7 Agu 2014

Analisa Saham Fundamental - Value Investing: Screening Saham

,
Screening saham disini mengacu kepada screening model bapaknya value investing; Benjamin Graham yang penulis modifikasi sesuai dengan gaya investasi penulis. So, cocok tidaknya pendekatan ini kembali ke anda. Berikut pendekatannya:

1. Sektor
Hindari saham sektor tertentu. Graham - dan juga Buffet menghindari sektor teknologi, sedangkan penulis menghindari sektor komoditas. Alasan Graham dan Buffet ialah mereka tidak begitu paham akan bisnis teknologi yang cepat muncul namun cepat pula berganti. Dengan alasan yang sama, penulis pun tidak begitu paham mengenai sektor komoditas (tambang, CPO dsb) karena harga komoditas selalu naik dan turun, tidak ada pedoman yang dapat digenggam. Tapi dalam waktu dekat penulis akan mulai mempelajari sektor sawit.

2. Revenue
Perusahaan dengan nilai revenue yang baik memberikan keamanan dari sisi resiko dan kestabilan didalam kinerja perusahaan. Dari ilmu Graham didapat bahwa pilihlah revenue minimal $50 juta atau setara $504 juta saat ini (hitungan kasar). Kita memakai patokan NYSE - New York Stock Exchange, saat ini kapitalisasi pasar rata-rata perusahaan di NYSE saat ini berkisar $15 milyar, dan di BEI saat ini berkisar $854 juta, sehingga didapat minimal revenue perusahaan yang tercatat di BEI = $854 juta /  $15 milyar x $504 juta, menjadi $28,21 juta atau setara 330 milyar rupiah dengan kurs 1 dollar = Rp. 11.700. So, pilihlah perusahaan dengan revenue tahunan lebih dari 330 milyar rupiah.

3. Current Ratio
Berguna untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan, dimana nilai total aset harus lebih besar daripada total hutang (jangka panjang dan jangka pendek). Rumus yang bisa digunakan adalah, Current Ratio = Current Asset / (Long Liabilities + Short Liabilities) ≥ 2.

4. Ratio Hutang dengan Ekuitas
Menandakan seberapa tinggi hutang jangka pendek dapat dilikuidasi oleh ekuitas perusahaan, biasanya di sebut DER. DER bagi penulis haruslah kurang dari 1, sebab hal itu menandakan ekuitas > hutang jangka pendek. Sehingga bisa menjadi jaminan resiko dengan lebih aman

Price Earning Ratio / PER
PER adalah perbandingan harga saham dengan laba bersih per saham. Semakin kecil PER maka semakin murah nilai saham nya. Dengan mengasumsikan rata-rata PER perusahaan di BI saat ini adalah 15, maka pilihlah perusahaan dengan nilai PER < 15 (angka PER sangat tidak mutlak, karena laba bersih tergantung juga dari aksi korporasi perusahaan terkait)

5. Price Book Value / PBV
PBV adalah perbandingan harga saham dengan nilai buku dimana nilai buku (book value) merupakan pembagian antara ekuitas (kekayaan/kepemilikan/modal) dengan jumlah saham yang di edarkan. Atau dengan kata lain PBV mewakili nilai kepemilikan suatu saham terhadap para pemegang saham. Untuk Value Investing sejati, pilihlah PBV yang dibawah 2x. 2x artinya nilai saham diperdagangkan 2 kali nilai ekuitasnya per saham. So, semakin kecil PBV maka semakin murah sahamnya. Penulis sendiri lebih suka melihat PBV ini, karena lebih simple dan logis.

6. Pertumbuhan laba
Pertumbuhan laba (Graham lebih suka melihat EPS, penulis lebih suka melihat laba bersih riil) dalam 5 tahun terakhir mencerminkan kinerja perusahaan tersebut secara nyata / riil. Sehingga dengan rumus CAGR (Compound Annual Growth Rate) atau perhitungan pertumbuhan laba yang diperhalus = 





Semakin besar CAGR maka semakin bagus perusahaan tumbuh. Untuk kategori value stock, penulis membuat kriteria memilih saham perusahaan dengan CAGR > 15.
Namun nilai CAGR ini bisa menipu karena mengabaikan volatilitas di dalam rentang waktu tersebut jika perusahaan ternyata hanya besar di laba tahun kelima saja, misal. Untuk itu, penulis menambahkan Averaging CAGR, yaitu rata-rata CAGR di tiap tiap tahun selama 5 tahun terakhir dengan AveCAGR > 15.

7. Dividen
Graham sangat menyukai perusahaan yang membayar dividen, begitu pun penulis. Karena dengan dividen penulis lebih merasa percaya kepada perusahaan dan pastinya ekuitas penulis meningkat secara cuma-cuma hanya dari pembagian dividen.
Walaupun saat ini tidak semua perusahaan membagikan dividen dengan alasan korporasi, namun sebagian besar perusahaan-perusahaan di BEI tetap setia dengan para pemegang sahamnya dengan pembagian dividen.

Tujuh kriteria diatas adalah kriteria Graham dengan sedikit improvisasi penulis sesuai dengan gaya penulis sendiri yang lebih menyukai pertumbuhan laba, revenue, manajemen, baru kemudian PER dan PBV nya. Kita akan melanjutkan dengan studi pada masing-masing saham yang menarik untuk disimak pada Menghitung Harga Wajar Saham dan Nilai Intrinsik

Salam Investasi
Read more →

3 Agu 2014

Analisa Saham Fundamental - Value Investing: Definisi Value Investing

,
Di dalam analisa saham fundamental, Value Investing adalah paradigma Investasi saham yang dikenalan oleh Benjamin Graham untuk memilih suatu saham yang di perdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Pengertian lebih lanjut adalah seberapa pantaskah sebuah perusahaan itu di hargai.

Konsep dasar Value Investing ialah mencari saham berfundamental bagus, harganya murah dan di bawah nilai instrinsiknya. Apa itu nilai instrinsik? Silahkan baca di Apa itu Nilai Instrinsik?. Sahamnya sendiri dikategori Value Stock.

Dari pengertiannya jelas nilai saham berkategori Value Stock adalah saham dengan kondisi perusahaan yang baik, memiliki fundamental yang baik, pertumbuhan yang baik dan yang terpenting memiliki prospek yang baik juga..Namun...harganya dibawah nilai intrinsiknya dengan sebab, Pertama saham tersebut belum banyak dilirik oleh Investor karena perusahaannya yang terbilang kecil atau menengah. Dan yang kedua, perusahaan tersebut sedang mengalami permasalahan ataupun penurunan laba akibat suatu hal sehingga laporan keuangannya tampak tidak bagus. Namun untuk kedua hal ini, cukup sulit menemukan saham yang belum dilirik untuk saat ini seiring makin maraknya konsep value investing ini di kenalkan. Sudah banyak sekali saham yang 'tersembunyi' sudah muncul dan dianalisa oleh para Investor.

5 Kosep Fundamental yang harus di pahami ialah,

1. Semua perusahaan memiliki nilai Intrinsik.
Strategi simpel yang dianut Value Investing ialah selalu membeli saham di saat harga sedang ter-diskon, istilah yang menggambarkan bahwa harga saham sedang diperdagangkan di bawah nilai Instrinsik atau nilai sebenarnya.

Katakanlah si A dan B sedang mencari rumah di Pondok Indah, harga rata-rata rumah di daerah tersebut adalah 10 milyar rupiah. Si A malas mencari rumah dan tergiur oleh rumah mewah yang telah jadi, Si A membeli rumah tersebur seharga 12 milyar. B yang lebih rajin mencari, akhirnya menemukan rumah 'berhantu' tak di rawat yang di hargai 60% nilai pasar atau 3 milyar rupiah. Setelah B menyelidiki rumah tersebut ternyata hanya 'hantu' hanya berupa rumor dan si B bukan tipe penakut maka si B memutuskan membeli rumah tersebut di harga 4 milyar tadi. Rumah 'hantu' tersebur direnovasi oleh si B dengan biaya 3 milyar, total modal yang si B habiskan sebesar 7 milyar. Dari  kasus tersebut si B telah menganut prinsip Value Investing

2. Selalu melihat Margin of Safety
Margin of Safety adalah hal utama yang dicari dari suatu saham, seperti analogi rumah Pondok Indah tersebut, total pengeluaran si B ialah 5 milyar sehingga si B telah melakukan tindakan safety dalam hal harga beli sebesar 50% (rumah si A seharga 10 milyar) hanya karena rumor 'hantu' tadi. 2 tahun kemudian tentulah rumah tersebut sudah tampak normal tak berhantu dan si B dapat menjual kembali di harga yang sama dengan harga pasaran di daerah tersebut.

Di waktu yang sama jika si A menjual rumahnya seharga 15 milyar, maka keuntungan yang dia dapat sebesar 25%. Namun jika si B yang menjual rumah tersebut dengan harga yang sama, maka keuntungan si B sebesar 114%!!. Persentase selisih harga beli dengan nilai instrinsik nya itulah yang disebut Margin of Safety

3. Tidak mempercayai analisa pasar kebanyakan
Penulis sendiri menyadari bahwa analisa pasar kebanyakan selalu muncul setelah kenaikan atau penurunan nilai saham itu terjadi, entah seminggu atau bahkan sebulan. Analisa pasar menurut penulis sendiri lebih cocok untuk menggambarkan kondisi atau prosepek perusahaan yang bergerak dalam bidang komoditas, karena harga komoditas dipengaruhi harga global, baik luar negeri maupun dalam negeri sendiri sehingga berita harga komoditas global selalu muncul lebih dahulu di media ketimbang berita perusahaan itu sendiri.

4. Tidak mengikuti Trend
Coba anda googling atau baca majalah Investor, cari informasi kapan perusahaan Saratoga melakukan akuisisi terhadap Tower Bersama Infrastruktur? atau kapan Gita Wirjawan mulai masuk ke saham Bumi Resources? jawabannya satu, ketika saham jatuh dan tidak berharga. Ketika saham terjatuh disitulah nilai saham tersebut menjadi sangat murah. Ratio terhadap laba persaham (PER) menjadi semakin kecil. Hanya tinggal memastikan apakah perusahaan tersebut tetap mempunyai prospek atau tidak. Strategi tersebut dinamakan contantrian.

So, bagaimana dengan kita? dengan konsep yang sama yang perlu kita lakukan adalah mencari  saham yang sedang terkoreksi harganya namun tetap dengan fundamental yang baik. Dan itu pasti terjadi di setiap saham.


5. Cerdas dan Sabar
Investor dengan kategori Value Investing adalah investor yang cerdas  dan cermat dalam mencari saham-saham dengan fundamental yang bagus serta rajin membaca terutama laporan keuangan. Dan setelah menemukannya yang kemudiandilakukan ialah bersabar.

Setiap Value Investor adalah Investor yang sabar, bahkan sangat sabar karena tidak mungkin membeli saham seharga Rp. 300 kemudian menjual di harga Rp. 3000 dalam satu malam! Investor membutuhkan waktu 3-5 tahun hingga saham tersebut benar-benar memberikan imbal hasil yang cukup baik.

Lalu setelah 5 hal diatas bisa dipahami, apa yang selanjutnya yang anda perlukan untuk dapat memilih saham-saham tersebut? Lanjut Baca ke Value Investing: Screening Saham untuk lebih lanjut.

Salam Invest!
Penulis
   



Read more →

1 Agu 2014

Melihat Long Life Investor, siapa saja?

,
Mungkin sebagian besar dari kita yang berprofesi ataupun memiliki sampingan sebagai Investor di bidang saham selalu melihat Warren Buffet atau gurunya Benjamin Graham, lalu Peter Lynch sebagai platform baku Investor yang sukses. Nah, sekarang saatnya kita coba melihat beberapa Investor yang beraliran Value Investing sebagai penambah wacana kita.

Howard Marks

Howard Marks adalah Chairman dari Oaktree Capital Grup dengan aset kelolaan US$76 milyar. Setiap saat, ia menulis dalam investment memos di Oaktree dan wajib dibaca bagi Anda para investment professionals. Ia juga pengarang buku “The most important thing: uncommon sensefor the thoughtful investor”.

“The biggest investing errors come not from factors that are informational or analytical, but from those that are psychological”

Mungkin dari kebanyakan investor yang sedikit memikirkan bahwa investasi itu bersifat psikologis. Mereka hanya menghabiskan waktu mengutak-atik spreadsheet atau melihat laporan keuangan dari sedikit sudut pandang.

Beberapa investor disetir oleh perilaku pasar. Investor panic saat harga saham mengalami penurunan tajam, dan secara emosional menjual sahamnya secara membabi buta, begitupun sebaliknya ketika pasar berada dalam tren naik. Investor yang dapat mengelola emosinya, yang rasional, akan mampu memilih best bargain stocks.

John Templeton

John Templeton dikenal sebagai pioneer dalam industri reksa dana di US. Pada saat Great Depression, Templeton memutuskan untuk membeli 100 lembar setiap saham di NYSE yang diperdagangkan pada harga di bawah 1 dollar (ada 104 perusahaan pada 1939 yang dijual di bawah 1 dollar), dan akhirnya menghasilkan untung berlipat ketika pasar saham menguat setelah Perang Dunia 2. Pada 1999, majalah Money menyebut Templeton “the greatest global stock picker of the century”.

“Focus on value because most investors focus on outlooks and trends. You must be a fundamentalist to be really successful in the market”

Sebagian besar investor melihat pada proyeksi pertumbuhan ekonomi (GDP) tahun depan, tingkat pengangguran, dan tren suku bunga, Templeton fokus pada fundamental perusahaan. Jika ia dapat membeli perusahaan senilai 1 dollar dengan harga 70 sen, dia tidak perlu tahu lebih jauh untuk memutuskan untuk membeli saham tersebut.

Seth Klarman

Klarman adalah founder dari Baupost Group, private investment partnership. Bukunya yang berjudul “Margin of safety” sudah tidak diproduksi lagi dan diharga US$1000 di eBay.

“Once you adopt a value-investment strategy, any other investment behavior starts to seem like gambling”

Jika Anda melakukan pembelian pada saham yang populer pada tahun ini, atau saham yang diperkirakan menjadi primadona pada tahun depan, dan melihat prospek kenaikan bisnis sektor saham tersebut, maka itu adalah pendekatan yang membuat beberapa investor menjadi milyuner. Milyuner yang terekam pada Forbes 400 diisi oleh investor yang meraup untung ketika membeli saham di bawah nilai intrinsik bisnisnya.

Salam
Penulis
Read more →