis, these companies should be superior to their peers as they are leaders in their industry with unique products and/or superior services.
Ø  Identify the strongest sector and focus on the leading stocks within the sector.
Conversely, avoid laggard stocks in a leading industry group.
Ø  Focus on stocks that form sound bases and have successfully found support at the 50-day moving average.
Ø  Identify stocks that are close to the pivot point.
Ø  Identify stocks that trade close to their highs in a declining market, as they tend to do well when the market rallies. These stocks will typically be falling less than the major indexes.
Ø  Keep the list fresh, adding and removing stocks as warranted.


CONSIDERATIONS FOR BUYING
·         Buy stocks at the right time:
Ø  Wait for the market to be in an up-trend. A healthy market is one of the most important influences on any stock. A key sign of a healthy market is when high-quality stocks emerge from solid bases and advance to new highs on unusually heavy volume.
Ø     The ideal time to buy a stock is when it emerges from a sound base accompanied by heavy volume. Buy as close to the pivot point (ideal purchase price) as possible. Focus on buying high-quality leading stocks within the strongest sectors.
Ø       Add to your position by averaging up, not down. A key to successful investing is to buy a stock on the way up (which makes no sense to investors that are determined to purchase bargains). You want to buy stocks that prove at an early stage from their base that they have the power to move higher. 
   
·         Indicators that signal the stock might be headed for higher prices:
Ø  Trading ABOVE the 50-day moving average
Ø  Heavy Volume propels the stock price upward
Ø  Rising Relative Strength
Ø  Positive MACD (momentum indicator)
Ø  As the stock trends upward in a channel, volume should increase when the price rises, and volume should decrease when the price trends lower to test support.
Ø  When the stock successfully tests support levels within a channel rising upwards on heavy volume, each high is to be higher than previous high and each low to be a higher low than previous low.

 CONSIDERATIONS FOR SELLING
·         Sell stocks at the right time:
Ø  Uncertain market climates and Bear Markets are when you want to be on the sideline in cash to avoid losses.
Ø  Sell when your stock falls 7% - 8% (or less) below your purchase price.
§  Sell when the price falls below support levels.
§  Sell when a stock falls below the 50-day moving average (dMA) on heavy volume and fails to recover above the 50-day line. This is a warning that something may not be right with the stock.
§ Sell when a stock falls below the 200-day moving average (dMA). If you have not already sold the stock fell below the 50dMA, or 100dMA, this is the “get out now” warning.
Ø  Sell if a stock falls for several days and does not rally back.
Ø      Sell if a stock advances then falls sharply retracing gains of the rally.
Ø     Consider taking profit if the stock makes new highs in later stage bases. If the stock is in a third or fourth stage base, the potential for gains is not as great as the gains made in an earlier stage (first and second) stage. Advances in later stage bases usually experience greater volatility and impose greater risk than advances in early stage bases.
Ø  Consider taking partial profits at 10%, 15% or 20% appreciation depending on overall circumstances of the stocks history, sector strength and general health of the market.
Ø  Consider taking profit with 5% - 10% gains if at any time situations with the stock or overall market climate become uncertain adding potential risk to your gain.
 
·         Indicators that signal the stock might be headed for lower prices:
Ø  Trading BELOW the 50 day moving average
Ø  Heavy Volume propels the stock price down
Ø   Declining Relative Strength
Ø  Negative MACD (momentum indicator).
Ø  Decreasing volume on market rallies and increasing volume on price declines provides insight that there is less excitement of buying and greater selling pressure.
Ø  When the stock tests support levels within a channel and falls below the support line on heavy volume, it is a signal the stock may be heading lower. Further confirmation is a series of lower highs and lower lows in price. 


  GENERAL CONSIDERATIONS:


·        As the stock advances above your buy point, raise the floor of your stop-loss:
Ø       Do not allow gains to turn into losses.
Example: You bought the stock at $20.00 and have a 7% stop-loss set at $18.60.
Your stock rises to $24.00. Raise your stop-loss to $22.32. Continue to raise this floor as your stock rises.

·   Early stages of market rallies are when the most and easiest monies are made:
Ø  Leading stocks tend to emerge from their bases prior to laggards.
Ø  Late stage rallying stocks tend to have lower relative strength ratings.
Ø  Avoid investing aggressively in the later stages of market rallies as odds of a correction are rising. 
  
·         Identify leading sectors and focus your Target List on leading stocks within the sector:
 
Ø       Leading stocks will offer greater gains and less risk than the laggards.

 ·        Avoid low-volume breakouts:
Ø  A stock that advances above the pivot point on low volume does not have institutional backing and may be poised for further basing or potentially a price reversal.

·         Avoid buying extended stocks:
Ø       Stocks that have rallied 10 - 15% or more above their pivot point typically pullback.
- Wait for pullbacks to occur for entry opportunities in up-trending stocks.

·         Avoid adding more shares to your position in a stock that is declining:
Ø       Some investors believe that when a stock declines lower from the initial purchase price that it is a good deal as it is cheaper and a bargain. This concept is flawed, as the risk is undetermined. Minor losses can quickly snowball into severe losses.
  
·         Avoid “cheap stocks”: 
Ø  Focus on buying higher quality stocks selling at a minimum of $10 and higher.
Ø  A stock trading below $10.00 typically has low institutional participation and therefore provides for lighter volume and wild price swings.
Ø  A stock under $10.00 that is heavily institutionalized typically has fallen from higher levels to this juncture due to deterioration in fundamentals.
Ø  Stocks under $10.00 typically are in declining or basing patterns and the investor may have a long holding period. 
Ø  If you do consider to invest in a stock trading below $10.00, wait for the indicators to signal when the proper time to buy might be:
- Emerging from a sound base
- Trading close to the Pivot Point
- Heavy Volume accompanying the rise in price
- Trading Above the 50-dMA
- Rising Relative Strength
- Positive MACD momentum
- Positive fundamentals / news / earnings
- Strength of the sector in which the stock resides

·         Avoid using redundant indicators:
Example: MACD and stochastic oscillators both measure
momentum. 
Ø  Select indicators that measure different phenomena such as relative strength, momentum and trading volume. Use 1 indicator for each.   

·         Avoid emotional attachment to a stock:
Ø  You may like a product or service the company offers but “it is just a stock.”  It can help you gain or lose money.
Ø  Never allow human emotions to drive your buy and sell decisions.
Ø  Greed and Fear can destroy your portfolio.

·         Avoid Short-Selling:
Ø  Selling Short - means you sell shares borrowed from a broker as you are anticipating the stock will decline in price. Your goal is to buy the stock back at a lower level with the difference in price being your profit.  In a traditional buy and sell, you can only lose the amount of monies invested. If the stock goes to $0.00, your loss is limited the initial investment. With short-selling, the risk is unlimited. When the stock rises, you need to cover or “close the short” buying it back at a higher price. Climactic price gains in a stock driven by unforeseen factors / news stories can be devastating.
Ø  Short-Selling is part of the daily strategies within the markets and should only be applied by professional investors that can manage the associated risks.
  
·         Caution when a stock has failed to breakout on several attempts:
Ø  A stock that has surged above the pivot point on heavy volume and then pulls back to the pivot point in the same day is signaling “it is not the right time” as indicators may not be as positive as you would like them to be.


·        Caution when a stock and / or the overall market makes new highs on weak volume:
Ø  There is usually no problem when a stock edges higher for a few days on lighter volume. However, if a week or more passes with light volume up days, it suggests there is not much institutional demand for the stock.
  
·    Caution - climax runs usually are warning signals that the stock may be at a peak:
Ø  Institutional demand can drive the price up or institutions can sell shares to cause the stock to nose dive. When a stock has had a lengthy advance then suddenly spikes up 30% - 50% (or more) on heavy volume, the phrase “what goes up must come down” should be applied. You do not want to be buying in at the peak of what might be the top and final climax of the run.  
  
·       Caution when a stock advances and the sector does not confirm the move:
Ø  You might own a good performing stock within a sector but if the overall sector is weak or declining, the potential gains for your stock may be limited and the risk factor is higher. Ideally, you want to own the leading stock in an advancing sector. 


·         Caution when leaders in a sector begin to breakdown:
Ø  When the leaders in a sector begin to deteriorate in terms of price performance and technical indicator strength, it is likely the stock you own in that sector will likely do the same. Monitor carefully with stop-loss protection.

 ·   Caution when a stock makes new highs on lighter than average daily volume:
Ø  New highs on lighter volume signals the stock is having a tough time attracting new buyers.

·         View stock historical patterns that go back a number of years to see how the stock has rallied or sold off as it reached certain price levels:
Ø  Review a 3 - 5 year chart of a stock for the big picture insight to major support, resistance and trend channels of the stock. This provides for an understanding of the important, historical trends and key price levels.

·         Study past trades to analyze your winning and losing positions:
Ø  Take the time to understanding factors that contributed to wins and losses as this can help you to adjust future buy / sell strategies. There is a constant learning curve to the study of the market.

·         Do Not Chase News Headlines:
Ø  Instead of chasing news headlines or tips from friends, focus on solid growth stocks breaking out of sound bases. Identify sound chart patterns and stocks trending upward with institutional buying. 

·         Take An Investment Break:
Ø  When uncertain, stand aside. It is best to have a clear understanding of the mood, sentiment and overall health of the market prior to making an investment decision. 

·         Block Out Opinions Of Others:
Ø  Opinions are everywhere. If you let them change your mind, it will always be changing. Rely on sound strategies that identify defined buy / sell price points.  
   

REVIEW PAST TRADES TO IMPROVE PERFORMANCE:


There is no perfect formula that will guarantee successful investments all the time. However, you can be right on less than half your trades and still be a successful investor as long as you keep your losses small, let the winners ride and employ sound sell rules to secure profits.

Every investor makes mistakes. The key is to figure out where you went wrong, and then correct the bad habit. 

·         Learn From Your Mistakes:
Ø  Maintain a trading log of your investments.
Ø   After a few months, review past trades to see if you bought or sold at the right time.
Ø   Utilize charts to view the picture of the stock history identifying the buy & sell points.

 A few considerations to review of your trading activity:
1.    Did you sell a stock too early and then the stock advanced for huge gains?
2.    Did not implement a 7% - 8% stop-loss and the stock fell producing a large loss in your portfolio?
3.    Did you invest during a market downturn and experienced repeated losses?
4.    Did you miss sell signals and then see your profit in a stock evaporate?
5.    Did you buy below the pivot point and sold before the breakout?

As the above scenarios might be applicable to your portfolio, a few considerations to enhance future performance might be as follows:

1.  Hold the stock through mild corrections unless it presents clear sell signals or the market deteriorates.
2.    It is imperative to implement loss-cutting rules.
3.    Go to cash when the market flashes a series of selling days.
4.    Monitor your stock’s price & volume action daily for trouble signs.
5.    Wait until a stock clears its base before committing investment.

SUMMARY:

For many people, it seems prudent to believe that remaining invested through good and bad markets is a sound investment philosophy. This strategy can at times, bring tragic results. There are many bear markets that are not mild, and some are devastating for an investor that remains dedicated to the buy & hold philosophy. As discussed in this publication, the 4 stages of a stock cycle are BASING, ADVANCING, TOPPING and DECLINING. Hopefully, the knowledge gained from the material discussed in these chapters will enhance the investor to implement a flexible investment strategy where buys and sells are based upon the health of the market coupled with technical indicators as viewed on charts.

Regards,

Mike Hung
Batam Island

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel ini ditulis oleh seorang rekan pembaca: Mike Hung dari kepulauan Batam yang diambil dari salah satu milis saham terkenal. Kami sarankan untuk anda membacanya.

Dan bagi anda para pembaca yang ingin menyumbangkan tulisan tentang investasi saham dan juga investasi global, kami sangat mengapresiasi demi memperluas pengetahuan kita bersama di dunia saham.

Salam 
Read more →